Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Minta referendum, mahasiswa Tolikara ‘makamkan’ otsus

papua-otsus-demo-mahasiswa-tolikara
Ritual ‘pemakaman’ Otsus Papua yang dilakukan mahasiswa Tolikara pada demo menolak otomoni khusus (otsus) untuk Papua dan Papua Barat, yang digelar di Asrama Mahasiswa Tolikara di Kampung Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura-Papua, Rabu (29/7/2020) - Jubi/Yuliana Lantipo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Empat pemuda Papua berjalan sambil memikul peti jenasah “almarhum otsus”, diikuti puluhan hingga ratusan mahasiswa Tolikara serta simpatisan dalam demo menolak perpanjangan otonomi khusus (otsus), baik di Provinsi Papua maupun Papua Barat, di halaman Asrama Mahasiswa Tolikara, Kota Jayapura-Papua, Kamis [29/7/2020]. Selain peti, setumpuk uang rupiah dalam semua pecahan diiris dan ikut dikuburkan, sebagai simbol penolakan terhadap otsus.

Sambil meneriakan yel-yel: Otsus gagal, Papua referendum, peti otsus dikubur di halaman asrama yang terletak di Kelurahan Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura tersebut.

“Otsus sudah gagal. Hari ini, kita kembalikan kepada [pemerintah Indonesia di] Jakarta. Gara-gara otsus dan uang ini, orang Papua mati banyak,” kata Timiles Yoman, salah seorang mahasiswa Tolikara yang berorasi.

Minta referendum, mahasiswa Tolikara 'makamkan' otsus 1 i Papua

Demo membawa peti jenasah “otsus” yang dilakoni mahasiswa Tolikara ini merupakan simbol penolakan orang asli Papua terhadap otsus, seperti yang telah dilakukan puluhan ribu orang asli Papua pada 2011 di Kota Jayapura, Papua.

Otsus Papua
Aksi mahasiswa dan simpatisan dalam demo menolak perpanjangan Otsus Papua – Jubi/Yuliana Lantipo

Yoman, yang sudah duduk di bangku sekolah dasar sejak otsus diberlakukan, tidak dapat menjelaskan manfaat apapun yang diterima selama implementasi otsus sejak 2001 hingga hari ini, dirinya menjadi mahasiswa. Ia mengkritisi fasilitas pendidikan yang tidak membaik.

Bukan hanya fasilitas pendidikan yang layak. Yoman juga mengaku, orangtuanya harus membayar sendiri semua biaya pendidikan maupun biaya lain untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.

“Dari segi pendidikan, kita selalu hanya menerima janji palsu. Tidak nampak fasilitas dari pemerintah. Sampai sekarang juga, kita berdiri di sini, [itu karena] usaha sendiri. Orangtua kami sendiri yang membiayai kami. Kami bisa kuliah dan kami bisa sukses sendiri. Oleh pemerintah Indonsia tidak ada. Jaminan pendidikan dari otsus itu palsu yang diberikan kepada mahasiswa,” ungkap Yoman.

Loading...
;

Baca juga: Otsus Jilid I bargainingnya Papua merdeka, Otsus Jilid II perundingan dengan ULMWP

Baca juga: Eksekutif ULMWP dukung petisi tolak otsus

Hal senada disampaikan Dilera Towolom. Mahasiswi asal Tolikara ini mengaku keberhasilannya hingga menempuh pendidikan di salah satu universitas di Kota Jayapura semata-mata karena kerja keras orangtunya dari hasil berkebun.

“Biaya pendidikan semua dari hasil kebun orangtua kami yang kami rasakan. Sementara untuk dana pendidikan di otsus yang kita dengar bunyi besar itu, sama sekali kita tidak rasakan untuk membantu kami,” ucapnya.

Towolom juga menyoroti bagaimana perempuan asli Papua, khususnya mereka yang berkebun dan berdagang sebagai mata pencaharian, seolah tidak menerima manfaat dari segi peningkatan ekonomi OAP melalui dana otsus.

Otsus Papua
Aksi mahasiswa dan simpatisan dalam demo menolak perpanjangan Otsus Papua – Jubi/Yuliana

“Sejak otsus lahir, sebagaian besar wanita tidak merasakan manfaat otsus ini. Tidak ada kesejahteraan. Kebanyakan perempuan Papua itu kehidupannya hanya dengan berjualan pinang atau hasil berkebun. Seharusnya kita bisa lebih makmur, tapi pemerintah Indonesia yang ada di Papua seolah-olah hanya memanfaatkan kami,” ketusnya.

Otsus sudah almarhum

Selain pendidikan, mahasiswa Tolikara juga menyoroti dampak-dampak lain yang timbul selama masa otsus di Tanah Papua, seperti pelanggaran HAM dan kematian orang asli Papua yang hampir tidak pernah dibawah ke meja pengadilan.

“Kami tegas menolak otsus. Kami rakyat Papua bukan butuh pembangunan [infrastruktur], karena otsus, banyak orang Papua yang terbunuh, mati, dikejar-kejar. Karena itu, kami rakyat Tolikara dan seluruh rakyat West Papua, berkomitmen, kami tolak otsus. Bagi kami, Otsus sudah almarhum,” lagi kata Timiles Yoman.

Koordinator aksi, Meiles Togolom, meminta Pemerintah Provinsi Papua hingga seluruh kepala daerah di Tanah Papua untuk mendengar aspirasi rakyat Papua.

“Pemerintah tidak bisa paksakan rakyat ikut pemerintah. Karena negara ada karena rakyat. Pemerintah ada karena rakyat. Jadi, kita menolak karena, visi dan misi otsus ini, kami tidak pernah rasakan. Nyatanya, apa yang terjadi di Papua? Kita semua bisa lihat. Jadi, negara tidak bisa paksa orang Papua ikut Indonesia. [Yang] kami mau [adalah] menentukan nasib sendiri melalui referendum,” tegasnya. [*]

Editor: Dewi Wulandari

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top