Follow our news chanel

Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

papua covid-19 umkm
Mama Imelda pelaku usaha mikro (penjual sarang semut) di Jayapuramelayani pesananan melalui media sosial menggunakan gawai - Jubi/Theo Kelen.

Pelaku usaha mikro di Papua harus melek digital di masa pandemi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dosen Akuntansi Universitas Cenderawasih Kurniawan Patma, SE, MAk mengatakan di masa pandemi Covid-19 dan era digitalisasi di bidang bisnis, pelaku usaha mikro diharuskan melek digital.

Pelaku mikro kalau tidak melek digital akan tertinggal, ditambah lagi ada pandemi begini,” ujarnya kepada Jubi di Abepura, Senin (26/10/2020).

Melek digital, kata Kurnia, merupakan suatu kebutuhan dalam pemasaran bisnis di era digitalisasi. Karena itu perlu dilakukan pendampingan terkait literasi digital kepada pelaku usaha mikro di Jayapura., Papua.

“Waktu itu kami minta mahasiswa turun lakukan pendampingan,” katanya.

Kurnia mengatakan dalam memperkenalkan literasi digital atau edukasi penggunaan teknologi dalam pemasaran bisnis memakai pendekatan yang berbeda kepada masing-masing kategori pelaku usaha mikro.

Ada kategori mereka yang sudah mampu mengoperasikan teknologi penggunaan media untuk pemasaran bisnis dan ada kategori yang mempunyai handphone android tapi belum mengetahui aplikasi yang mereka gunakan.

Mereka kemudian diperkenalkan dan direkomendasikan untuk dibuatkan market pleace dalam bentuk Facebook.

Loading...
;

“Kita kemudian  juga membantu memasarkan produk-produk mereka dan membuat poster digital agar bisa diposting di market palace yang sudah dibuatkan,” katanya.

Menurut Kurnia dibutuhkan dua sampai tiga kali pendampingan hingga mereka benar-benar mandiri dan bisa mengoperasikan media yang digunakan untuk memasarkan produk mereka.

“Ada media sosial seperti Facebook dan Instragram, juga ada platform digital seperti Tokopedia, Bukalapak, dan Ziapik milik Bank Indonesia,” ujarnya.

Selain dua kategori, ada lagi pelaku usaha kategori ketiga yang menurut Kurnia sangat susah dilakukan, yakni pelaku UMKM yang tidak punya handphone android dan praktis tidak bisa atau belum mengetahui media yang bisa mereka gunakan  untuk pemasaran.

Untuk kategori ketiga tersebut harus dilakukan pendekatan yang lebih besar dan dalam.

Ia mengatakan, ada beberapa kelompok mahasiswa yang kemudian harus meluangkan waktu untuk memberikan pelatihan dan sosialisasi terkait penggunaan media sosial tersebut.

Para pelaku UMKM tersebut tidak bisa dilepas begitu saja. Beberapa akun mereka masih dioperasikan dan dibantu pemasarannya oleh mahasiswa Akuntansi Uncen. Jika ada pesanan, mahasiswa yang menghubungi pelaku UMKM melalui telepon atau langsung menuju ke tempat jualannya.

“Satu hari setelah mereka posting di Fb ada yang order langsung untuk sarang semut dan ukiran asmat,” ujarnya.

Walaupun kadang terkendala biaya pengiriman yang besar ke luar Papua , menurutnya bisa menjadi cerminan bahwa penggunaan media digital untuk pemasaran lebih efektif dibandingkan dengan pemasaran konvensional.

Kurnia berharap ada bantuan dari pemerintah terkait pengadaan handphone android bagi pelaku usaha mikro yang belum mempunyai handphone atau tidak melek digital.

“Saat ini mahasiswa masih memegang akun mereka untuk membantu memasarkan dan melakukan kampanye digital untuk mereka,” katanya.

Penjual sarang semut di Jayapura, Papua, Mama Imelda, yang pernah didampingi mahasiswa Akuntansi Uncen mengaku memanfaatkan media sosial Facebook untuk memasarkan produknya di masa pandemi Covid-19 ini.

Sejak itu ada peningkatan penjualan dalam seminggu minimal empat pesanan dan sebulan ada pesanan empat dari luar Papua, seperti dari Medan, Lampung, Surabaya, dan Magelang.

“Cuma di masa korona ini pesanan dari luar menurun karena harga jasa pengiriman semakin tinggi,” ujarnya.

Imelda menggunakan media sosial yang dioperasikannya sendiri. Tapi terkadang masih dibantu melalui akun media yang dibuatkan mahasiswa Uncen.

“Ada mahasiswa yang masih pakai, kalau ada yang tanya-tanya produk, mereka akan informasikan ke Mama,” katanya.

Ia mengaku pelatihan yang diberikan mahasiswa terkait pencatatan transaksi sangat bermanfaat untuk mencatat pengeluaran dan pemasukan jualannya.

“Sampai saat ini saya masih pakai, supaya saya bisa tahu berapa pengeluaran dan pendapatan yang saya peroleh,” ujarnya.

Imelda menyarankan literasi digitial perlu diadakan lagi, karena dengan adanya pelatihan semakin membuat dirinya mahir berjualan melalui media sosial.

“Biar jualan makin terkenal dan banyak orang yang tahu lagi tentang jualan sarang semut,” katanya.

Ia berharap ada perhatian dari pemerintah agar dibuatkan tempat jualan sehingga tidak menimbulkan kesalahanpahaman di antara pedagang.

“Ini kan terkadang kami rebutan tempat jualan, jadi kalau bisa buatkan meja yang serasi biar rapi dan diberikan payung untuk jualan,” ujarnya.

Perajin ukiran Asmat, Yuven Temet mengatakan masih menitipkan hasil ukiran di toko asesoris di Hamadi, Jayapura, Papua.

“Kami biasa jualan di Hamadi ukuran 2 meter itu harganya Rp200 ribu, tapi kalau pesanan dari hotel bisa sampai Rp1 juta,” ujarnya.

Ia mengaku telah dibuatkan akun media sosial untuk jualan online oleh mahasiswa. Tapi karena masih kurang paham ia belum mengoperasikannya sendiri.

“Kami mau orang yang benar-benar paham barang itu, datang duduk bersama kami dan ajarkan kami sampai mengerti,” ujarnya.(CR-7)

Editor: Syofiardi

Scroll to Top