Follow our news chanel

Previous
Next

Para pelajar miskin di tengah keterbatasan sekolah online

Papua
Ilustrasi, Ist/jubi.co

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Madura, Jubi – Hawati menangis sedih karena kasihan melihat anaknya Mohammad Rafli, 14 tahun pelajar kelas VIII di SMPN 7 Pamekasan. Rafli, selama ini ketinggalan pelajaran. Putranya itu tak pernah mengikuti pelajaran sejak virus corona mewabah karena keluarganya tak mampu membeli telepon genggamg android.

“Mau belajar online gimana, kan itu harus pakai handphone. Sementara kami tidak punya uang untuk membelinya,” kata Hawati, dengan air mata bercucuran, kamis, (23/7/2020) kemarin.

Baca juga : Manfaatkan siaran radio untuk belajar jarak jauh 

Manfaatkan Google Classroom untuk belajar jarak jauh

Gudang tembakau ini jadi tempat belajar selama pandemi

Ayah Rafli atau suami Hawati hanya bekerja sebagai kuli serabutan, pendapatannya juga tidak seberapa. Namun ayah dan ibu Rafli tetap berusaha menabung agar bisa membelikan ponsel pintar untuk putranya. Sedangkan sementara kegiatan belajar mengajar sudah dilakukan lewat internet.

Loading...
;

Hawati juga kasihan melihat Rafli jadi turut membantu ekonomi keluarga. “Selama ini Rafli menjual rumput kepada peternak hewan. Hasilnya yang dia peroleh sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu, kata Hawati menambahkan.

Rafli pun sadar dengan kondisi keluarga, pendapatan dari jual pakan ternak yang minim itu dia tabung untuk membantu keluarganya membelikan ponsel. “Rumput dijual ke peternak hewan. Uangnya kemudian dikasih ke ibu untuk ditabung. Saya menarget dapat beli ponsel agar bisa mengikuti pelajaran online,” kata Rafli.

Ia mengaku selama ini sudah banyak ketinggalan pelajaran karena tidak bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh via internet menggunakan ponsel. “Pelajaran online tidak mengikuti, makanya saya bekerja menjual pakan ternak membantu keluarga agar bisa beli ponsel,”  kata Rafli menjelaskan.

Rafli selalu bertanya kepada teman-temannya kapan sekolah kembali seperti semula. Dia berharap kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah kembali dilakukan agar tidak ketinggalan pelajaran.

Tak punya ponsel untuk belajar jarak jauh juga dialami Muhammad Farhan, pelajar di SD Negeri Rongtengah 2, Kota Sampang, Jawa Timur. Siswa kelas VI itu mengakali dengan meminjam milik kakak dan milik tetangga.

“Kadang pakai punya kakak, tapi kalau sudah berangkat kerja, handphonenya harus pinjam sama tetangga,” kata Farhan.

Ponsel itupun ia pakai bersama teman-temannya. Untuk membeli paket data, ia dan kawan-kawannya iuran dari uang jajan yang tak seberapa. “Kami sudah biasa patungan membeli paket data internet,” kata Farhan.

Farhan berasal dari keluarga tak mampu. Ayahnya, Yayak tak punya pekerjaan tetap. Sementara ibunya ,Uwey seorang penjual nasi di pasar. (*)

CNN Indonesia

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top