Follow our news chanel

Papuan Voice gali kembali spirit organisasi

Badan Pengawas PV (Max Binur), Koordinator Umum PV (Bernard Koten) dan Penggagas PV (Wensi Fatubun) saat membawakan materi, Rabu, 18 Maret 2020 di aula susteran DSY Maranatha Waena, Kota Jayapura - Jubi/IST
Papuan Voice gali kembali spirit organisasi 1 i Papua

Badan Pengawas PV (Max Binur), Koordinator Umum PV (Bernard Koten) dan Penggagas PV (Wensi Fatubun) saat membawakan materi, Rabu, 18 Maret 2020 di aula susteran DSY Maranatha Waena, Kota Jayapura – Jubi/IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Untuk lebih memahami dan mendalami roh atau spirit-nya sebagai penerus suara masyarakat adat yang terpinggirkan, komunitas Papuan Voice (PV) membekali anggotanya dengan manajemen organisasi dan keamanan.

Kegiatan yang digelar di aula Maranatha Jayapura, 18-21 Maret 2020 ini, diikuti anggota-anggota Papuan Voice dari Jayapura, Keerom, Merauke, Byak, Wamena, Sorong, Tambrauw, dan Timika, serta partisipan dari Nabire.

Koordinator Papuan Voice, Bernard Koten, kepada Jubi di Jayapura, Minggu (22/3/2020) malam, mengatakan pihaknya mendalami dan memahami semangat, perjalanan/sejarah, mengenal tipe-tipe kepemimpinan, pengantar advokasi, media sebagai sebuah media advokasi, situasi HAM dan lingkungan di Papua.

“Ini merupakan kesempatan yang baik untuk lebih memahami perjalanan dan spirit kita sebagai salah satu media alternatif untuk membantu menyuarakan perjuangan keadilan, kedamaian, kesetaraan dan lingkungan hidup. Kita coba lebih menginternalisasikan semangat awal pembentukan PV tersebut,” kata Bernard.

Pihaknya juga dibekali tentang tipe-tipe kepemimpinan yang dibawakan Sabata Rumadas dari Jaringan Kerja Rakyat (Jerat) Papua, pengantar advokasi, peranan video jurnalis dan film dokumenter sebagai media advokasi oleh Wensi Fatubun, situasi HAM dan lingkungan oleh Direktris SKPKC Fransiskan Papua, Yuliana Langowuyo, dan Aies Rumbekwan dari WALHI Papua, serta peranan generasi muda Papua dalam mewujudkan keadilan dan perdamaian yang dibawakan akademisi Universitas Cenderawasih, Elvira Rumkabu.

Sekretaris Umum Papuan Voices, Wirya Supriyadi, yang juga fasilitator mengatakan kegiatan itu sebagai ajang reuni para pengurus dan penggagas, sebab tiap anggota saling membagikan pengalamannya.

Loading...
;

Menurut dia, komunitas ini bertujuan untuk membentuk anak-anak asli Papua agar mengembangkan kreativitasnya dengan bercerita atau berkisah melalui film (video) menurut perspektif orang asli Papua sendiri.

Salah seorang penggagas Papuan Voice, Wensislaus Fatubun, ketika Jubi membenarkan hal tersebut.

“Iya. Saya dan Rico Aditjondro ada beri materi tentang sejarah PV, lalu saya sendiri beri materi tentang film dokumenter dan jurnalistik dalam advokasi untuk perubahan, dan keamanan fisik dan mental seorang filmmaker,” ujar Wensislaus.

Fatubun bercerita, ide pembentukan komunitas Papuan Voice dipaparkan dalam Forum Group Discussion di Jakarta 2009 dan pertemuan SKP se-Papua tahun 2010. Pelatihan pertama, 2011, dilakukan di Jayapura dan Merauke dan dua tahun kemudian di Wamena dan Sorong, Papua Barat.

Engagemedia, JPIC MSC Indonesia dan SKPKC Fransiskan Papua pun menyambut gagasan ini dengan mendirikan Papuan Voice melalui MoU tahun 2011, dengan fokus utama melatih anak-anak muda Papua, untuk memproduksi film sebagai alat advokasi dan gerakan kebudayaan, untuk menceritakan Papua dari perspektif Papua. Pada tahun 2016, Papuan Voice berbadan hukum berkat prakarsa Max Binur dan kawan-kawannya.

Ia berharap agar Papuan Voice semakin solid sebagai sebuah lembaga dan gerakan kebudayaan di Tanah Papua, yang mampu menceritakan Papua dari perspektif Papua dan menghadirkan epistemologi Papua dalam diskursus masyarakat adat dunia.

Senada dikatakan Max Binur, yang mengajak Papuan Voice bersama-sama menyuarakan persoalan di Tanah Papua melalui media audio visual.

“Saya sendiri terlibat dalam Papuan Voices karena saya tahu bahwa ada semangat anak muda Papua. Saya sendiri yakin bahwa komunitas atau kelompok ini dapat berkembang untuk menyuarakan pergumulan masyarakat adat di Tanah Papua,” katanya.

Rizal Lany baru bergabung dengan Papuan Voice Wamena, tapi wilayahnya ditunjuk sebagai tempat pelaksanaan Festival Film Papua (FFP) IV tahun 2020.

Meski demikian, dia berharap pembekalan dan diskusi selama empat hari membuatnya mengenal lebih jauh tentang Papuan Voice dan spiritnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top