Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Tanggapan seorang pastor terhadap pernyataan Paguyuban Nusantara

Papua-tragedi Paniai berdarah
Korban dan keluarga korban Paniai Berdarah 2014 akibat keberingasan militer di Tanah Papua - Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh: RP Paul Tumayang Tangdilintin OFM

Setelah membaca dan mencermati  berita dengan judul “Minta 7 tersangka kasus kerusuhan di Papua jangan dibebaskan tanpa syarat”, yang dikeluarkan oleh Paguyuban Nusantara–atau lebih tepatnya mengatasnamakan kerukunan paguyuban Nusantara–yang dimuat harian Cenderawasih Pos (Cepos), Rabu, 17 Juni 2020, hlm 9, maka sebagai seorang pastor (gembala) yang sudah puluhan tahun hidup dan berkarya di Tanah Papua, kami merasa  terdorong, bahkan terpanggil untuk memberi tanggapan terhadap pernyataan tersebut. Tanggapan kami ini pertama-tama bukan bertujuan untuk semakin menambah kisruh suasana atau membela kelompok tertentu dan mempersalahkan kelompok lain, tetapi terlebih karena dilatarbelakangi oleh panggilan kami sebagai orang gembala yang telah kenyang dengan pengalaman menggembalakan umat di Tanah Papua.

Saya pernah melayani umat di Paroki St. Fransiskus Asisi Epouto (Paniai), Paroki St. Clara Taja-Bonggo (Kabupaten Jayapura), Paroki St. Antonius Padua Bade (Mappi), Paroki St. Stefanus Sempan Timika (Mimika), Paroki Bunda Maria Pike (Jayawijaya ), dan sekarang di Paroki St. Petrus dan Paulus Argapura (Kota Jayapura).

Tanggapan seorang pastor terhadap pernyataan Paguyuban Nusantara 1 i Papua

Dalam rentang waktu sejak kami mulai terjun dalam karya pelayanan sebagai seorang pastor (1996 sampai sekarang), kami menjadi saksi hidup atas sejumlah kasus “perselisihan” yang melibatkan kelompok-kelompok yang diakibatkan oleh kurang bijaksananya para pemimpin dalam mengambil atau menyikapi suatu persoalan.

Kami sendiri bahkan sebagai pastor paroki beberapa kali harus “terlibat” untuk meredakan suasana.

Tanggapan kami atas pernyataan  yang mengatasnamakan kerukunan Paguyuban Nusantara di Provinsi Papua ini,  tidaklah mewakili organisasi tertentu, tidak mewakili kelompok tertentu atau masyarakat tertentu, tetapi mewakili pribadi sebagai seorang gembala yang selalu mengumandangkan nilai-nilai Injil seperti, damai, saling menghargai, saling mengasihi, bersaudara, saling menghormati, dan lain-lain.

Oleh karena itu kami beri judul tulisan ini ‘Tanggapan seorang Pastor Terhadap Pernyataan  Kerukunan Paguyuban Nusantara”.

Loading...
;

Berikut kami sampaikan tanggapan pribadi atas pernyataan kerukunan Paguyuban Nusantara yang dimuat di harian Cepos tadi.

Pertama, sebagai seorang pemimpin atau tokoh entah karena dipilih atau diakui oleh suatu kelompok masyarakat/paguyuban atau organisasi lainnya, hendaknya bersikap bijaksana dalam menyampaikan sebuah pernyataan.

Apalagi kalau pernyataan itu mengatasnamakan suatu kelompok/paguyuban tertentu. Di atas pundak tokoh-tokoh ini ditaruh beban yang sangat berat, yang menyangkut banyak aspek dalam kehidupan kelompok/paguyuban yang dipimpinnya.

Tidak bijaksana dalam menyikapi suatu persoalan dapat membawa hal yang merugikan, bukan hanya pribadi/keluarga, kelompok masyarakat/paguyuban yang dipimpinnya, melainkan juga dapat  mengganggu keharmonisan hidup di tanah Papua yang selama ini sudah berjalan dengan sangat baik;

Kedua, melihat tokoh-tokoh yang bertanda tangan dalam surat pernyataan tersebut, yang mengatasnamakan kerukunan paguyuban Nusantara di Provinsi Papua, saya mempertanyakan kapasitasnya untuk membuat pernyataan atas nama kerukunan Paguyuban Nusantara  di Provinsi Papua.

Alasan keraguan saya adalah 1), Provinsi Papua terdiri dari 28 kabupaten dan 1 kota.

Apakah kalian sudah berkoordinasi dengan semua paguyuban yang ada di kabupaten/kota di Provinsi Papua sebelum mengeluarkan pernyataan? Suka atau tidak suka, pernyataan kalian itu akan berdampak dalam hidup mereka juga; 2) Saya juga mempertanyakan kapasitas kalian berbicara atas nama kerukunan Paguyuban Nusantara di Provinsi Papua, karena yang bertanda tangan dalam surat pernyataan itu , hanya segelintir orang dari paguyuban tertentu saja, dan tidak semua  paguyuban di Provinsi Papua, bahkan sekalipun itu hanya sekadar paguyuban-paguyuban di Kota Jayapura terlibat dalam pertemuan tersebut atau ikut menandatangani surat pernyataan tersebut.

Dengan demikian, legalitas dari pernyataan kalian patut dipertanyakan dengan sunguh-sungguh;

Ketiga, dengan membuat dikotomi kerukunan Paguyuban Nusantara dan OAP (orang asli Papua), maka sadar atau tidak sadar kalian telah membenarkan bahwa OAP bukan bagian dari Nusantara (Indonesia).

