Follow our news chanel

Pasien Covid-19 tidak pantas distigma dan diskriminasi

Petugas Puskesmas Lagari, Distrik Makimi, Kabupaten Nabire memberikan imunisasi dalam suasana Pandemi Covid-19 -- Jubi/Dok Dinkes Kabupaten Nabire.
Update Covid-19
Ilustrasi – Jubi/Pixabay.com

Oleh: Robby Amadeuz Hodo 

Wabah Covid-19 telah mengguncangkan dunia saat ini dan menjadi momok yang menakutkan bagi siapa pun. Ribuan orang telah meninggal dunia akibat terserang wabah tersebut.

Wabah yang muncul secara global (pandemi) ini telah menciptakan sejarah kelam dalam kehidupan umat manusia di abad ke-21.

Entah apa yang melatarbelakangi munculnya wabah itu, namun yang pasti bahwa wabah tersebut telah menimbulkan keresahan dan kegelisahan yang mendalam bagi setiap insan manusia di seantero dunia.

Saat ini covid-19 telah menjadi problem yang amat memprihatinkan. Virus ini telah menyusup masuk ke dalam semua strata sosial kehidupan masyarakat¸ baik masyarakat kelas atas¸ kelas menengah, maupun kelas bawah di seluruh pelosok dunia, sehingga hal ini dapat dikatakan sebagai pandemi global.

Covid-19 dapat menyerang siapa pun tanpa mengenal batasan usia dan jenis kelamin¸ laki-laki atau perempuan¸ tua atau muda; semuanya dapat terinfeksi apabila melakukan hal-hal yang dapat berpotensi terpapar virus tersebut.

Dewasa ini penyebaran wabah covid-19 bukan semata-mata sebuah persoalan kesehatan saja, melainkan memunculkan juga persoalan lain, seperti relasi sosial dalam masyarakat, persoalan ekonomi, keamanan dan budaya, sehingga semenjak diumumkan covid-19 awal Maret lalu, dan grafik korban terus meningkat, maka mulai muncul inisiatif dan kesadaran dari kalangan masyarakat, untuk bersama-sama melawan virus mematikan itu.

Inisiatif tersebut dalam bentuk gotong royong menggalangkan dana, menghimpun bantuan, lalu menyalurkan kepada orang-orang yang terpapar virus tersebut. Muncul pula sebuah gerakan untuk membantu tetangga yang terdampak covid-19.

Loading...
;

Namun di sisi lain, tanpa kita sadari, perubahan tersebut turut mempengaruhi perilaku manusia. Seseorang akan selalu bersikap was-was dan saling curiga satu sama lain, terutama kepada para pasien covid-19.

Memang kita semua tahu bahwa wabah tersebut sangat berbahaya dan mematikan, namun tidak serta merta kita mendiskriminasikan mereka yang tertular covid-19 sebagai orang yang terbuang dari komunitasnya.

Kita tidak berhak memberikan stigma terhadap mereka yang telah terpapar pandemi tersebut.

Perilaku semacam ini akan mengakibatkan relasi sosial menjadi renggang. Interaksi dan komunikasi dalam masyarakat akan terputus.

Stigma dan sikap diskriminatif niscaya membuat seorang pasien akan mengalami keterasingan secara psikis. Keterasingan yang dimaksudkan di sini ialah secara psikologis akan membuat ia merasa tersisih‚ terpisah dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Ia akan merasa dirinya sebagai orang yang bersalah dan tidak lagi diterima oleh masyarakat luas.

Hal yang demikian akan dirasakan oleh setiap pasien covid-19. Secara psikis ia akan merasa dirinya tidak layak lagi untuk hidup bersama orang lain dalam suatu komunitas masyarakat.

Oleh sebab itu, upaya untuk memberi stigma dan sikap diskriminatif terhadap mereka yang terpapar covid-19 segera dihindari. Sikap waspada dan jaga jarak boleh diterapkan, tapi kita tidak boleh mendiskriminasikan dan memutuskan relasi dan komunikasi dengan mereka.

Kita diharapkan untuk berbela rasa dengan mereka sambil tetap berwaspada. Kita yang sehat harus mendukung mereka agar tetap mengisolasi diri di rumahnya masing-masing ataupun di rumah sakit.

Sikap penolakan terhadap mereka yang telah dinyatakan positif terinfeksi virus corona merupakan sikap yang tidak manusiawi. Walaupun mereka telah terinfeksi virus, mereka tetap sebagai seorang manusia yang memiliki harkat, derajat dan martabat yang sama dengan orang yang sehat, sehingga tidak wajar kita menganggap mereka sebagai orang yang terbuang.

Ada kasus di tanah air ini yang menunjukkan tindakan diskriminasi dan stigma yang dilontarkan kepada para pasien covid-19, baik yang masih dalam proses perawatan, maupun yang telah meninggal dunia. Salah satu contoh yaitu penolakan jenazah yang hendak dikuburkan.

Pandangan negatif dan diskriminasi terhadap mereka yang terpapar covid-19 akan menimbulkan masalah baru dalam masyarakat.

Seorang yang telah terinfeksi virus akan enggan untuk berkata jujur tentang dirinya, sebab ia yakni apabila ia diketahui telah terinfeksi, maka ia akan dijauhi, disingkirkan bahkan ancaman kematian selalu menghantui hidupnya.

Pergumulan hidup semacam ini akan membuatnya untuk menutup diri. Apabila ia tidak terbuka atau tidak berkata jujur, maka tidak mustahil penyebaran virus semakin meningkat.

Maka dari itu, para pasien Covid-19 dan keluarganya tidak boleh diberi stigma atau diskriminasi. Mereka sesungguhnya tidak pantas untuk menerima stigma dan diskriminasi.

Kita yang sehat tetap mendampingi mereka dengan cara memberi bantuan moril maupun materi, sembari mengikuti dan mematuhi semua anjuran pemerintah, dan mereka yang telah terpapar covid-19 agar tidak boleh menutup diri, melainkan terbuka dan berkata jujur kepada pihak-pihak terkait, atau melapor ke rumah sakit, agar segera dilakukan penanganan lebih lanjut.

Mereka yang secara medis telah dinyatakan positif dan sudah diisolasikan, agar tetap semangat dan jangan panik, sebab kepanikan dan kegelisahan yang berlebihan akan berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh, dan kemungkinan besar akan mendatangkan kematian bagi si pasien tersebut. (*)

Mahasiswa pascasarjana STFT Fajar Timur Abepura, Papua

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top