Follow our news chanel

Previous
Next

Permintaan sayur turun, petani kurangi produksi

papua-petani-sayur-kota-jayapura
Petani sayur di Jalan Baru Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura sedang menyirami tanaman sayurannya - Jubi/Ramah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Turunnya daya beli masyarakat karena pandemi Covid-19, ternyata berpengaruh juga pada produksi pertanian. Petani yang selalu menggantungkan hidup pada melimpahnya hasil produksi dan penjualan yang lancar, terpaksa harus mengurangi produksi

Seperti yang dialami Rizal, seorang petani sayur di Jalan Baru Pasar Youtefa, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua. Selama pandemi Covid-19, produksi pertanian menurun drastis akibat sepinya permintaan pasar.

Bila dalam kondisi normal, Rizal bisa tersenyum memanem sayur kangkung dan sawi dari lahan seluas 12 bedeng. Kini ia hanya memanen antara 5-6 bedeng sehari. Faktor lain yang menyebabkan menurunkan produksi karena musim kemarau yang berlangsung sejak Januari 2020.

Sekali panen bisa menghasilkan 500 ikat sayur kangkung, dengan estimasi Rp4.000 satu ikat, Rizal bisa meraup omzet jutaan rupiah. Kini penghasilannya hanya tersisa paling banyak Rp500 ribu sekali panen.

“Sangat menurun pembeli sehingga kami kurangi menanam karena kalau dijual kami juga rugi tidak ada pembeli. Rugi tenaga dan biaya produksi,” ujar Rizal kepada Jubi, Sabtu (12/9/2020).

Meski demikian, Rizal tidak bisa berpangku tangan hanya karena permintaan sayuran menurun. Ia selalu menggarap lahannya walau tidak seberapa asal ada penghasilan sehingga bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangganya.

Dengan kondisi yang dialami, bapak satu anak ini tdak bisa berbuat banyak selain berharap daya beli masyarakat kembali naik sehingga ia bisa menambah produksi pada lahan yang disewanya satu bedeng Rp50 ribu setiap bulan.

Loading...
;

Baca juga: Pandemi Covid-19, omzet penjualan pangan lokal tergerus

Senada yang disampaikan Rizal, hal yang sama juga dialami Marcelina. Warga Toraja yang sudah 10 tahun menjadi petani sayuran ini mengaku sering mengalami kerugian, namun tidak sampai harus menguras isi tabungan untuk biaya produksi.

Sekali produksi untuk tujuh bedeng tanaman sayurnya, Marcelina membutuhkan biaya hingga Rp450 ribu hingga Rp500 ribu untuk membeli bibit kangkung, sawi, kol, dan pupuk. Sekali panen paling banyak ia bisa menghasilkan Rp2 juta.

“Sekarang sepi pembeli (pedagang sayuran), biasanya paling banyak langsung ke lahan, tapi sekarang sepi. Kalau masih ada sisa diantar langsung ke pasar. Harapan saya, ya bisa kembali normal lagi, kasian juga kalau setiap kali mau menanam harus ambil uang tabungan,” ujar Marcelina.

Pantauan Jubi di Pasar Hamadi, sejumlah pedagang sayuran juga mengeluhkan hal yang sama, yaitu sepinya pembeli. Bila hari normal atau sebelum pandemic Covid-19, pedagang bisa mengantongi keuntungan hingga Rp1 juta dalam sehari. Namun saat ini, bisa mendapatkan uang Rp100 ribu saja sudah bersyukur.

Marcelina mengatakan banyak sayur tinggal busuk, dibuang, bahkan diberikan kepada peternak. Biaya untuk membeli es batu (untuk mengawetkan sayur) tidak bisa ditutup dari penjualan. Belum lagi uang makan dan ongkos taksi yang mendatangkan barang setelah dibeli dari petani di Abepura.

“Sampai sekarang penjualan masih belum stabil. Satu ikat saya jual Rp5 ribu, kalau beli sama petani Rp5 ribu tapi ikatannya besar sampai pasar saya bagi tiga ikat,” ujar seorang penjual sayur di Pasar Hamadi, Kota Jayapura-Papua, Siska Pekey. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top