HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

PBSB dan ajakan “di rumah aja” bertolak belakang

Ilustrasi karantina mandiri - Pexels.com
PBSB dan ajakan “di rumah aja” bertolak belakang 1 i Papua
Ilustrasi karantina mandiri – Pexels.com

Oleh: Ignasius Yosep Silubun, OFM

Pemerintah dan masyarakat Indonesia memiliki variasi dalam menanggapi penyebaran dan usaha mengakhiri pandemi virus corona atau covid-19. Kita ingat bagaimana tanggapan pemerintah daerah dan pusat tatkala sejumlah warga Natuna meminta pertimbangan pemerintah yang hendak memulangkan WNI dari negara-negara zona merah covid-19 ke Indonesia dan di karantina di Natuna. Pemerintah kelihatannya (sejauh yang diperlihatkan media) agaknya “santai”.

Sekarang kita dapat melihat pandemi covid-19 telah menyebar dengan sangat cepat ke berbagai wilayah di NKRI. Nah, khusus di Papua, lebih tepatnya Kabupaten Jayawijaya, 2 April 2020, ditetapkan bahwa Bandar Udara (khusus keluar-masuk keberangkatan penumpang) untuk sementara waktu ditutup. Sayangnya setelah keputusan itu berlaku, 4 April 2020, melalui berbagai media disampaikan bahwa pesawat Hercules milik TNI AU dari Biak-Timika ditemukan membawa 10 orang penumpang dan transit di Bandara Wamena, Jayawijaya.

PBSB dan ajakan “di rumah aja” bertolak belakang 2 i Papua

Baru-baru ini kurang lebih 10 mobil lintas kabupaten ditemukan melakukan perjalanan dari Jayapura menuju Jayawijaya, Papua dan saat ini para sopir beserta mobil dikarantina di salah satu tempat pertemuan di Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya.

Segala langkah diambil demi mengakhiri pandemi covid-19, salah satunya Social Distancing (kini Physical Distancing), yang berdampak pada segala aspek kehidupan, bahkan ada semacam slogan bersama “Melawan Covid-19”.

Tindakan melawan covid-19 mengakibatkan pintu-pintu rumah ibadat tertutup, hari-hari raya keagamaan yang jatuh pada bulan-bulan ini dibuat di rumah masing-masing. Perkantoran, sekolah, pasar, dll. dibuat macet. Hingga di berbagai media dengan segala cara (pemerintah) mengimbau untuk “di rumah aja” bahkan sampai di sebuah status WA bertuliskan “Corana pulang yah…”.

Sayangnya pandemi ini belum juga berakhir walaupun beberapa pakar ilmu kesehatan hingga paranormal mengatakan bahwa pandemi akan segera berakhir. Namun jumlah kasus di Indonesia semakin bertambah. Kabupaten Jayawijaya yang sebelumnya tidak ada kasus positif covid-19 dan telah mengambil langkah penutupan bandara sebagaimana dalam berita-berita di media dan pemberlakuan pembatasan sosial, per 13 April 2020 terdapat 3 kasus positif di Jayawijaya.

Saya rasa pemerintah daerah bahkan daerah-daerah harus mengambil langkah cepat, pemerintah pusat tak berdaya melakoni cerita “Melawan Covid-19”, kebanyakan masyarakat sudah berkorban karena pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tetapi ini tak cukup, pemerintah harus lebih tegas dalam menerapkan PSBB bahkan pemerintah dapat  menerapkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan, pasal 53, ayat (1) dan (2), yang mengatur tentang karantina wilayah, yang hemat saya, lebih efektif daripada hanya PSBB, sehingga ajakan “di rumah aja” dapat terealisasi, dan pemerintah dapat menjalankan tugas dan kewajibannya.

Pembatasan Sosial Berskala Besar sama sekali tak membuat masyarakat “di rumah aja”. Dengan diberlakukannya undang-undang ini agar di rumah saja bukan lagi sebuah ajakan, tetapi menjadi sebuah perintah, demi kebaikan dan keselamatan manusia.  (Namun) Keegoisan manusia diperlihatkan, tidak mau “di rumah aja” mau pergi-pulang ke daerah berdampak covid-19 dan membawa serta pandemi ini masuk ke kota yang tidak berdampak.

