Follow our news chanel

Previous
Next

Pembukaan lahan baru di Kota Jayapura makin marak

papua-pembukaa-lahan-baru-kota-jayapura
Lahan yang baru dibuka oleh warga di sepanjang jalan Pantai Holtekamp, Kota Jayapura, Papua - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pembukaan lahan baru di Kota Jayapura semakin marak seiring bertambahnya jumlah penduduk di ibukota Provinsi Papua ini. Saat ini tercatat 422.063 jiwa bermukim dan mencari penghidupan di Kota Jayapura.

Seorang warga Kota Jayapura, Alfred, mengaku sangat prihatin dengan banyaknya lahan yang baru dibuka, dimana pembukaan laha ini akan mengancam keberlangsungan lingkungan. Apalagi lahan-lahan baru tersebut dibuka tepat di kawasan wisata Pantai Holtekamp, Distrik Muara Tami.

Menurut Alfred, mahasiswa Universitas Cenderawasih semester V, pembangunan yang saat ini menyasar kawasan Distrik Muara Tami bukan hanya mengorbankan ekosistem alam tapi juga keberlangsungkan hidup hewan menjadi terancam.

“Harus ada pengawasan dari pemerintah sehingga lingkungan tetap terjaga dan ekonomi juga tetap jalan. Soalnya kalau tandus ketersediaan air berkurang dan pasti cuaca panas,” ujar Alfred di Pantai Holtrkamp, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua, Sabtu (12/9/2020).

Saat ditemui Jubi ketika sedang menikmati keindagan alam di Teluk Youtefa, Alfred berharap kepada masyarakat untuk tidak membuka lahan sembarangan, apalagi di lahan yang banyak ditumbuhi pohon sagu. Dengan tidak membuka lahan baru di kebun sagu, pangan lokal ini keberadaanya akan tetap terjaga.

Baca juga: Pembangunan di Teluk Youtefa berdampak pada ekosistem dan lingkungan

Menanggapi itu, Sekretaris Daerah Kota Jayapura, Frans Pekey, mengatakan Pemerintah Kota Jayapura-Papua tidak setuju bila ada warga yang membuka lahan baru bahkan dilarang bila tidak memiliki izin.

Loading...
;

Apalagi untuk dijadikan lahan pertanian baru di kawasan permukiman penduduk. Bila ingin membangun, kata Pekey, masyarakat harus memiliki izin mendirikan bangunan (IMB).

Bila pembukaan lahan baru, baik untuk pertanian atau bangunan, pada suatu areal atau lahan sangat rawan, tidak akan diberikan izin, sebab bila hutan menjadi gundul bisa menyebabkan longsor dan banjir, atau debit air menurun.

“Kami sudah sosialisasi dan tanam papan pemberitahuan, tapi itu diabaikan (masyarakat) bahkan ada petugas yang turun menertibkan, warga menolak dan melawan,” ujar Pekey.

Pekey berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga alam agar bisa memberikan kehidupan seperti oksigen, menjaga ketersediaan air, dan terhindar dari bencana banjir dan longsor.

“Mari lestarikan hutan kita supaya tidak kritis, hutan tetap lestari, dan alam tetap berdamai dengan kita. Kalau kita ganggu alam maka bencana pasti kita sendiri yang rasakan,” ujar Pekey.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura-Papua, Ni Nyoman Sri Antari, mengatakan pembukaan lahan baru selain berdampak pada perubahan lingkungan tapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, seperti gangguan pernapasan akibat asap hasil pembakaran lahan.

Selain itu, perubahan penggunaan lahan juga berdampak terhadap munculnya penyakit zoonotik atau penyakit yang berasal dari hewan, karena 60 persen penyakit menular pada manusia berasal dari hewan, termaksud SARS, ebola, dan malaria.

“Penggunaan lahan hutan menjadi nonhutan atau deforestasi memang memerlukan pendekatan dan kerja sama multisektor untuk menemukan solusi yang menyeluruh dan efektif sehingga hutan tidak kritis akibat ulah dari manusia,” ujar Antari. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top