Follow our news chanel

Previous
Next

Pelaku wisata ini tolak pembangunan plaza kuliner

Ilustrasi kuliner, pixabay.com
Pelaku wisata ini tolak pembangunan plaza kuliner 1 i Papua
Ilustrasi kuliner, pixabay.com

Pembangunan Plaza Kuliner dinilai tidak sesuai dengan estetika wisata, ekonomi produktif warga sekitar dan membatasi kreativitas warga.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Kulon Progo, Jubi– Pelaku wisata yang tergabung Paguyuban Pondok Laguna Wisata Pantai Glagah, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, menolak pembangunan Plaza Kuliner yang akan digunakan untuk merelokasi pedagang Pantai Glagah. Pembangunan Plaza Kuliner dinilai tidak sesuai dengan estetika wisata, ekonomi produktif warga sekitar dan membatasi kreativitas warga.

“Kami menolak pembangunan Plaza Kuliner, dan relokasi sementara hanya akan menghamburkan uang negara, baik yang bersumber dari APBD maupun bantuan dana alokasi khusus (DAK),” kata Sekretaris Paguyuban Pondok Laguna Wisata Pantai Glagah, Mujiyono, Rabu, (29/1/2020).

Baca juga : Wisata bahari harus didukung usaha kuliner dan kerajinan

Pasar Belut Alternatif Wisata Kuliner Khas DI Yogyakarta

Pengelola objek wisata Biak ikuti pelatihan kuliner

Loading...
;

Ia juga mengatakan Paguyuban Pondok Laguna Wisata Pantai Glagah memberikan mosi tidak percaya kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang atas kebijakan penataan kawasan Pantai Glagah.

Menurut dia, berdasarkan rapat kerja anggota Paguyuban Pondok Laguna Wisata Pantai Glagah pada 17 Januari 2020, menghasilkan beberapa keputusan, di antaranya mosi tidak percaya kepada Kepala Dinas Pariwisata dan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang.

“Dua dinas tersebut menciderai hati pelaku wisata Pantai Glagah, dan tidak pernah melibatkan kami dalam rencana penataan kawasan Pantai Glagah,” kata Mujiyono menjelaskan.

Ketua Komisi IV DPRD Kulon Progo, Istana mengatakan lokasi bangunan relokasi pedagang Pantai Glagah tidak memperhitungkan kondisi alam dan kondisi lingkungan. “Sehingga menjadi tidak menarik dan bagi pedagang sangat memberatkan, sehingga harus dicarikan solusinya,” kata Istana.

Menurut Istana, hasil berdiskusi dengan pedagang menunjukkan mereka tidak pernah diajak bicara oleh Dinas Pariwisata tentang konsep penataan dan memanfaatkan ruang agar lebih efektif dan mendukung wisatawan lebih nyaman.

“Ini sama sekali kurang komunikasi antara pedagang dan pelaku wisata, dengan Dinas Pariwisata,” kata Istana menjelaskan.

Ia menyarankan seharusnya sebuah kebijakan harus ada komunikasi yang menyeluruh, terpadu dengan berbagai unsur pemangku kepentingan di dalamnya. Termasuk pedagang yang menjadi bagian penting untuk diajak bicara. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top