Pledoi PH ungkap dugaan penyiksaan yang dialami Ivan Sambom

Ilustrasi pengadilan Papua
Foto ilustrasi - pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dalam sidang pembacaan nota pembelaan perkara dugaan kepemilikan senjata api ilegal terdakwa Indius alias Ivan Sambom di Pengadilan Negeri Jakarta Utara pada Rabu (3/3/2021), tim penasehat hukum mengungkap dugaan penyiksaan yang dialami Ivan Sambom. Ivan Sambom dipukuli dan dipaksa mengaku di mana ia menyembunyikan peluru yang dituduhkan kepadanya.

Hal itu disampaikan Mersi Waromi SH, advokat dari Perkumpulan Advokat Hak Asasi Manusia atau PAHAM Papua, selaku penasehat hukum Ivan Sambom. “Dari rumahnya di Jalan Trans Nabire Timika, Indius Sambom dibawa keluar dekat kali T. Kepalanya dimasukan di karung, lalu dipukul pakai kayu hingga berdarah-darah dan kayunya patah,” ujar Waromi kepada Jubi pada Jumat (5/3/2021).

Perkara hukum Indius alias Ivan Sambom itu bermula dari kasus penembakan yang terjadi di Kantor PT Freeport Indonesia, Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua, pada 30 Maret 2020. Peristiwa itu menewaskan seorang warga Selandia Baru bernama Graeme Thomas Wall. Selain itu, ada dua warga negara Indonesia yang terluka.

Baca juga: Penasehat hukum meminta Ivan Sambom diputus bebas

Pada 9 April 2020, Satuan Tugas Nemangkawi menangkap Ivan Sambom di rumahnya yang terletak di Kampung Iwaka, Mimika. Ivan Sambom ditangkap dengan tuduhan memiliki, menyimpan, atau menyembunyikan senjata api atau amunisi lainnya. Pada 27 Oktober 2020, ia menjalani sidang pembacaan dakwaan di Pengadilan Negeri Jakarta Utara, dan didakwa melanggar ketentuan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat No 12 Tahun 1951  tentang Senjata Api dan Bahan Peledak.

Pada 25 Februari 2021 lalu, Jaksa Penuntut Umum membacakan tuntutannya, dan meminta majelis hakim menyatakan Ivan Sambom dinyatakan bersalah menguasai senjata api secara tidak sah. Jaksa Penuntut Umum meminta Majelis Hakim menjatuhkan vonis tiga tahun penjara bagi Ivan Sambom.

Atas tuntutan itu PAHAM Papua menyampaikan nota pembelaan yang menyatakan persidangan telah gagal membuktikan bahwa Ivan Sambom memiliki senjata api yang dituduhkan kepadanya. Pledoi PAHAM Papua juga membeberkan dugaan penyiksaan yang dialami Ivan Sambom berlanjut di markas Brimob Mile 32 Kabupaten Mimika, Papua.

Loading...
;

Baca juga: PAHAM Papua pertanyakan pemindahan lokasi sidang Indius Sambom dkk

Ivan Sambom terus dipaksa mengakui lokasi penyimpanan peluru yang tidak pernah dimilikinya. “Sambom disiksa, dipukuli secara terus menerus dengan rontan. Kakinya dirantai dan diborgol, [ditanyai] ‘ko taruh peluru dimana?’ Hal itu berlangsung setiap hari, kecuali hari Minggu,” ujar Waromi.

Direktur PAHAM Papua, Gustav Kawer mengatakan pertanyaan “ko taru peluru dimana” tidak mungkin dijawab Ivan Sambom, karena kliennya itu memang tidak memiliki senjata api maupun peluru. “Kalau ditanya punya peluru, tidak ada saksi yang melihat itu. Kita buktikan itu dalam persidangan,” kata Gustav.

PAHAM Papua selaku penasehat hukum Ivan Sambom meminta kliennya dibebaskan, karena tidak terbukti memiliki senjata api ilegal. “Bertumpu kepada paparan kondisi obyektif yang terungkap dalam persidangan yang dialami terdakwa Indius Sambom alias Ivan, kami berkesimpulan bahwa terdakwa tidak melakukan dugaan tindak pidana. Kami mohon kepada majelis hakim yang memimpin persidangan itu untuk memutus bebas Indius Sambom,” kata Kawer. (*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top