Follow our news chanel

Previous
Next

Pegiat HAM: Bupati Nduga tak pernah nyatakan korban penembakan adalah OPM

Ilustrasi pengungsi Nduga. -Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Makassar, Jubi – Pegiat Hak Asasi Manusia atau HAM Papua di wilayah Pegunungan Tengah, Theo Hesegem mengatakan Bupati Nduga, Yarius Gwijangge tak pernah menyatakan dua orang yang tewas ditembak di Kenyam pertengahan Juli 2020 lalu, merupakan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang oleh aparat keamanan disebut sebagai kelompok kriminal bersenjata (KKB).

Ia mengatakan pernyataan itu disampaikan Bupati Nduga, saat bertemu dengannya beberapa waktu lalu.

“Setelah saya ketemu bupati, bupati sendiri menyatakan tidak pernah mengeluarkan pernyataan itu. Itu hanya dikarang,” kata Theo Hesegem melalui panggilan teleponnya, Selasa (1/9/2020).

Menurut Hesegem, dari penjelasan bupati kepadanya, pascakejadian bupati bertemu pihak TNI yang bertugas di sana.

Mereka menunjukkan beberapa foto kegiatan kelompok bersenjata pimpinan Egianus Kogoya. Bupati kemudian menyatakan dia akan menemui warga yang saat itu berunjuk rasa memprotes penembakan tersebut.

“TNI menyatakan mereka adalah OPM dan [TNI] mengeluarkan pernyataan [melalui siaran pers yang menyebut] bupati juga menyatakan keduanya adalah OPM,” ujarnya.

Penembakan yang menewaskan ayah dan anak di Nduga terjadi pada 18 Juli 2020. Korban Elias Karunggu (34 tahun) bersama anaknya, Selu Karunggu (20 tahun) tewas ditembak Satgas Pamtas Yonif PR 330/TD karena dituduh merupakan bagian dari kelompok bersenjata di wilayah itu.

Loading...
;

TNI menyebut, saat itu keduanya baru saja melakukan transaksi penyerahan pistol. Aparat keamanan mengklaim menemukan barang bukti di antaranya, satu jenis revolver, polse milik prajurit TNI yang  dirampas sebulan sebelumnya, dua tas, parang, kampak, dan uang tunai Rp 9.520.000.

Hesegem menyayangkan penembakan yang menewaskan korban. Katanya, jika keduanya diduga membawa senjata saat itu, mestinya mereka ditangkap untuk diproses hukum. Kalau pun melakukan perlawanan, dapat dilumpuhkan. Bukan dengan ditembak hingga tewas.

“Kalau mau mengungkap persembunyian kelompok bersenjata di Nduga, kenapa kedua warga itu mesti ditembak hingga tewas. Ini tindakan yang tidak terukur dan tidak profesional. Sama saja mengaburkan persoalan,” ucapnya.

Akhir Juli 2020, Bupati Nduga, Yarius Gwijangge dalam rilis persnya kepada media kala itu juga membantah mengeluarkan pernyataan jika kedua korban adalah anggoya KKB.

“Kedua korban adalah warga sipil. Saya tidak menyatakan mereka anggota TPN/OPM,” kata Yarius Gwijangge.

Menurut Gwijangge, ia mengenal kedua korban karena sering membantu ayah mertuanya di Distrik Mugi.

Sementara, Kapen Kogabwilhan Kolonel Czi Gusti Nyoman saat dikonfirmasi media ketika itu tak ingin menanggapi bantahan Bupati Nduga.

Menurutnya, masalah tersebut telah selesai. Ketika itu bupati sendiri yang menyatakan di depan warga Nduga.

“Untuk apa berdebat. Sudah ngomong itu di depan umum. Ada rekamannya, ada fotonya, ada videonya,” kata Gusti Nyoman kala itu. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top