TERVERIFIKASI FAKTUAL OLEH DEWAN PERS NO: 285/Terverifikasi/K/V/2018

PB PON Papua tak libatkan pelaku ekonomi OAP

Papua-kopi Tiyom
Kopi Tiyom milik Denny Yigibalom yang diharapkan bisa dipasarkan di sela-sela penyelenggaraan PON XX Papua, 2—16 Oktober 2021 - Jubi/Dok. Yigibalom

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Kampanye penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX  di Papua, yang akan digelar 2-15 Oktober 2021, akan membawa dampak ekonomi bagi orang asli Papua (OAP) masih perlu pembuktian. Pengurus Besar (PB) PB PON Papua belum melibatkan pedagang asli Papua untuk memasok kebutuhan peserta selama PON berlangsung.

Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP), Ketua Gabungan Wirausaha Muda Papua (GARAP), dan Komunitas Kopi Papua serta lembaga lainnya, mengklaim bahwa PB PON belum libatkan mereka.

KAPP berusaha membangun komunikasi dengan dengan PB PON tetapi pihak panitia tidak merespons lebih dari pertemuan ke pertemuan beberapa waktu lalu.

“Sudah beberapa kali kami audiensi tapi tidak ada eksekusinya. Kami berharap dong kasih kita tanggung jawab, misalnya ikan cakalang 3 ton, wortel sekian ton, asesoris noken sekian buah. Jadi jelas pembagiannya. Tapi semua itu macam dinas-dinas dong handel semua tu,” ungkap Direktur Eksekutif KAPP, Meky Wetipo, kepada jurnalis Jubi, Selasa (14/9/2021).

Ditemui terpisah, Ketua GARAP, Sopater Sam, mengatakan sejauh ini pihaknya belum mendapat informasi yang jelas bahwa kelompok wirausaha muda Papua ini terlibat mengurus urusan kuliner sampai aksesoris Papua.

“Kami bingung dengan bidang perekonomian PON. Kami yang bergerak secara organisasi saja belum ada, apa lagi mama-mama di pasar,” ungkapnya kepada jurnalis Jubi, Rabu (15/9/2021) pagi.

Kata dia, pihaknya menangkap kesan PB PON bidang perekonimian tertutup, tidak seperti perekrutan relawan PON yang dilakukan secara terbuka.

“Sangat tertutup ini menjadi masalah. Perlu ada perekrutan untuk ekonomi orang asli Papua supaya ada kesempatan untuk kami,” ungkapnya.

Untuk itu, imbuhnya, pihaknya sudah berusaha membangun komunikasi ke beberapa pihak tetapi belum ada kejelasan.

“Kami tanya-tanya juga tetapi tidak ada keterbukaan. Dalam waktu singkat ini, kami harap ada tempat khusus bagi kuliner dan perajin Papua untuk tampil,” ungkapnya.

Baca juga: Gebyar PON XX akan dilaksanakan di Pantai Wisata Khalkote besok

Denny Yigibalom, petani kopi, pemilik brand kopi TIYOM, mengatakan hal yang sama. Pihaknya telah bertemu dengan DPRP Komisi II untuk membangun kerja sama para petani dengan pihak PB PON, tetapi tidak ada komunikasi lebih untuk melibatkan petani kopi asli Papua.

“Saya sempat bicara ke Komisi II DPRP. Kita minta difasilitasi untuk kopi Papua tampil ke PB PON, tetapi tidak ada perkembangan,” ungkapnya kepada jurnalis Jubi, Rabu (15/9/2021).

Kata dia, pihaknya malah mendengar ada orang yang ditunjuk pihak PB PON.

“Kata mereka ada yang sudah ditunjuk. Saya tidak tahu siapa orang yang ditunjuk. Orang di hilir yang urus kopi yang dipakai? Kita yang dari petani kopi langsung tidak ada,” ungkapnya.

Kata dia, walaupun pihaknya tidak mendapatkan kesempatan langsung dari PB PON, ada pihak lain yang mengajak menampilkan produk kopi dalam iven nasional ini.

“Kalau teman lihat ajak aktivitas kita, ajak itu ada, tetapi dari PB PON langsung tidak ada,” ungkapya.

Kata dia, walaupun tidak mendapatkan kesempatan langsung, pihaknya akan mendukung penyelenagaraan PON dengan caranya sendiri. Pihaknya menempelkan stiker PON di kemasan kopi TIYOM.

“Kami mendukung sukses PON secara moral dari petani, sekalian promosi brand lokal dari petani,” ungkapnya sambil menunjukkan kemasan kopi yang ada brand dan stiker PON.

Narasi para pelaku ekonomi itu bisa menjadi alasan siapapun mengatakan tidak ada dampak ekonomi bagi OAP. Karena, tidak ada data yang jelas dari PB PON terkait keterlibatan OAP untuk menyukseskan PON.

“Saya balik tanya ke PB PON, berapa data mereka tentang pedagang dan masyarakat yang terlibat dalam PON,” ungkap Direktur Eksekutif KAPP, Meky Wetipo

Kata dia, tanpa data yang jelas, ini terindikasi OAP hanya menjadi brand pelaksanaan PON. Orang-orang yang mengelola dan melaksanakan PON bukan OAP.

“Atlet saja mereka sewa, sopir saja ada yang dibawa dari luar, bahan makanan [sayur, buah, dll] pasti dibeli di luar. Mungkin, asesoris yang dong beli di OAP kah karena memang barang itu hanya OAP saja yang bisa,” katanya.

“Jadi saya pesimis akan berdampak bagi OAP secara ekonomi. Yang sangat saya khawatirkan adalah lonjakan angka Covid-19. Jadi OAP akan dapatnya bagian ini, dampak buruknya. Mungkin PON ini lebih pada euforia elit menengah ke atas,” ungkapnya. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us