Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Orangtua berperan kembangkan literasi anak di masa pembelajaran daring

papua-anak-sekolah-belajar-di-rumah
Seorang siswa kelas IV SD Negeri Inpres Skyline Jayapura-Papua sedang belajar di rumah - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Peran orangtua sangat penting dalam mengembangkan literasi. Pendidikan literasi ini harus diperbanyak kepada anak-anak di rumah agar anak tidak hanya memahami pendidikan formal. Literasi juga dapat membantu mereka dalam pembinaan moral.

“Saya sangat berharap agar orangtua dapat memberikan pemahaman tentang literasi kepada anak. Sebab anak-anak ini mempunyai waktu kosong yang banyak di rumah. Ini peluang untuk orangtua memberikan penguatan literasi kepada anak,” kata Sekretaris Komunitas Sastra Papua (Ko’SaPa), Alexander Giyai, kepada Jubi melalui sambungan telepon seluler, di Kota Jayapura-Papua, Selasa (28/7/2020).

Giyai mengatakan sebelum pandemi Covid-19, anak lebih banyak mendapatkan pelajaran di sekolah. Sekarang, anak-anak lebih banyak tinggal di rumah bersama orangtua.

Orangtua berperan kembangkan literasi anak di masa pembelajaran daring 1 i Papua

“Sehingga menurut saya alangkah baiknya orangtua membekali anak juga dengan literasi di rumah mereka masing-masing agar literasi ini mengimbangi pendidikan formal yang didapatkannya di sekolah melalui pembelajaran daring,” katanya.

Baca juga: Update 27 Juli: Sudah ada 307 tenaga kesehatan di Papua terinfeksi korona

Giyai berpesan kepada orangtua untuk menghindarkan anak terlalu banyak bersentuhan dengan gadget. Kecenderungan anak bermain gadget di rumah akan memberikan dampak buruk dalam perkembangan anak itu sendiri.

“Perlunya pengawasan dari guru ke asrama-asrama. Jangan sampai ada anak-anak yang kemudian tidak mendapatkan hak pendidikannya. Sebab kami khawatir apabila anak-anak tidak mendapatkan pendidikan (yang maksimal) di masa pandemi (Covid-19) ini,” katanya.

Loading...
;

Giyai menyambut positif adanya banyak gerakan komunitas sekolah-sekolah alternatif yang muncul yang menyediakan ruang bagi anak-anak untuk bisa mendapatkan pendidikan yang layak.

“Saya melihat banyak sekali komunitas untuk gerakan yang bermunculan ini bukan tanda-tanda tapi ini karena suatu kesadaran ancaman terhadap pendidikan anak-anak sehingga pemerintah tidak boleh diam melihat gerakan-gerakan yang bermunculan ini,” katanya.

Giyai mengatakan gerakan-gerakan ini akan menutup ruang-ruang kosong bagi anak-anak untuk tetap mendapatkan pendidikan.

“Selain pendidikan formal dan pendidikan dari orangtua tetapi juga pendidikan dari gerakan komunitas maupun sekolah-sekolah alternatif yang didirikan ini. Sehingga pemerintah perlu menyediakan buku-buku bacaan alternatif kepada generasi muda ini,” katanya.

Baca juga: Pembelajaran daring hanya menguntungkan “keluarga kaya”

Pendiri Gerakan Papua Mengajar (GPM), Agus Kadepa, mengatakan untuk teknis sekolah- sekolah non-formal ini akan di-setting sebagaimana rupa agar anak-anak ini bisa mendapatkan pendidikan.

“Kami tetap mematuhi protokol (kesehatan seperti yang sudah disampaikan) pemerintah. Kami juga akan membuat kelas jarak 1 meter agar anak-anak tetap mengikuti protokol (kesehatan) dalam proses belajar mengajar di sekolah alternatif,” katanya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top