Follow our news chanel

Rakyat Meepago tolak otsus dan minta merdeka

papua-aksi-rakyat-meepago
Rakyat Meepago yang melakukan aksi di Dogiyai karena RDP MRP tak dilaksanakan, Selasa (17/11/2020) - Egedy untuk Jubi

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Masyarakat asli Papua dari wilayah adat Meepago menyatakan dengan tegas menolak Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus (Otsus) dan minta kemerdekaan penuh bagi West Papua.

Pernyataan tegas itu disampaikan koordinator rakyat Papua wilayah Meepago, Goo Benny, di depan sekitar 2000 orang yang datang menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) di lapangan Theo Makai Mowanemani, Dogiyai, Selasa (17/11/2020).

“Kami nyatakan dengan tegas menolak Otsus dan minta kemerdekaan penuh bagi West Papua,” ujar Goo, melalui ponselnya kepada Jubi.

Walaupun Majelis Rakyat Papua (MRP) tak melaksanakan rapat dengar pendapat, namun pihaknya menyampaikan sikap bahwa Otsus merupakan jalan menuju kepunahan terbesar bagi orang asli Papua (OAP), terutama kaum muda.

“Otsus itu bukan otonomi kasus di Tanah Papua, bahkan juga otonomi racun. Di era otsus, ratusan ribu orang Papua telah menjadi korban jiwa,” katanya.

Goo Benny dalam orasi politik dan penyampaian sikap memaparkan aneka kegagalan otsus. Menurutnya, dari 79 pasal dalam Undang-Undang Otsus tahun 2001 yang terlaksana, hanya 1 peraturan, yakni pembembentukan MRP. Walaupun demikian, MRP sendiri telah menjadi seperti ‘serigala ompong yang berwajah ganas’ karena ekornya masih dipegang Jakarta. Untuk 78 pasal lainnya, otsus benar-benar gagal total.

Menurut Goo Benny, karena otsus sudah gagal total, sesuai dengan delegasi kabupaten lain, otsus diberhentikan (ditolak) dan sekaligus produk hukum otsus dicabut dari Jakarta. Sebaliknya, negara Indonesia harus berani memberikan dan mengakui kemerdekaan penuh atas bangsa Papua.

Loading...
;

Dalam aksi ini, rakyat wilayah Meepago merasa disatukan atau tersatukan dan sekaligus merasa kuat dalam perjuangan untuk merebut kemerdekaan bangsa Papua. Di mana hampir seluruh aksi kali ini diwarnai dengan keinginan rakyat Meepago untuk merdeka. Keinginan merdeka dari bangsa Indonesia terungkap dalam kata-kata (orasi) juga demo, keceriaan, dan harapan yang tampak di wajah para pendemo.

Ia mengatakan semangat aksi ini dipatahkan oleh Asosiasi Bupati Meepago yang tidak mengizinkan digelarnya RDP di Dogiyai dengan menyurati MRP agar tak laksanakan RDP. Tetapi semangat rakyat Meepago mematahkan kembali pembatasan bupati, sebab aksi RDP dihadiri ribuan massa.

“Pada akhirnya karena otsus sudah gagal, rakyat Meepago minta Jakarta mencabut produk UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otsus dan meminta merdeka penuh bagi rakyat bangsa Papua,” ungkapnya.

Baca juga: RDP DAP sepakat tolak Otsus dan pilih menentukan nasib sendiri

Diakon Aleks Pigai, mewakili tokoh agama Meepago, mengeluhkan keberpihakan gereja atas situasi riil di Papua. Terlebih, Vatikan Roma dan KWI yang masih masa bodoh dengan penderitaan rakyat Papua.

“Karena itu, kami meminta Tuhan sendiri dan tanah sebagai mama bertindak mengakhiri semua isak tangis, duka derita, dan kecemasan rakyat dengan memberikan kemerdekaan,” ujarnya.

Ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Dogiyai, Saugas Goo, sangat menyangkan sikap Bupati Dogiyai melalui Asosiasi Bupati Meepago dan MRP yang tidak hadir, bahkan membatasi ruang untuk mendengarkan pendapat rakyat.

“Jadi kekuatan kemerdekaan ada di tangan rakyat, bukan di tangan pemerintah daerah,” ujar Goo. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top