Follow our news chanel

Pelaku pelecehan seksual divonis tujuh tahun oleh PN Jayapura, keluarga korban kecewa

Papua No. 1 News Portal | Jubi ,

Jayapura, Jubi – In, ibu dari salah seorang anak yang menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh Sabir Djafat mengaku kecewa dengan keputusan Pengadilan Negeri (PN) klas 1A Kota Jayapura, yang menjatuhkan vonis tujuh tahun penjara terhadap kakek berusia 67 tahun tersebut.

"Saya sangat kecewa sekali dengan apa yang diputuskan oleh hakim. Putusan itu tidak setimpal dengan perbuatan yang sudah dilalukan oleh pelaku terhadap anak saya. Anak saya sampai saat ini masih trauma," katanya kepada Jubi, Selasa (11/12/2018) melalui sambungan telepon selularnya.

In pun mengaku bahwa anaknya hingga kini masih enggan untuk ke sekolah karena jalan menuju ke sekolahnya harus melalui depan rumah pelaku.

"Pelaku sampai sekarang juga masih berkeliaran bebas. Memang dia mendapatkan penangguhan tahanan karena alasan sakit. Tetapi pihak jaksa juga harus mempunyai hati nurani dengan mempertimbangkan apakah kalau memberikan penangguhan tahanan tersebut berdampak tidak terhadap anak-anak yang dicabulinya," ujarnya.

Untuk itu, dirinya berharap pihak PN Jayapura khususnya para hakim yang menyidangkan kasus tersebut untuk bisa meninjau kembali putusan itu.

"Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Keadilan memang selalu jauh dari kami orang lemah," katanya sambil terisak diseberang telepon selularnya.

Loading...
;

Terpisah Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia (APIK) Papua, Nur Aida Duwila yang sejak awal menangani kasus tersebut kepada Jubi mengatakan pihaknya sangat berharap ketika putusan jatuh yang bersangkutan bisa langsung dieksekusi untuk dimasukkan ke Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura.

"Sayangnya, PH (Penasehat Hukum) dari pelaku mengajukan banding atas tuntutan hakim. Tapi kami sudah siap, apabila pada proses bandingnya hukumannya dibawah tujuh tahun maka kami akan menempuh jalur kasasi," katanya.

Dikatakan, berdasarkan pengakuan anak kandung dari pelaku yang juga korban pemerkosaan dari ayahnya sendiri itu, mendapatkan ancaman akan dibunuh oleh ayahnya apabila masih ikut sebagai saksi dalam persidangan.

"Akhirnya anaknya menarik laporannya. Ini yang meringankan pelaku. Tetapi pihak hakim juga harus melihat korbannya ini lebih dari satu, hakim harus memakai hati nurani kalau menangani kasus anak khususnya pelecehan seksual. Ini yang saya tidak mengerti dengan pikiran dari hakim tersebut," ujarnya.

Terkait dengan kebijakan hakim yang memberikan surat penangguhan tahanan kepada pelaku, kata Dwila pihaknya sudah berupaya menemui wakil kepala PN Jayapura dan dari hasil pertemuan tersebut menurutnya, pelaku memang sudah ditahan dan telah menjalani beberapa kali siding, namun pelaku melalui kuasa hukumnya meminta untuk mendapatkan tahanan kota karena pelaku sering sakit-sakitan.

"Jadi beliau (Wakil PN Jayapura) menyarankan agar kami membuat surat yang ditujukan kepada Hakim yang menangani kasus ini untuk dapat ditinjau lagi surat permohonan tahanan kota tersebut. Kami akan buat suratnya, dan kami juga akan lampirkan kronologis kondisi korban saat ini sehingga dapat menjadi pertimbangan hakim untuk mengambil keputusan," kata Duwila. (*)

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top