Papua sumbang 50 persen keanekaragaman hayati Indonesia

papua
Jenis kupu-kupu sayap burung (Onithoptera). -Dok. Daawia Suhartawan.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Peneliti kupu-kupu dari Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih Daawia Suhartawan mengatakan Papua menyumbang 50 persen kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia.

Hal itu disampaikan Daawia Suhartawan via zoom pada Bincang Redaksi-22 Ekspedisi Pusparagam Cycloop, “Perjalanan Muhibah untuk Menyingkap Pusparagam Hayati di Kawasan Penyangga Gunung Cycloop” yang diadakan National Geographic Indonesia, Jumat (27/11/2020).

“Jadi penting sekali kita peduli kepada Papua karena sumbangan kehatinya untuk Indonesia  sangat besar,” ujar dosen Jurusan Biologi Uncen tersebut.

Daawia mengatakan Papua sangat kaya akan keanekaragaman tumbuhan, hewan, bahkan suku-sukunya, termasuk serangga dan kupu-kupu.

“Di sini segalanya kaya, tumbuhannya, hewannya, suku-sukunya, ya mungkin ada sekitar 250 sampai 300 suku bangsa di Papua,” katanya.

Menurut Van Mastirgt dan Rosariyanto pada 2014, secara khusus kupu-kupu di Tanah Papua ada 819 spesies. Namun yang paling terkenal di kalangan pecinta dan kolektor kupu-kupu adalah kupu-kupu sayap burung (Onithoptera).

“Jadi salah satu di samping kaya, kupu-kupu di Papua ini 90 persen adalah endemik, kita bangga sekali kupu-kupu ini sangat indah, warnanya merupakan perpaduan antar hijau, hitam, dan kuning keemasan pada sayapnya, tidak kalah indahnya dengan Cenderawasih,” ujarnya.

Loading...
;

Di Cycloop, kata Daawia, ada satu spesies Onithoptera priamus sub spesiesnya Poseidon. Onithoptera priamus memiliki 20 sub spesies yang tersebar dari Maluku sebelah utara seluruh New Guinea, dan sebelah utara dari Australia.

“Jadi semuanya ada 20 sub spesies, yang ada di Cycloop itu Onithoptera priamus poseidon,” katanya.

Jenis tersebut semakin menurun jumlahnya dari tahun ke tahun karena makanannya adalah tumbuhan Aristolochia talaga (sirih hutan) telah hilang. Peyebabnya adalah penebangan pohon dan pembakaran hutan untuk berkebun di lokasi habitat kupu-kupu tersebut.

“Saya lihat populasi Aristolochia talaga di sekitaran air terjun pos 7 semakin berkurang, kami dari Uncen mengambil bijinya, anakannya untuk kami kembangkan dan salah satunya saya tumbuhkan di Arso Keerom,” ujarnya.

Daawia mengatakan tumbuhan tersebut ternyata sangat mengundang Onithoptera priamus poseidon untuk meletakan telur di daun itu. Setelah dua tahun ditanam di halaman rumah, setiap pagi ia dapat menyaksikan sekitar 20-30 ekor Onithoptera priamus poseidon.

“Dengan perbanyak aristolochia talaga ini, saya yang sebelumnya tidak pernah menyaksikan Onithoptera priamus poseidon. Tapi hari ini saya keluar rumah pagi-pagi bisa melihat 20 sampai 30 ekor Onithoptera priamus poseidon jantan dan betina bekejaran, hisap madu dari bunga-bunga yang kami tanam,” ujarnya.

Menurut Daawia, Cycloop merupakan mama bagi Papua karena sebagai sumber air sekaligus pusat keanekaragaman hayati di Papua, dan secara khusus habitat bagi kupu-kupu.

“Masih banyak kupu-kupu yang belum terungkap, untuk kupu-kupu di Pegunungan Cycloop selama ini kami hanya meneliti di kakinya karena begitu terjal, padahal ketinggiannya sampai di atas 2.000 meter,” katanya.

Ia menyayangkan pembangunan yang sangat fantastis dan kerusakan hutan yang sangat masif di sekitar daerah penyangga Cycloop. Ada sistem di mana membuka hutan dengan cara membakar yang sangat mengancam kehidupan kupu-kupu.

“Karena banyak makanan kupu-kupu yang hilang terbakar, entah itu hilang saat ditebang atau saat pembakaran hutan,” ujarnya.

Sebagai daerah konservasi, Cycloop harus dijaga secara baik. Ke depan mereka akan memperbanyak Aristolochia talaga di sekitar Cycloop supaya populasi kupu-kupu, termasuk Onithoptera priamus poseidon dan Euploea midamus (kupu-kupu gagak) bisa meningkat di Cagar Alam Gunung Cycloop.

“Karena makanannya adalah tanaman merambat, yaitu Aristolochia talaga, bijinya unik seperti hati, sebenarnya tidak membutuhkan teknologi yang tinggi, kita hanya menanam saja dan mari kita lindungi dan lestarikan kupu-kupu Papua di habitatnya,” ujarnya.

Penulis Albertus Vembrianto yang melakukan perjalanan muhibah selama dua minggu mengatakan terjadi banyak pengalihan fungsi kawasan hutan Cycloop menjadi permungkiman dan kawasan ekonomi yang bersifat eksploitatif.

“Salah satu dibuka untuk pertanian, untuk pertambangan pasir, batu yang banyak diambil dari kawasan Cycloop,” ujarnya.

Menurut Albertus banyak hal yang tidak seindah dibayangkan orang tentang Papua. Perubahan-perubahan yang datang belakangan mengubah banyak hal.

“Bahwa proyek-proyek pembangunan infrastruktur mengubah bentang kawasan, macam pembangunan stadion yang dipersiapkan PON, sebenarnya lokasinya itu dulu adalah dusun pangan,” katanya.(CR-7)

Editor: Syofiardi

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top