Follow our news chanel

Pekan Sagu Nusantara, Pemprov Papua Barat hanya ikut-ikutan?

papua-barat-pekan-sagu-nusantara-2020
Pedagang sagu di Manokwari. Pemprov Papua Barat berkomitmen mengelola sagu untuk kesejahteraan rakyatnya - Jubi/Hans Arnold Kapisa

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Di balik euforia perayaan Pekan Sagu Nusantara, Pemerintah Papua Barat dinilai hanya ikut-ikutan saja karena hingga kini belum ada geliat nyata membudayakan makan sagu sebagai makanan sehat di provinsi itu.

“Semua kembali pada kami punya bapak-bapak pimpinan di pemerintahan, apa mereka nanti serius kah tidak untuk jadikan sagu sebagai pangan lokal unggulan di Papua Barat,” kata seorang mama Papua pedagang sagu di Pasar Sentral Manokwari, Nela Karubaba, kepada Jubi, Selasa (20/10/2020).

Kritikan ini pun ditujukan kepada para pimpinan di Kabupaten Manokwari, karena pemerintah belum terlihat serius dengan satu program prioritas pangan lokal unggulan di wilayah itu.

Mama Nela mengaku pedagang sagu di Manokwari mendapat pasokan dari Kabupaten Teluk Wondama dan Kepulauan Yapen.

“Kami biasa beli sagu dengan jumlah satu tuman Rp400 ribu sampai Rp500 ribu. Lalu kami ecerkan lagi untuk dijual dengan harga Rp10 sampai Rp20 ribu per potong. Kalau pemerintah serius, bisa datangkan sagu dalam jumlah besar ke Manokwari, sehingga bisa menjadi makanan unggulan pelengkap ubi dan beras lokal,” katanya.

Pemerintah Provinsi Papua Barat turut menggelar Pekan Sagu Nusantara 2020, di Manokwari, Selasa (20/10/2020). Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda nasional untuk pelestarian pangan lokal (sagu) sebagai makanan sehat. Kegiatan digelar di Kantor Gubernur Papua Barat dihadiri Wakil Gubernur Papua Barat dan unsur forkopimda.

Baca juga: Pekan Sagu Nusantara 2020 dibuka

Loading...
;

Pada puncak perayaan Pekan Sagu Nusantara 2020, Wakil Gubernur Papua Barat, Muhammad Lakotani, mengatakan Bumi Kasuari mempunya potensi sagu terhampar luas di sebagian kabupaten/kota di provinsi itu yang ke depan dapat dikembangkan dalam pemanfaatannya.

Meski tak dipungkiri, bahwa kenyataan saat ini, mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada pengolahan sagu, kondisi kesejahteraan mereka masih sangat rendah. Kondisi ini disebabkan orientasi usaha pengolahan sagu di Bumi Kasuari masih bersifat lokal untuk konsumsi keluarga berkisar antara 80 persen.

Dia juga menegaskan Pemerintah Provinsi Papua Barat baru pertama menggelar hajatan Pekan Sagu Nusantara, namun pemerintah berkomitmen untuk serius dalam pengelolaan sagu  sebagai pangan alternatif pengganti ubi dan beras.

“Pemerintah akan serius, asal semua pihak termasuk perangkat teknis pemerintah (OPD terkait) tidak sekadar seremonial dalam melaksanakan Pekan Sagu Nusantara, tapi harus direalisasikan dalam program dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Lakotani.

Menurut Lakotani, berbagai iven besar yang telah dilaksanan oleh pemerintah harus bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, bukan sekadar euforia, foto-foto, lalu tidak dilanjutkan.

“Kita sudah terlalu banyak menggelar kegiatan besar, tapi implementasinya di lapangan kadang tidak nampak. Oleh karena itu, sebagai abdi negara kita harus malu kepada mama-mama yang berdagang di pasar karena kita digaji dari hasil pajak mereka juga,” tukas Lakotani. (*)

Editor: Dewi Wulandari

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top