Maka secara tidak langsung kalian telah membahayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sejauh yang saya ingat ketika saya mengikuti penataran P4 tahun 1988 dijelaskan oleh Manggala, bahwa wawasan Nusantara itu meliputi dari Sabang sampai Merauke.  Lalu mengapa kalian membuat dikotomi Paguyuban Nusantara-OAP?

Keempat, saya telah berada di Papua sejak tahun 1974, ketika saya baru berusia 6 tahun. Saya menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Kota Serui.

Setelah tamat SMA Negeri 417 Serui tahun 1987, saya ke Jayapura untuk melanjutkan pendidikan sebagai seorang calon pastor di Jayapura, tepatnya di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Fajar Timur Abepura.

Seluruh rangkaian proses pendidikan sebagai seorang calon pastor, termasuk ketika memilih bergabung dalam Ordo Saudara Dina (OFM), saya tempuh di Jayapura, Papua.

Tahun 1996 saya mulai bertugas sebagai seorang petugas pastoral di Paroki St. Fransiskus Asisi Epouto dan sampai saat ini masih berkutat dalam dunia pelayanan pastoral parokial, tapi jujur harus saya katakan bahwa baru tahun 2019 ketika terjadi kerusuhan di Jayapura, khususnya waktu ada aksi balasan dari kelompok yang menamakan dirinya sebagai kelompok Nusantara, barulah saat itu saya tahu bahwa ada kelompok yang namanya kerukunan Paguyuban Nusantara.

Kapan dibentuk dan siapa yang bentuk saya tidak pernah tahu dan dengar. Tapi tiba-tiba pasca kerusuhan September 2019 nama kelompok ini terdengar;

Kelima, pepatah nenek moyang kita mengatakan “dimana bumi dipijak di situ langit dijunjung”,  yang kalau saya tidak salah, peribahasa ini memiliki makna, kita harus mengikuti/menghormati adat-istiadat di mana kita hidup.

Maka sebagai orang-orang yang datang merantau dan mencari hidup di Tanah Papua sudah selayaknya kita harus menghormati atau menghargai tatanan hidup yang ada di Tanah Papua, termasuk di dalamnya kebudayaan serta kearifan lokal Papua.

Contoh salah satu kearifan lokal yang saya petik dari orang Papua adalah ungkapan yang mengatakan, “ko manusia saya manusia”.

Ungkapan ini mau mengatakan bahwa kita ini sama-sama manusia. Maka mari kita saling menghargai dan menghormati.

Tapi suka tidak suka kita harus mengakui dengan jujur bahwa terkadang kita malah berlaku seakan-akan kitalah yang harus dihormati. Atau dengan kata lain, kalau saya rumuskan secara gamblang kita harus tahu diri kita berada dan hidup di mana;

Keenam, untuk mengerti dan memahami apa yang terjadi di Tanah Papua ini, maka kita harus mempelajari, mengerti dan memahami kondisi psikologis orang asli Papua sejak bergabung dengan NKRI sampai saat ini.

Karena itu, belajar sejarah proses integrasi yang dikenal dengan nama Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) secara jujur dan objektif, maupun belajar budaya-budaya lokal Papua dimana kita hidup, sangat perlu agar kita bisa memahami kondisi psikologis orang asli Papua yang sebenarnya, dan bukan hanya menggunakan kaca mata kuda untuk memberi penilaian;

Ketujuh, meskipun demikian, sebagai seorang pastor, saya setuju dengan pernyataan poin satu yang mengatakan: “Mengutuk keras segala tindakan penganiayaan, pengrusakan, dan kekerasan, seolah-olah nyawa tidak ada artinya dan ini tidak dibenarkan, baik secara hukum, maupun agama, apapun sudah bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan”.

Namun, persetujuan saya ini mesti dijelaskan, saya setuju bilamana pernyataan poin satu ini ditujukan kepada semua pelaku kekerasan, siapapun dia, termasuk pelaku kekerasan terhadap OAP.

Akan sangat terpuji kalau kelompok kerukunan Paguyuban Nusantara juga bersatu padu menyuarakan ketidakadilan yang menimpa saudara-saudara OAP seperti kasus-kasus pelanggaran HAM yang sampai saat ini tidak ada satu pun yang dibereskan, dan bukan hanya mengutuk atau bersuara keras kalau merugikan kelompok kerukunan Paguyuban Nusantara.

Apa yang terjadi saat ini tidaklah lepas dari apa yang sudah terjadi serta dialami oleh OAP sejak bergabung dalam NKRI.

Maka tentu akan sangat terpuji bahkan akan diakui serta dikenang sepanjang masa kalau Kerukunan Paguyuban Nusantara Bersatu padu bersama saudara-saudara OAP sebagai pemilik tanah ini, untuk mendorong dan memperjuangkan agar semua kasus tragedi kemanusiaan yang terjadi di Tanah Papua yang menimpa siapapun yang hidup di atas tanah ini, diselesaikan dengan seadil-adilnya.

Atau beranikah kerukunan Paguyuban Nusantara Bersatu padu menyuarakan agar dialog Papua-Jakarta yang setara seperti Dialog Jakarta-GAM  bisa juga bisa terlaksana?

Kedelapan, mari kita hidup rukun, damai, saling mengasihi, serta saling menghormati di atas tanah ini. Mari kita sadar diri bahwa kita ada dan berada di mana.

Mohon maaf apabila tanggapan saya ini mungkin kurang berkenan di hati.  Semoga Tuhan selalu menjaga kita semua umat Allah yang hidup di Tanah Papua ini, tanpa memandang suku, agama, ras, dan lain-lain.

Barangsiapa yang hidup dan bekerja di atas tanah ini dengan jujur, maka akan mengalami suatu tanda heran yang satu  ke tanda heran yang lain. (*)

Penulis adalah Pastor Paroki St. Petrus dan Paulus Argapura, Jayapura

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top