Follow our news chanel

Previous
Next

Rusia disebut punya obat anti Covid-19

Ilustrasi konsumsi Obat - Pexels.com.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Negara Rusia disebut punya obat anti Covid-19  sendiri yang saat ini sedang dalam tahap pengembangan. Meski tidak dijelaskan lebih detail mengenai obat yang dimaksud, namunhal itu dibuktikan dengan angka kematian akibat virus corona di negara itu rendah.

“Kami memiliki obat-obatan kami sendiri dan obat-obatan baru ini telah dikembangkan. Dan saya juga akan mengatakan bahwa kami sedang mengerjakan vaksin untuk (mencegah) Covid-19,” kata Duta Besar Rusia di Indonesia, Lyudmila Vorobieva, Rabu (8/7/2020).

Baca juga :Dua pekan lagi WHO dapatkan hasil awal uji coba obat Covid-19

Obat HIV ternyata tak berkhasiat untuk penyembuhan pasien Covid-19

Produsen obat China targetkan produksi 200 juta dosis vaksin Covid-19

Tercatat saat ini Rusia memiliki 700.792 kasus Covid-19 dan 10.667 kematian. Sebagai perbandingan, Spanyol yang memiliki angka infeksi jauh lebih rendah dengan 299.210, namun mencatat kematian tinggi yakni 28.392. Begitu juga Inggris, negara dengan 286.349 kasus corona dan 44.391 korban jiwa.

Vorobieva juga mengatakan bahwa vaksin yang dikembangkan Rusia sedang berada di tahap uji coba ke manusia yang selama ini menunjukkan hasil positif.

Loading...
;

“Kami berharap bahwa obat ini akan selesai pada bulan September. Dalam artian pada akhir tahun, kami mungkin bisa memiliki vaksin anti-Covid-19 dan kami siap untuk berbagi pengalaman ini dengan (negara) mitra dan teman-teman kami,” ujar Vorobieva menambahkan.

Dia mengatakan bahwa Rusia berada di posisi utama yang tidak membeda-bedakan negara untuk mendistribusikanvaksin temuannya.

Sebelumnya Rusia mengungkapkan alasan rendahnya angka kematian akibat virus corona di negara itu karena tak menghitung orang yang meninggal akibat penyakit penyerta meski memang positif Covid-19. Rendahnya korban jiwa ini menimbulkan pertanyaan tentang kemungkinan kematian yang tidak dilaporkan.

Tercatat AFP menyebut Rusia mengakui angka kematian yang dipublikasikan di situs pemerintah hanya mencakup kasus-kasus di mana virus corona digolongkan sebagai penyebab utama kematian. Hal itu terjadi karena Rusia menggunakan definisi yang lebih luas daripada rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk menentukan penyebab kematian. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top