Setiap orang memiliki kepentingan dan pemerintah juga pasti memiliki kepentingan dalam segala keputusan dan langkah-langkah yang dibuat demi mengakhiri virus corona. Namun kepentingan bersama dan keselamatan banyak orang lebih penting, sehingga peran pemerintah pusat maupun daerah yang berwenang mengatur jalannya pembangunan manusia Indonesia memiliki kewajiban untuk melindungi segenap warganya, baik di daerah (kota) besar maupun kecil.

Dengan diberlakukannya Undang-Undang Kekarantinaan Kesehatan, maka pemerintah pusat dan daerah dapat dengan cepat mencegah dan menangkal keluar atau masuknya penyakit atau virus corona ini.

Sayangnya hingga saat ini sudah banyak di antara kita memanjatkan doa dan berharap pandemi ini cepat berlalu. Tak peduli agama apapun, pada prinsipnya setiap agama bahkan setiap orang yang mungkin tak mengakui beragama memohon bantuan Yang Ilahi dalam usaha dan tindakan mengakhiri pandemi global ini.

Setiap agama memiliki metode dan bentuk doanya masing-masing, yang pasti setiap agama dan aliran-aliran kepercayaan percaya bahwa Yang Ilahi itu sanggup menolong kesusahan dan nestapa umat manusia.

Namun pada kenyataannya banyak korban nyawa akibat bencana covid-19. Terasa bahwa daya dari kekuatan doa umat manusia kepada realitas tertinggi atau Tuhan melemah.

Pertanyaanya di manakah doa-doa kita berlabuh? Dimanakah segala usaha dari Sosial Distancing ataupun PSBB begitu terasa berdampak di tengah meluasnya pandemi ini? Mungkinkah doa-doa umat manusia keliru? Entah. Mungkinkah tindakan-tindakan yang dilakukan pemerintah kurang tepat sasaran? Semoga tidak!

Kita melakukan berbagai daya upaya demi pemberantasan pandemi covid-19 tetapi tampaknya kita “menunggu” kapan pandemi ini berlalu dengan sendirinya. Maka sebagai negara yang beragama kita berdoa, bukan mendesak Yang Ilahi melakukan apa yang kita butuhkan, tetapi berharaplah agar kehendak Yang Ilahi sungguh mengalir kepada kita umat manusia.

Sebagai negara yang wajib melindungi warganya tidak hanya melakukan imbauan untuk “cuci tangan” dan PSBB saja, tetapi juga berusaha dengan semua pihak untuk menemukan penyelesaian pandemi ini. Pemerintah fokus pada penyelesaiannya bukan hanya pada pemutusan mata rantai semata, dan pemerintah dapat menerapkan Undang-Undang Kekarantinaan Kesehatan, pasal 53, ayat 1 dan 2 yang mengatur tentang karantina wilayah, agar masyarakat tidak bepergian dan pemerintah dapat menjalankan fungsinya, sebagaimana diamanatkan dalam undang-undang, yang pada akhirnya pandemi ini tidak semakin meluas sehingga penyebarannya dan pandemi ini lebih cepat diatasi.

Namun berpikirlah sejenak bahwa jika memang benar covid-19 merupakan suatu pandemi alamiah, maka kita tak bisa melawannya, tetapi kita wajib “Berdamai Dengan Covid-19”.

Artinya bahwa tindakan-tindakan kita mesti terarah pada cara penyelesaian epidemi ini, bukan hanya terfokus pada sosial distancing dan imbauan-imbauan lainnya. Kita bisa mengandaikan bahwa “era ketika manusia berdiri tak berdaya di hadapan epidemi alamiah mungkin telah usai, tetapi kita dapat saja keliru”, kata Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus-Masa Depan Umat Manusia, yang diterjemahkan Yanto Musthofa. (*)

Penulis adalah biarawan Fransiskan, sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Yiwika, Wamena, Papua

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top