Follow our news chanel

Previous
Next

Pandemi Covid-19, omzet penjualan pangan lokal tergerus

papua-pangan-lokal
Seorang penjual pangan lokal di Pasar Hamadi sedang melayani pembeli - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dua orang penjual pangan lokal (singkong, ubi, keladi) di Pasar Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, saling bertatapan sambil menunggu pembeli.

Sesekali mereka bercanda untuk mengusir rasa suntuk karena sepi pembeli. Tumpukan ubi dan singkong yang per tumpuk dihargai mulai dari Rp50 ribu untuk ukuran besar, ukuran sedang dijual Rp30 ribu, dan paling murah Rp10 ribu, tertata rapi diatas lapak berukuran 2×3 meter.

Satu karung ubi misalnya, sebelum pandemi Covid-19 dibeli Rp500 ribu dari petani di Arso, Genyem, dan Koya. Kini sekarung ubi bisa didapatkan hanya bermodal Rp150 ribu. Meski begitu, tidak berarti keuntungan yang diperoleh para pedagang bertambah.

Lagi-lagi penjual pangan lokal ini mengeluh soal pembeli. Bila sebelum pandemi Covid-19, dalam sehari bisa menjual hingga tiga karung, kini untuk menjual habis satu karung butuh waktu selama tiga hari.

“Mari belanja Mas, mau beli singkong atau ubi,” tanya seorang penjual pangan lokal sambil bangkit dari tempat duduknya ketika dihampiri Jubi untuk diwawancara, Sabtu (12/9/2020).

Fatimah namanya, meski awalnya menunjukkan ekspresi sedikit kecewa, namun setiap pertanyaan selalu dijawabnya.

Fatimah bertutur penghasilannya selama pandemi Covid-19 merosot drastis. Dagangannya lebih banyak yang dibuang dibandingkan yang laku terjual.

Loading...
;

“Biar dijual murah tetap sepi pembeli. Mau bagaimana lagi, duduk sambil jaga-jaga saja daripada duduk di rumah tidak dapat uang sama sekali. Kalau sekarang paling banyak lakunya Rp300 ribu, kalau dulu sebelum korona ini ada saya bisa dapat Rp2 juta. Satu karung untungnya bisa sampai Rp300 ribu,” ujar Fatimah.

Baca juga: Pendapatan daerah anjlok selama pandemi

Pedagang pangan lokal lainnya, Hendrik, mengaku penjualannya juga menurun drastis selama pandemi Covid-19. Namun ia tidak bisa berbuat banyak selain terus berjualan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

“Kalau sudah dibuang pasti rugi Mas, tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pekerjaan lain. Sehari-hari saya hanya makan dari uang jualan saja. Kalau ada pekerjaan lain yang lebih menjanjikan saya mau cari pekerjaan lain saja. Nanti (kalo kondisis sudah kembali) normal, baru saya jualan lagi,” ujar Hendrik.

Lebih jauh, laki-laki asal Buton, Sulawesi Tenggara, yang sudah berumur 30 tahun ini, terpaksa menarik gerobak bial siang hari saat sepi pembeli untuk menambah uang makan dan ongkos taxi balik ke rumahnya di APO, Kota Jayapura, Papua.

“Lumayan juga hasilnya buat tambah-tambah. Jualan singkong dan ubi sekarang sepi pembeli. Satu karung ubi saya beli Rp500 ribu. Setelah dijual baru kembali modal setelah empat hari habis terjual. Ada untungnya Rp50 ribu, biasanya sampai Rp350 ribu,” ujar Hendrik. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top