Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

Suasana di Pasar Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, terlihat sepi dari pembeli. - Jubi/Ramah

Pasar tradisional di Kota Jayapura masih sepi pembeli menjelang Natal

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pasar tradisional di Kota Jayapura masih sepi pembeli jelang perayaan Hari Raya Natal 2020. Salah satunya di Pasar Hamadi, Distrik Jayapura Selatan, terlihat sepi pada Kamis (10/12/2020).

Pantauan Jubi, pintu masuk utama pasar maupun di sisi kanan dan kiri terlihat lenggang dari aktivitas pembeli yang biasanya memadati untuk berbelanja kebutuhan sandang, pangan, dan pakaian.

“Tahun ini sangat berbeda dari tahun sebelumnya. Biasanya, mulai 1 Desember pasar mulai ramai, tapi hingga dua pekan lagi Natal masih sepi,” ujar Yayat seorang pedagang pakaian di Pasar Hamadi.

Menurut Yayat, apalagi saat ini masih dalam pandemi Covid-19 yang membuat pembeli menghindari keramaian karena takut tertular virus.

“Memang Natal masih tinggal dua minggu lagi, tapi tahun lalu pembeli mulai banyak. Tahun ini sangat sepi pembeli. Harapan saya agar pasar ramai, kalau sepi kami tidak bisa kembali modal jualan,” ujar Yayat.

Penjual sayuran dan bumbu dapur, Wati, mengatakan keramaian pembeli di Pasar Hamadi semakin terasa dalam hitungan beberapa hari jelang Hari Raya Natal.

Loading...
;

“Biasanya satu minggu jelang Natal sudah mulai banyak pembeli. Tahun ini saya belum tahu, apakah seramai tahun lalu atau tidak karena Covid ini mempengaruhi minat warga belanja ke pasar makanya pasar sepi,” ujar Wati.

Dikatakan Wati, pasar yang sepi dari pembeli mempengaruhi omzet penjualannya. Bila hari normal ia bisa meraup hingga Rp 3 juta, namun selama pandemi Covid-19, dalam sehari ia hanya bisa laku paling banyak Rp 1 juta.

“Biar sepi kami tetap jualan karena cuma berdagang pekerjaan saya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Supaya tidak banyak busuk, saya mengurangi pembelian barang dari petani,” ujar Wati. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Scroll to Top