Follow our news chanel

Pasifik ingin aksi nyata terhadap perubahan iklim

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Katerina Teaiwa

Menteri Lingkungan Hidup Australia, Melissa Price, menjadi tenar di media sosial Twitter minggu ini – dan bukan karena alasan yang baik.

Menteri Price diperkenalkan kepada mantan Presiden Kiribati, Anote Tong, dalam suatu acara makan malam di sebuah restoran Canberra yang diselenggarakan oleh Senator Partai Buruh Australia, Pat Dodson. Tong sudah lama beradvokasi untuk meningkatkan perhatian global tentang negaranya, karena ancaman keberadaan yang dihadapi akibat perubahan iklim dan naiknya permukaan air laut.

Menurut Dodson, Price mengatakan sesuatu yang dianggap banyak orang sebagai komentar penghinaan untuk Tong:

Saya tahu apa yang Anda lakukan di sini. semuanya ini tentang uang. Untuk Pasifik itu selalu tentang uang. Saya punya buku cek saya di sini. Berapa banyak uang yang Anda inginkan?

Orang-orang lain di restoran yang sama membenarkan penceritaan Dodson terkait insiden tersebut. Sementara itu, mantan presiden Tong mengatakan ia memiliki masalah dengan pendengarannya, dan orang-orang lain yang duduk lebih dekat dengan Price bisa mendengar apa yang dikatakannya.

Loading...
;

Tanggapan saya di Twitter adalah bahwa menurut budaya Kiribati, tidak sopan untuk mengkritik seseorang tentang perilaku buruknya di hadapan umum.

Mungkin Price mengira dia sedang membuat lelucon ala Australia yang kocak. Atau mungkin dia sudah biasa mengamati anggota partainya yang lain dalam menertawakan Pasifik, dan ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan rekan-rekan lainnya.

Muncul lagi dalam pikiran kita ketika Peter Dutton juga membuat lelucon yang sama menghinanya, pada tahun 2015. Menanggapi komentar Perdana Menteri Australia saat itu, Tony Abbott, tentang bagaimana penduduk pulau Pasifik seringkali tidak tepat waktu, Dutton mengatakan:

Waktu tidak berarti apa-apa buat Anda, jika permukaan air sudah hampir sampai di depan pintu Anda.

Terendam air hingga di depan pintu tampaknya tidak menggambarkan kekhawatiran mereka, tentang perubahan iklim dan pemanasan global – masalah mendesak bagi negara-negara kepulauan dataran rendah di Pasifik.

Bukannya berbagi keprihatinan dengan para pemimpin Pasifik tentang isu ini, beberapa politisi Australia telah memilih untuk meremehkan mereka dan menuduh negara-negara Pasifik hanya ingin mencari uang.

Bulan lalu, Senator Partai Liberal, Ian Macdonald, juga menuduh negara-negara Pasifik telah melakukan penipuan, untuk mendapatkan uang dari Australia yang digunakan dalam upaya mengatasi dampak naiknya permukaan air laut. Surat kabar Sydney Morning Herald melaporkan dia berkata:

Mereka mungkin penduduk Kepulauan Pasifik, namun tidak ada orang yang meragukan kebijaksanaan mereka dan kemampuan mereka, untuk mengambil satu dolar di mana pun mereka melihatnya

Jika Senator Macdonald menyempatkan diri untuk mendengarkan pidato yang disampaikan oleh Dame Meg Taylor, Sekretaris Jenderal Forum Kepulauan Pasifik (PIF), di Canberra bulan lalu, dia akan mendengar pesan yang sangat berbeda:

Sangat penting untuk kita tetap bekerja sama dalam memajukan diskusi dengan Australia, untuk mengembangkan jalan yang akan meminimalisir dampak perubahan iklim, demi masa depan kita semua … termasuk Australia.

Sejauh ini, seruan itu seolah-olah sampai di telinga orang yang tuli.

Catatan panjang penambangan fosfat Australia di Pasifik

Orang Australia tahu betul betapa sopan dan ramahnya orang Pasifik. Penerbangan ke Fiji, saat masa liburan sekolah, penuh dengan keluarga-keluarga yang mencari matahari, pasir, dan keramahan yang ditawarkan penduduk pulau itu.

Namun, baik pandangan yang dangkal tentang Pasifik sebagai surga di dunia, maupun komentar menghina dari para politisi mengenai penduduk yang lapar uang, mengungkapkan kebodohan Australia yang mendalam tentang sejarah, lingkungan, masyarakat, dan nilai-nilai budaya Pasifik, serta proyek-proyek pertambangan selama era kolonial Australia di wilayah tersebut.

Selama lebih dari satu abad, Australia telah memiliki hubungan sosial dan budaya yang kuat dengan Oseania, menyamakan kepentingan ekonomi dan geostrategisnya, dan tidak hanya dengan Papua Nugini atau negara-negara Melanesia.

Sejak awal abad ke-20, perusahaan-perusahaan tambang Australia mulai menambang fosfat secepat mungkin dari Nauru dan Pulau Banaba (di lokasi yang modern ini diketahui sebagai Kiribati), untuk menyokong industri pertanian negara tersebut melalui pembuatan pupuk.

Dan mereka berhasil, industri pertanian negara itu bertumbuh subur, secara eksponensial, seraya menghancurkan lingkungan pulau-pulau Pasifik yang jauh lebih kecil itu. Fosfat dari Pasifik – dan pupuk superfosfat yang dihasilkannya – adalah debu ajaib penunjang sektor pertanian Australia. Tidak banyak produk yang bisa tumbuh di Australia tanpanya, karena negara itu adalah suatu benua padat, dengan tanah yang mengandung nutrisi rendah dan tidak produktif.

Namun, setelah beberapa dekade menambang fosfat di Banaba, sekitar 90% permukaan pulau itu telah dihancurkan perlahan-lahan. Pada akhir tahun 1970-an, ketika operasi penambangan itu berakhir, 22 juta ton tanah telah dipindahkan. Pulau itu tidak bisa lagi direhabilitasi dan semua infrastruktur penambangan dibiarkan berkarat dan terbengkalai.

Banyak orang Pulau Banaba yang dipindahkan ke Pulau Rabi di Fiji selama bertahun-tahun, termasuk kakek saya. Ini adalah migrasi yang menggambarkan perpindahan yang juga akan dihadapi banyak penduduk Pasifik di masa depan akibat perubahan iklim.

Sangat munafik bagi para pemimpin Australia untuk menuduh Kepulauan Pasifik hanya mengejar uang, ketika Australia telah mengeksploitasi Banaba dan pulau-pulau Pasifik lainnya seperti ini. Pada saat seperti ini, ketika masa depan banyak negara di Pasifik terancam, sedikit welas asih, tanggung jawab dan tindakan yang nyata atas perubahan iklim seharusnya ditunjukkan, bukan lelucon atau komentar yang meremehkan kepulauan Pasifik. (The Conversation 19/10/ 2018)\

Katerina Teaiwa adalah seorang profesor madya di Sekolah Budaya, Sejarah dan Bahasa di Universitas Nasional Australia (ANU).

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top