Pelajar pelaku perundungan di Pekanbaru ditetapkan tersangka

Papua
Ilustrasi tindak kekerasan - Pixabay.com.
Pelajar pelaku perundungan di Pekanbaru ditetapkan tersangka 1 i Papua
Ilustrasi kekerasan, pixabay.com

Kedua pelajar yang masih duduk di kelas VIII itu tidak ditahan.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pekanbaru, Jubi – Kepolisian Resor Kota Pekanbaru menetapkan dua pelajar SMP negeriΒ  sebagai tersangka dalam kasus perundungan teman sekelas hingga korban mengalami trauma dan patah tulang hidung. Meski ditetapkan sebagai tersangka, namun kedua pelajar yang masih duduk di kelas VIII itu tidak ditahan.

“Dua orang pelajar berinisial telah ditetapkan sebagai tersangka, namun tidak ditahan karena masih di bawah umur,” kata Kapolresta Pekanbaru AKBP Nandang Mu’min Wijaya, Kamis, (28/11/2019).

Baca juga :Β Kekerasan anak dan perempuan belum terdata baik Kekerasan anak dan perempuan di Pontianak mencapai 123 kasus

Kekerasan anak. Selain disiksa Clarita juga disekap ibunya

Dua pelajar yang identitasnya sengaja tak disebutkan itu tega menganiaya teman sekelas mereka berinisial hingga harus menjalani serangkaian operasi akibat luka pada bagian kepala, pada awal November 2019.

Loading...
;

Kasus itu bahkan menarik perhatian Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi yang langsung mengunjungi korban di Pekanbaru. Kak Seto, sapaan akrabnya menyesalkan adanya pembiaran dalam aksi perundungan hingga harus menjalani operasi di rumah sakit.

“Kami sesalkan pihak sekolah yang terkesan melakukan pembiaran,” kata kata kak Seto .

Korban telah mendapatkan tindakan kekerasan dari rekan sekolahnya sejak lima bulan terakhir. Bahkan, menurut Kak Seto, korban mengaku sempat ingin pindah sekolah karena tidak tahan dengan tindakan yang setiap hari diterimanya itu.

Hingga akhirnya, perundungan yang diterima semakin menjadi-jadi dan berujung pada tindakan kekerasan yang menyebabkan korban mengalami luka pada bagian kepala dan patah tulang hidung.

“Menurut korban, sudah berkali-kali hingga korban ingin pindah sekolah. Artinya ada pembiaran. Sebelum viral, tidak ada kepedulian,” ujar kak Seto menjelaskan.

Korban mengalami perundungan yang dilakukan oleh tiga teman sekelasnya. Aksi itu bahkan disebut polisi terjadi pada saat jam belajar, Selasa (5/11/2019) lalu. Sementara di dalam kelas juga terdapat seorang guru.

Menurut Kak Seto, sikap guru yang seakan membiarkan aksi perundungan itu juga sangat disayangkan. Seharusnya, guru selain menjadi tenaga pendidik juga pelindung anak didiknya.

“Sangat kami sesalkan sebagai pendidik harus berikan contoh. Harus ada tindakan cepat.

Kami akan sampaikan ke Dinas Pendidikan bahwa guru banyak yang tidak menyadari amanat Undang-Undang Perlindungan Anak,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top