Follow our news chanel

Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

papua covid-19 belajar online
Siswa salah satu SMA di Jayapura sedang mengikuti pembelajaran online dari rumah dengan gawai – Dok. Pribadi.

Siswa SMA di Jayapura mulai bosan belajar online, begini solusi guru

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Sejumlah siswa di Kota Jayapura, Papua mengeluhkan sistem belajar online. Stenli Bouway,  siswa SMA Negeri 1 Sentani mengaku mulai bosan setelah delapan bulan mengikuti pembelajaran daring.

Menurutnya, cara belajarnya begitu-begitu saja. Ia berharap ada metode baru yang diterapkan agar lebih semangat belajar.

“Tiap hari kita hanya tatap HP saja, metodenya itu saja ‘trada’ kemajuan, yah jelas kita bosanlah,” ujarnya saat ditemui di Balai Arkelogi, Kamis (22/10/2020).

Ia menyarankan metodenya dibuat unik. Misalnya untuk pelajaran Pendidikan Jasmani diperbanyak praktik yang dilakukan masing-masing siswa di rumah.

“Kami merekam dengan video dan mengirimkan kepada guru, jangan hanya tugas, terus ulangan harian saja,” katanya.

Stenli mengaku yang membuat dirinya stres adalah tugas yang banyak. Jika itu terjadi, dia memilih untuk tidak mengerjakannya.

Loading...
;

“Pernah empat kali tidak kumpul tugas, tugas yang sering tidak dikumpulkan itu pelajaran Matematika wajib dan Matematika minat,” ujarnya.

Seringkali materi kurang dipahami, kata Stenli, tapi guru sudah langsung memberikan tugas. Terlebih untuk tugas hitungan pada pelajaran Kimia, Fisika, dan Matematika. Ia terpaksa bertama kepada guru atau mencari materi lain seperti di Youtube.

Stenli sudah dua bulan menerima bantuan paket internet dari sekolah sebesar 25 GB per bulan dan sekali dari pusat 35 GB. Namun paket tersebut hanya bisa digunakan untuk classroom dan WhatsApp. Akibatnya ia terpaksa meminta biaya paket tambahan kepada orang tuanya yang bekerja sebagai buruh bangunan.

“Tapi masa minta terus, baru dua hari terakhir saya bantu kerja bangunan dibayar Rp250 ribu, uangnya saya utamakan beli paket dulu baru lainnya,” katanya.

Stenli berharap guru lebih banyak berkomunikasi dengan siswa untuk mencari tahu kendala yang dialami siswanya.

“Dan untuk teman-teman di luar sana tetap semangat belajar, walaupun di masa pandemi Covid-19,” ujarnya.Abraham Meheu, siswa SMA Negeri 3 Jayapura juga mengaku menghadapi kendala memahami materi yang disampaikan guru secara online, namun karena jaringan terputus-putus. Ia juga mesti mengakses aplikasi yang disediakan sekolah.

“Kami dikasih aplikasi materi pembelajaran, kita bisa buka jika ingin mempelajarinya kembali,” ujarnya.

Ia juga mendapat bantuan pulsa internet dari Kemendikbud 30 GB, tapi tidak bisa digunakan untuk membuka aplikasi yang digunakan sekolah. Kemudian sekolah memberikan bantuan paket per bulan 2 GB.

“Kita ini kan online, nilai-nilai diambil dari tugas, harus mencari dan membuat laporan, itu  butuh paket data,” katanya.

Guru SMA Negeri 6 Skouw Jayapura, Papua Asis Alim Utami mengatakan sudah berupaya membuat pembelajaran daring tidak monoton. Ia menggunakan varian alat pembelajaran yang lebih menarik.

“Saya biasa gunakan media mapping, saya biasa gunakan aplikasi Canvas, Windows Shopping, sesuai materi yang saya ajarkan,” katanya saat ditemui Jubi di Balai Arkelogi, Kamis (22/10/2020).

Asis juga menerapkan pembelajaran langsung melalui WA Call dengan cara mengajar sambil bertanya langsung kepada siswa.

Agar mereka sedikit refresing, kata Asis, ia memberikan studi kasus masalah di lingkungan dan meminta mereka membuat kajian itu dalam suatu tulisan dan dilaporkan dalam bentuk video.

“Saya punya media sosial untuk memasukan hasil kerja siswa saya, jadi bisa dilihat orang, nah ini loh hasil kerja siswa SMA 6 Skouw,” ujarnya.

Bagi siswa yang tidak bisa mengumpulkan tugas secara daring dan sama sekali tidak bisa mengikuti kelas online, kata Asis, bisa langsung melaporkan kepada guru mata pelajaran yang diampu.

“Kita di sekolah ada pertemuan, sehari satu kelas, mereka ini dikasih tugas untuk dikerjakan lalu dikumpulkan secara manual di sekolah,” katanya.

Jika siswa tak memiliki gadget, mereka bisa menggunakan ganget milik orang tua. Selain itu ada cara lain, mereka bisa mengambil modul yang telah disiapkan guru dan belajar mandiri dari petunjuk-pentujuk yang disampaikan guru.

Menurut Asis dalam seminggu masih ada tatap muka langsung dua kali berbeda kelas. Sementara untuk online dibebaskan, meski dijadwalkan sekolah.

“Tapi jika materinya ‘urgent’ menurut guru, seperti Matematika yang butuh penalaran bisa dilakukan setiap hari dari rumah,” ujarnya.

Ada bantuan data dari Kemendikbud 45 GB, namun tidak bisa digunakan untuk WhatsApp dan WiFi. Karena itu guru seperti dia pun akhirnya lebih banyak menggunakan paket data pribadi.

Asis mengakui metode pelajaran daring masih memiliki sejumlah kendala, terutama belum maksimalnya daya serap siswa. Tapi siswa bisa bertanya kepada guru. Bahkan juga ada buku dan modul yang telah dibeli sekolah untuk dibagikan kepada siswa.

Guru Sejarah SMA Negeri 1 Sentani, Safarudin, S.Pd, mengatakan memakai video dalam pembelajaran daring agar siswa tertarik.

“Saya bagikan video, tinggal dong simak, dari situ mereka sudah dapat informasi tanpa harus kita jelaskan,” ujarnya.

Jika ada siswa yang tidak mempunyai perangkat dan terkendala jaringan ada alternatif dengan datang ke sekolah, bertemu guru, dan meminta tugas. Safarudin mengatakan selama pembelajaran daring sudah dua kali mendapat bantuan data dari Kemendikbud sebesar 37 GB.

“Ini menurut saya lebih dari cukup, tergantung pemakaian saja,” katanya.

Menurut Safarudin pembelajaran daring sangat efektif karena memudahkan pembelajaran sehingga siswa dapat menyimak dan berinteraksi melalui layar kamera di mana saja.

Sebagai guru, problem baru yang ditemukan dalam pembelajaran daring, katanya, terkadang siswa tidak mengaktifkan video pembelajaran. Karena itu guru harus tegas.

“Bisa saja dia menghilang saat belajar, ini dikasih absen saja kalau tidak menyalakan kamera,” ujarnya.

Ia berharap siswa lebih aktif dan juga meminta keterlibatan orang tua karena program pembelajaran daring kebijakan Kementerian Pendidikan. (CR-7)

Editor: Syofiardi

Scroll to Top