Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

CSTS: Progres fisik LNG Tangguh Train III sudah 80 persen

papua-CSTS-berita-acara
Berita acara pertemuan antara ex pekerja, Disnaker Bintuni, dan perwakilan perusahaan – Jubi/Dokumen CSTS

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Media Relations Chiyoda Saipem Triparta SAE (CSTS), Muhammad Fajar Shodik, menyatakan bahwa pengakhiran hubungan kerja ratusan pekerja lokal di LNG Tangguh Bintuni-Papua Barat, beberapa waktu lalu, karena progres fisik project LNG Tangguh Train III sudah mencapai 80 persen dan karena adanya pandemi Covid-19.

Relokasi/demobilisasi/dirumahkan/pengakhiran hubungan kerja terhadap pekerja akan terus berlangsung sesuai dengan progres penyelesaian atau kebutuhan project.

Hal ini disampaikan Fajar Shodiq sebagai klarifikasi atas pemberitaan Jubi pada tanggal 22 Juli 2020, yang berjudul Ratusan pekerja lokal LNG Tangguh Bintuni dipecat lewat ‘pesan seluler’.

CSTS: Progres fisik LNG Tangguh Train III sudah 80 persen 1 i Papua

“Sebelum berita tersebut ditulis, pada tanggal 17 Juli 2020, kami telah dilakukan pertemuan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Teluk Bintuni, Komisi B DPRD Kabupaten Teluk Bintuni, KNPI Teluk Bintuni, perwakilan perusahaan, serta perwakilan pekerja yang difasilitasi oleh Sekretariat Kabupaten Teluk Bintuni. Pertemuan dilaksanakan dilaksanakan di Gedung Sasana Karya Kantor Bupati Bintuni,” jelas Fajar Shodiq, seperti tertuang rilis yang diterima Jubi, di Jayapura-Papua, Jumat (24/7/2020).

Dalam pertemuan tersebut, kata Fajar Shodiq, ada beberapa kesepakatan antara ex pekerja dengan pihak perusahaan subcon, antara lain :

(1) Akibat Covid-19 dan progres fisik project LNG Tangguh Train III sudah mencapai 80 %, sehingga terjadi relokasi/demobilisasi/dirumahkan/pengakhiran hubungan kerja terhadap pekerja project LNG Tangguh Train III. Proses demobilisasi dan mobilisasi tenaga kerja akan terus berlangsung sesuai dengan progress penyelesaian/kebutuhan project.

(2) Hak-hak Ex Pekerja LNG Tangguh direlokasi/Demobilisasi/dirumahkan/pengakhiran hubungan kerja, dibayarkan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Subcontractor juga berkewajiban melaporkan proses pembayaran tersebut ke Disnaker Kabupaten Teluk Bintuni.

Loading...
;

(3) Bagi pekerja yang tidak hadir pada pertemuan tersebut, hak-haknya akan diselesaikan oleh subcontractor yang mempekerjakan mereka secara daring melalui WA/Telp.  Setelah proses penyelesaian segala kewajiban, perusahaan subcontractor berkewajiban melaporkan proses tersebut ke Disnaker Kabupaten Teluk Bintuni.

“Dalam pertemuan tersebut, perwakilan ex pekerja telah menyetujui hasil kesepakatan bersama, yang salah satunya isinya adalah agar perusahaan Subcon CSTS memberikan informasi dan menyelesaikan hak-hak para pekerja yang tidak hadir dalam pertemuan tersebut melalui komunikasi WA atau telpon,” jelas Fajar Shodiq.

Fajar Shodiq mengatakan dengan adanya pandemi Covid-19, setiap wilayah atau institusi diwajibkan menerapkan regulasi untuk membatasi atau mengatur mobilisasi orang keluar dan masuk ke suatu wilayah, bahkan hingga tingkat kampung, termasuk menghentikan atau menunda segala bentuk kegiatan pertemuan yang memungkinkan terjadinya kontak atau penyebaran virus.

Hal ini merujuk kepada protokol Covid-19. Mengingat komunikasi dengan pekerja harus tetap dilakukan untuk urusan apapun, termasuk penyelesaian hubungan kerja, maka CSTS selaku kontraktor utama proyek Tangguh Train III beserta Subkontraktor, berkewajiban untuk tetap berkomunikasi kepada pekerjanya melalui telepon atau daring/internet sehingga pekerja mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya.

Baca juga: Ratusan pekerja lokal LNG Tangguh Bintuni dipecat lewat ‘pesan seluler’

Sebelumnya diberitakan, ratusan tenaga kerja asli Papua mendesak pihak CSTS (Chiyoda Saipem Triparta SAE) selaku sub kontraktor perekrut tenaga kerja di LNG Tangguh, Bintuni, Papua Barat memberikan kepastian terkait nasib mereka pasca di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) tanpa penjelasan.

Perwakilan pekerja asli Papua korban PHK, Frans Asyerem, membeberkan kekesalannya atas perlakuan CSTS yang diduga telah memberikan janji palsu terkait nasib ratusan pekerja. Frans mengungkap bahwa awal pandemi Covid-19, mereka dijanjikan oleh pihak HRD perusahaan bahwa tidak akan ada pemecatan. Namun setelah dilakukan medical check-up, mereka diputuskan hubungan kerja secara sepihak hanya melalui ‘pesan singkat’.

“Sebelumnya kita dijanji bahwa kita hanya dirumahkan sementara karena adanya pandemi. Belakangan, kami terima pesan singkat lewat telepon seluler kalau kami sudah dipecat,” ujarnya, dalam sebuah pertemuan dengan Pemda Teluk Bintuni, Senin (20/7/2020) lalu.

Frans mempertanyakan rencana perekrutan tenaga kerja non-skilled maupun soft skilled dari luar Teluk Bintuni maupun luar Papua, yang hendak dilakukan oleh CSTS [sub kontraktor LNG Tangguh]. Hal ini, kata Frans, sangat disayangkan karena pekerja lokal asal Bintuni tidak diprioritaskan oleh CSTS dan LNG Tangguh dalam perekrutan.

“Kami hanya minta diberikan kesempatan untuk kerja. Ini negeri kami,” tuturnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top