Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Pedagang makanan kaki lima di Kota Jayapura bertahan di tengah Pandemi

KOta Jayapura, Papua, Kaki lima
Seorang penjual makanan di Jalan Raya Entrop saat melayani pembeli - Jubi/Ramah

 

Papua No.1 News Portal

Jayapura, Jubi – Pandemi virus korona telah menghantam perekonomian di Kota Jayapura, Papua. Ada pelaku usaha yang memilih tidak beroperasi, namun ada juga yang nekad berdagang untuk bertahan hidup.

Salah satunya Erni, seorang penjual makanan di Jalan Raya Entrop yang memilih tetap berjualan meski angka kasus positif Korona terus menanjak.

Bermodalkan gerobak kayu berdindingkan kaca, sajian makanan laut, juga menu makanan nasi pecel dan nasi kuning tersusun rapi di etalase berjalan itu. Meski hanya beratapkan selembar terpal berukuran 3×4, tidak memupus harapan Erni untuk mengais rezeki di tengah pendemi virus korona.

“Saya jualan dari jam 7 pagi sampai jam 12 siang. Satu hari saya bisa habiskan satu termos (isi lima kilogram beras). Kadang habis, kadang juga tidak,” ujar Erni saat dihampiri Jubi, Kamis (11/6/2020).

Sambil sibuk melayani pembeli, Erni menceritakan penghasilannya turun drastis, terutama pada saat diberlakukannya Pembatasan Sosial Diperluas dan Diperketat. Kala itu, aktivitas berdagang hanya diperbolehkan mulai dari jam 6 pagi sampai jam 2 siang.

Bahkan dalam sehari ia hanya bisa menjual 10 hingga 20 bungkus, sedangkan penjualannya dalam hari-hari normal ia bisa menghabiskan dua termos.

Loading...
;

“Orang takut keluar rumah karena korona ini, makanya jualan kurang laku. Sekarang waktu aktivitas diperpanjang, pembeli mulai banyak lagi. Hasil jualan untuk dipakai modal lagi, kalau ada sisa ditabung buat keperluan sehari-hari,” ujar Erni.

Erni sebenarnya takut bila terpapar virus korona, akan tetapi agar dapur tetap mengepul dan kebutuhan anak-anaknya bisa terpenuhi, ia harus berjualan. Berusaha tidak panik dan tetap mengikuti protokol kesehatan.

“Kalau tidak jualan mau bikin apa juga di rumah, anak saya ada dua sebentar lagi masuk SMP. Tetap jaga jarak, cuci tangan pakai sabun sebelum jualan dan setelah jualan. Sampai rumah saya langsung mandi dan ganti baju,” ujar Erni.

Ungkapan senada juga dialami Ana, seorang penjual aneka jajanan kue di Jalan Raya Entrop. Meski harus berjualan di tengah pendemi virus korona, perekonomian harus tetap jalan.

“Saya jualkan orang punya jualan, saya ambil untung. Ada juga kue buatan saya sendiri. Kadang satu hari saya bisa bawa pulang Rp 100 ribu, kadang juga kurang. Kalau sedang ramai saya bisa laku Rp 300 ribu,” ujar Ana.

Menurut Ana, virus korona tidak hanya membuat pelanggannya turun drastis, tapi juga membuat perekonomiannya yang serba pas-pasan bila dibandingnya sebelum mewabahnya korona. Jualan dari jam 6 pagi sudah habis jam 9. Saat ini, matahari sudah di atas ubun-ubun, dagangannya masih ada.

“Kalau mau belanja kebutuhan harus pintar-pintar atur uang, harus tahan-tahan karena jualan sepi pembeli. Kalau hari-hari normal kebutuhan bisa terpenuhi, sekarang serba pas-pasan. Saya berharap bisa kembali normal lagi supaya jualan saya bisa laku habis terjual,” ujar Ana. (*)

Editor: Syam Terrajana

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top