TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Aiesh Rumbekwan: Saya kuatir kalau banjir, hujan yang disalahkan

Banjir bandang di Sentani Kabupaten Jayapura, Papua
Foto ilustrasi, banjir bandang di kota Sentani pada 16 Maret 2019 yang diakibatkan degradasi kawasan Cagar Alam Cycloop. - Jubi/Dok

Papua No. 1 News Portal | Jubi

“Kalau kami orang besar terpaksa gunakan air danau soalnya kami mau ke mana lagi cari air, mandi dan mencuci tetap dari air danau, sedangkan untuk masak kami harus datangkan galon-galon yang berisikan air,” katanya.

FAKTA menunjukan bahwa kondisi lingkungan hidup di Tanah Papua rawan bencana. Pasalnya model pendekatan pembangunan berbasis investasi tentunya berpotensi menimbulkan ancaman ekologis karena hilangnya daya tampung dan daya dukung lingkungan.

“Karena saya kuatir, jika hal itu terjadi, hujan yang disalahkan,” kata Direktur Walhi Papua dan Papua Barat, Aiesh Rumbekwan, saat dihubungi jubi.co.id, Rabu (27/1/2021) siang.

Dia menambahkan pembangunan infrastruktur juga penting tetapi jangan sampai melanggar aturan soal lingkungan hidup. Misalnya lahan lahan di kawasan hutan lindung dan cagar alam yang harus berubah fungsi sehingga daerah tangkapan air hujan dan kawasan hijau semakin berkurang luasan areanya.

Tak heran kalau warga di tepian Danau Sentani masih mengingat tatkala banjir bandang pada 2005, kondisi alam masih sangat baik, namun dua tahun berikutnya 2007 hingga 16 Maret 2019 menyebabkan banyak korban jiwa mengakibatkan perubahan total dan kondisinya semakin parah.

Padahal dulunya kawasan pegunungan Cycloop atau Robongholo sangat memberikan manfaat air bersih dari gunung dan juga menjadi sumber air bagi warga sekitar maupun Kota dan Kabupaten Jayapura.

“Dulu itu sebelum tahun 2000-an itu kami gunakan air Danau Sentani ini karena airnya yang bersih, namun sekarang ini kami lihat seakan ada harta karung yang turun dari Robongholo melalui sungai-sungai yang bermuara di Danau Sentani, padat sampah yang diisi dalam kantong, karung, dan karton sehingga menumpuk di muara permukaan Danau Sentani di Yahim,” kata Kaur Kampung Yahim, Naomi Felle, kepada Jubi di Yahim, Jumat (15/1/2021)

Lebih lanjut Naomi menambahkan sumber utama air di Danau Sentani dari Gunung Cycloop tak sejernih dulu sehingga sudah tercemar dan memberikan dampak buruk bagi kesehatan warga.

“Kami mau mandi saja susah, anak-anak kecil kami mandikan itu ada yang sakit gatal-gatal, pilek, pokoknya mereka sakit sudah. Kalau kami orang besar terpaksa gunakan air danau soalnya kami mau ke mana lagi cari air, mandi, dan mencuci tetap dari air danau, sedangkan untuk masak kami harus datangkan galon-galon yang berisikan air,” katanya.

Dia mengaku sebagai Kaur di Kampung Yahim telah memberikan imbauan dan pesan agar warga di sekitar kali tetap menjaga kebersihan tetapi tak ada yang menanggapinya dengan serius. Padahal, lanjut Naomi, pesan itu disampaikan saat rapat dan pertemuan di Kampung Yahim.

Harapan untuk menjaga alam di pegunungan Cycloop terus menurun dalam dua tahun terakhir ini pasca banjir bandang Maret 2019 hingga berlanjut pandemi Covid-19.

“Pandemi Covid-19 dari 2020 masih lanjut juga hingga di 2021, membuat kepedulian untuk menjaga gunung Cycloop itu agak menurun,“ kata Ketua CPA Hiroshi, Marcell Suebu, kepada Jubi, Rabu (13/1/2021).

Ia menambahkan bahwa ada beberapa stakeholder dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang melakukan kegiatan-kegiatan.

“Meski demikian kegiatan yang dilakukan itu harus terus berkelanjutan dan tidak hanya karena program jadi pergi tanam lalu dibiarkan,” kata Suebu.

Memang, kata Marcell Suebu, menanam pohon butuh proses dan penanganan yang lama, bukan sekadar tanam dan biarkan tumbuh sendiri.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat sebagian besar wilayah Indonesia yaitu 94 persen dari 342 zona musim saat ini, telah memasuki puncak musim hujan seperti yang telah diprediksikan sejak Oktober 2020 lalu. Puncak musim hujan akan terjadi pada Januari dan Februari 2021. Untuk itu perlu diwaspadai terjadinya cuaca ekstrem.

“Kami mengimbau masyarakat dan seluruh pihak untuk tetap terus mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang cenderung meningkat di dalam periode Puncak Musim Hujan ini,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam konferensi pers secara daring, Sabtu (23/1/2021).

Sebagian besar wilayah yang berada pada Puncak Musim Hujan tersebut terutama sebagian Sumatera bagian Selatan, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat dan bagian selatan Papua. Puncak musim hujan di wilayah tersebut diperkirakan akan berlangsung hingga Februari 2021.

Pada Periode musim hujan dan puncak musim hujan ini juga sering terjadi peristiwa cuaca ekstrem dengan curah hujan kategori lebat hingga sangat lebat. Dari faktor-faktor pengendali iklim di wilayah Indonesia, saat ini yang sedang aktif berpengaruh adalah Monsoon Asia. Daerah Konvergensi Antar Tropis (ITCZ) memperlihatkan anomali yang mengarah pada penguatan curah hujan tinggi di sebagian besar wilayah Indonesia. Fenomena La Nina saat ini juga masih aktif dengan Indeks yang mengarah ke kondisi normal pada Mei 2021.

Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto, mengatakan peningkatan trend curah hujan ekstrem ini selain dipicu oleh fenomena dan/atau gangguan skala iklim, dikaitkan juga sebagai dampak perubahan iklim. Hasil kajian untuk wilayah Jakarta, menunjukan bahwa frekuensi kejadian hujan tinggi yang semakin meningkat.

“Dari pengamatan BMKG walaupun curah hujan berada pada tingkat sedang, namun masih berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi. Hal ini tergantung pada daya dukung lingkungan dalam merespon kondisi curah hujan,” kata Guswanto.

Misal jika terjadi banjir bandang, dikarenakan adanya tumpukan endapan longsor yang masuk ke lembah sungai dan juga adanya sisa-sisa penebangan pohon di bagian hulu, yang dapat menahan/membendung air.

Jika hujan terus berlangsung, kemudian akan menjebol bendungan, sehingga tumpukan endapan longsor dan ranting kayu tersebut,sehingga endapan dan ranting kayu hanyut dengan kecepatan tinggi, mengakibatkan banjir bandang di bagian hilirnya. (*)

Editor: Dominggus A Mampioper

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us