Follow our news chanel

Previous
Next

Pihak keluarga ingin tim independen usut penembakan ayah dan anak di Nduga

Papua
Ilustrasi Masyarakat Nduga pada hari Minggu (19/7/2020) seharian menduduki jalan ke Bandara Keneyam menuntut jenazah Selu dan Elias Karunggu dimakamkan di ujung bandara Keneyam - Dok. Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Makassar, Jubi – Pegiat Hak Asasi Manusia atau HAM Papua di wilayah Pegunungan Tengah, Theo Hesegem mengatakan, keluarga korban meminta pembentukan tim independen, mengusut penembakan terhadap ayah dan anak di Kabupaten Nduga pada 18 Juli 2020.

Penembakan yang menewaskan Elias Karunggu (34 tahun) dan anaknya, Selu Karunggu (20 tahun) oleh Satgas Pamtas Yonif PR 330/TD terjadi di Distrik Kenyam, ibu kota Nduga. Kedua korban dituduh merupakan bagian dari kelompok bersenjata di wilayah itu.

“Keluarga meminta dibentuk tim independen [menyelidiki dan] melakukan olah tempat kejadian perkara, karena hingga kini belum dilakukan” kata Theo Hesegem melalui panggilan teleponnya, Selasa (1/9/2020).

Menurut Hesegem, pihaknya sudah menyurati Komnas HAM perwakilan Papua, Pangdam XVII/Cendewasih, dan Kapolda Papua agar membentuk tim, dan memastikan penegakan hukum.

“Siapa pun yang bersalah, mesti diproses hukum. Penembakan terhadap dua orang itu bisa dikategorikan pembunuhan kilat,” ujarnya.

Katanya, ia pernah hendak menemui pihak Satgas Pamtas Yonif PR 330/TD. Akan tetapi ditolak, dengan alasan mesti ada izin.

“Kalau situasinya begini terus akan sulit. Terkait pasukan non organik dari luar ini, kami sulit berkomunikasi dengan Pangdam dan Kapolda karena izinnya dari pusat. Bukan dibawah komando langsung Pangdam dan Kapolda,” ucapnya.

Loading...
;

Ia menilai ada kejanggalan dalam dugaan keterlibatan kedua korban dengan kelompok bersenjata di wilayah itu.

Misalnya, sejumlah barang bukti yang diamankan pihak TNI, di antaranya pistol dan telepon genggam, dua pekan setelah kejadian barulah diserahkan ke polisi.

Belum lama ini, Amnesti Internasional Indonesia kedua warga itu melanggar hak hidup korban. Tergolong pembunuhan tidak sah, sehingga perlu investigasi indepen yang menyeluruh atas kasus itu.

Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid mengatakan, penembakan terhadap Elias Karunggu dan Selu Karunggu di Kampung Masanggorak, Kenyam, Nduga menunjukkan negara memang kerap bertindak represif di Papua.

“Kedua warga yang merupakan ayah dan anak itu tewas. Itu adalah tindakan yang tak terukur, brutal dan melanggar hak hidup mereka. Itu tergolong ke dalam jenis pembunuhan yang tidak sah [atau] unlawful killing. Kami mendesak adanya investigasi segera, menyeluruh, independen, transparan dan tidak berpihak,” kata Usman saat itu.

Katanya, TNI telah menyatakan bantahannya secara terbuka, membantah informasi bahwa kedua korban adalah warga biasa.

Dengan demikian, tidak bisa lagi mengharapkan adanya penyelidikan internal TNI atas kasus penembakan itu.

“Harus ada investigasi independen dan menyeluruh untuk mengungkap kasus penembakan itu, dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM adalah pihak yang paling tepat untuk melakukan investigasi itu,” ujarnya.

Usman menyatakan TNI harus membuktikan klaim status kedua korban itu dalam investigasi yang independen.

Bahkan jika benar keduanya anggota kelompok bersenjata, ada prinsip yang harus dipenuhi untuk bisa melakukan penembakan. (*)

Editor: Edho Sinaga

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top