TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

Usulan perubahan definisi OAP dalam UU Otsus mesti dikaji ulang

Orang asli Papua
Ilustrasi Orang Asli Papua - Jubi. Dok 

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kelompok Khusus di DPR Papua, yang beranggotakan 14 anggota dewan melalui mekanisme pengangkatan, meminta Pansus Otsus DPRP mengkaji kembali usulan perubahan definisi orang asli Papua (OAP) dalam hasil kajiannya.

Saran itu disampaikan Kelompok Khusus dalam pendapatnya, saat paripurna hasil kajian Pansus Otsus DPRP, Selasa (15/6/2021) malam.

Ketua Kelompok Khusus DPRP, John NR Gobai, mengatakan dalam kajiannya, Pansus Otsus mengusulkan perubahan Pasal 1 huruf (t) Undang-Undang (UU) Otsus mengenai defisinisi orang asli Papua.

Dalam Pasal 1 huruf (t) UU Otsus berbunyi “Orang Asli Papua adalah orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia yang terdiri dari suku-suku asli di Provinsi Papua dan/atau orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua.”

Sementara usulan perubahan yang akan diajukan Pansus Otsus, yakni poin a menyebutkan OAP adalah “orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia suku-suku asli Papua, yang ayah dan ibunya, atau ayahnya berasal dari rumpun ras Melanesia suku-suku asli Papua.”

Poin b berbunyi orang asli Papua adalah “Orang yang berasal dari rumpun ras Melanesia suku-suku asli Papua yang ibunya berasal dari rumpun ras Melanesia suku-suku asli Papua.”

Pada bagian penjelasan disebutkan alasan menghilangkan frasa “orang yang diterima dan diakui sebagai orang asli Papua oleh masyarakat adat Papua” agar dapat memberi perlindungan dan pemberdayaan OAP, terutama berkaitan dengan hak hak dasar penduduk asli Papua sebagai upaya mewujudkab harkat, martabat, dan jatidiri orang asli Papua.

“Kita hargai upaya Pansus Otsus untuk memproteksi hak hak dasar orang asli Papua. Namun, kami khawatir itu akan menimbulkan polemik di masyarakat. Sebab, masyarakat adat Papua menganut paham patrilinear atau garis keturunan ayah,” kata John Gobai kepada Jubi, Rabu (16/6/2021).

Menurutnya, jika usulan perubahan itu yang akan didorong sebaiknya dikaji kembali. Definisi OAP mesti disepakati bersama masyarakat adat di lima wilayah adat. Dengan begitu, usulan perubahan yang nantinya didorong Pansus Otsus DPR Papua mendapat legitimasi dari masyarakat adat.

“Memang itu harus diperjelas. Tapi tidak mesti dengan regulasi nasional. Cukup dengan regulasi daerah, misalnya perdasus. Perdasus itu kita lahirkan setelah rapat dengar pendapat umum dengan masyarakat adat,” ujarnya.

Katanya, dalam dengan menggelar rapat dengar pendapat umum, dapat diketahui apakah masyarakat adat menerima revisi pasal yang mau didorong ataukah masyarakat adat tetap pada kebiasaan mengikuti garis keturunan ayah, bukan ibu.

Ia mengakui dalam kasus kasus tertentu di masyarakat adat Papua, tidak bisa dipungkiri anak anak mengikuti marga ibunya.

Namun, dalam perumusan sebuah regulasi yang sifatnya mengikat nantinya, mesti benar benar mendapat legitimasi dari berbagai pihak, terutama masyarakat adat Papua.

Akan tetapi, Papua bukan daerah yang mengikuti garis keturunan ibu. Untuk itulah pihaknya berpandangan perubahan itu mesti didiskusikan terbuka dengan masyarakat adat Papua di lima wilayah adat.

“Kami harap, sebelum mendorong sesuatu, apalagi hal hal sensitif sebaiknya dibicarakan terbuka agar tidak menimbulkan polemik,” ucapnya.

John Gobai mengatakan anggota DPRP melalui mekanisme pengangkatan tetap mengikuti aturan. Namun pihaknya juga harus menghargai kearifan lokal agar tidak menimbulkan polemik di masyarakat.

“Jangan sampai masyarakat menilai kami di DPRP ini hanya mendorong kepentingan kelompok tertentu,” kata Gobai.

Baca juga: Dalam waktu dekat DPR Papua serahkan hasil kajian Otsus ke pemerintah

Sementara itu, Wakil Ketua DPRP, Yunus Wonda, mengingatkan Pansus Otsus DPRP mempertimbangkan setiap pendapat dan saran dari internal dewan.

“Saya harap Pansus Otsus DPRP mempertimbangan semua pendapat dan saran dari fraksi dewan, dan kelompok khusus,” kata Wonda. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us