Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

Papua-Wali Kota Jayapura
Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano - Jubi/Ramah

Dalam dua hari, tiga wilayah di Kota Jayapura berubah jadi zona merah

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Dalam dua hari terakhir, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Kota Jayapura mencatat dua kelurahan dan satu kampung kembali masuk kategori zona merah yang sebelumnya kategori zona oranye dan hijau. Hingga Selasa (13/7/2021), total ada 20 kelurahan di ibukota Provinsi Papua itu masuk dalam zona merah.

“Kita harus lebih mengetatkan protokol kesehatan karena Kota Jayapura kembali zona merah,” ujar Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano, di Kantor Wali Kota Jayapura, Rabu (14/7/2021).

Dikatakan Tomi Mano, dua kelurahan dan satu kampung kembali zona merah, yaitu Kelurahan Numbay, Koya Barat, dan Kampung Yoka. Angka harian warga yang terpapar Covid-19 di wilayah yang masuk kategori zona merah ini dalam sehari rata-rata 11 orang ke atas atau terjadi penambahan 50 orang.

“Saya berharap kesadaran masyarakat untuk bersama-sama memiliki rasa tanggung jawab dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 ini. Mei-Juni sebenarnya kita sudah masuk zona hijau tapi karena tingginya akses masuk melalui bandara dan pelabuhan sehingga kita kembali zona merah,” ujar Tomi Mano.

Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jayapura mencatat pada Minggu (11/7/2021) total 17 kelurahan di ibukota Provinsi Papua tersebut masuk dalam kategori zona merah.

Ke-17 kelurahan tersebut, yaitu Kelurahan Tanjung Ria, Kelurahan Imbi, Kelurahan Bhayangkara, Kelurahan Gurabesi, Kelurahan Argapura, Kelurahan Ardipura, Kelurahan Hamadi, Kelurahan Entrop.

Kemudian, Kelurahan Wahno, Kelurahan VIM, Kelurahan Waimhorok, Kelurahan Awiyo, Kelurahan Yobe, Kelurahan Kota Baru, Kelurahan Hedam, Kelurahan Waena, dan Kelurahan Yabansai.

Loading...
;

Baca juga: 17 kelurahan di Kota Jayapura masuk zona merah

Tomi Mano menambahkan tersisa lima kelurahan masuk dalam kategori zona oranye, yaitu Kelurahan Angkasapura, Kelurahan Trikora, Kelurahan Abe Pantai, Kelurahan Asano, dan Kelurahan Koya Timur. Satu kelurahan masuk zona kuning, yaitu Kelurahan Mandala.

Angka harian paparan Covid-19 di zona oranye, lanjut Tomi Mano, antara 5-15 orang dan angka harian paparan covid di zona kuning, yaitu antara 1-5 orang.

“Kota Jayapura menetapkan PPKM mikro darurat. Artinya, kita harus lebih ketat lagi protokol kesehatan, seperti menutup dan mengurangi aktivitas dunia usaha hingga melakukan sweeping selama bulan Juli ini. Nanti Agustus kami evaluasi lagi, apakah PPKM mikro darurat diperpanjang atau tidak,” ujar Tomi Mano.

Tomi Mano menambahkan hingga Selasa (13/7/2021) kumulatif positif tembus di angka 10.027 orang, sembuh, 9.188 orang, meninggal dunia 182 orang, dan dirawat sebanyak 657 dengan rincian sebanyak 190 orang di rawat di rumah sehat LPMP Papua, dan sisanya dirawat di rumah sakit.”Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun dan air, jauhi kerumunan, jaga kesehatan, kurangi aktivitas di luar rumah, dan berdoa semoga Covid-19 ini segera berlalu agar kehidupan kita kembali normal,” ujar Tomi Mano.

Baca juga: Tujuh RS rujukan Covid-19 di Kota Jayapura penuh

Baca juga: PSU Nabire, hasil pencoklitan DPT belum maksimal

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, Ni Nyoman Sri Antari, mengatakan penyebab meningkatnya zona merah karena akses masuk orang melalui bandara udara dan pelabuhan meningkat drastis.

“Klaster pelabuhan penyumbang paling banyak paparan Covid-19 sehingga harus dilakukan pengetatan agar mencegah Kota Jayapura zona merah secara keseluruhan,” ujar Antari.

Antari menjelaskan selama dua minggu melakukan operasi yustisi di Pelabuhan Jayapura terhadap penumpang yang datang atau 10.300 orang penumpang turun diambil sampel 10 persen atau 1.300 orang.

“Dari penumpang turun sebanyak 10.300 orang tersebut, maka kami temukan 130 orang yang positif dari 10 persen itu, dan rata-rata penumpang bukan penduduk Papua tapi baru datang dari luar Papua,” ujar Antari. (*)

Editor: Dewi Wulandari

 

Scroll to Top