Follow our news chanel

Previous
Next

Pembelajaran daring hanya menguntungkan “keluarga kaya”

Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar sedang belajar menggambar - Jubi/Ramah
Pembelajaran daring hanya menguntungkan “keluarga kaya” 1 i Papua
Seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar sedang belajar menggambar – Jubi/Ramah

Oleh: Alfredo J.M. Manullang

Pandemi virus corona (covid-19) saat ini telah melanda lebih dari 200 negara di dunia. Indonesia menjadi salah satu negara yang turut terkena dampak pandemi virus corona.

Hingga saat ini virus tersebut belum juga bisa dikendalikan. Hal itu ditandai dengan bertambahnya jumlah korban yang terinfeksi virus tersebut.

Jika merujuk pada data dari CSSE Johns Hopkins University, sampai jam 08.35 WIT, 28 April 2020, total jumlah kasus positif covid-19 di dunia tercatat mencapai 3.035.177 pasien, 210.611 pasien meninggal.

Dampak mewabahnya virus corona tentu sangat dirasakan oleh dunia pendidikan Indonesia. Lebih lanjut United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), menyebut hampir 300 juta siswa di seluruh dunia terganggu kegiatan sekolahnya dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan.

(Dalam) Menyikapi hal tersebut sejak 16 Maret 2020 pemerintah memutuskan agar siswa-siswi belajar dari rumah (pendidikan jarak jauh) semasa pandemi virus corona ini. Kebijakan ini diharapkan dapat menekan penyebaran corona.

Pendidikan jarak jauh termaktub dalam Pasal 1 angka 15 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi komunikasi, informasi, dan media lain.

Loading...
;

Lebih lanjut, untuk mewujudkan hal tersebut maka proses belajar-mengajar di rumah dilakukan oleh siswa dan guru secara online atau dalam jaringan (daring). Konsep pembelajaran daring sebenarnya sudah berkembang lama dan telah diberlakukan oleh sebagian guru dalam menunjang proses pembelajarannya.

Materi pembelajaran yang diberikan oleh guru dalam grup kelas bisa beragam dalam bentuk penyampaiannya, misalnya berupa teks, gambar, video atau suara. Bahkan keempatnya dapat diberikan secara bersamaan.

Hal ini tentu selaras mengingat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi merupakan keharusan dalam pendidikan yang secara tegas diatur dalam Permendikbud Nomor 22 Tahun 2016.

Namun kebijakan tersebut bukan tanpa hambatan. Mengingat proses pembelajaran secara daring sangat bergantung dengan pemanfaatan teknologi.

Dari observasi penulis, kendala yang dialami oleh peserta didik tentu bervariasi, mulai dari tidak memiliki handphone, komputer/laptop, hingga akses jaringan internet yang belum tersedia secara merata.

Situasi tersebut menjadi kendala utama peserta didik yang tinggal di daerah terpencil, misalnya beberapa kabupaten di Provinsi Papua. Akibatnya kegiatan belajar-mengajar tidak dapat dilakukan secara efektif.

Agustinus Molle, Pengawas Sekolah pada Dinas Pendidikan Kabupaten Supiori mengatakan, kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak dapat berjalan secara efektif. Mengingat sebagian sekolah berada di wilayah kepulauan yang belum tersedia fasilitas penunjang pembelajaran dilakukan secara daring. Misalnya akses jaringan internet.

Hal ini justru menegaskan adanya disparitas yang nyata antarpeserta didik di daerah dengan perkotaan. Pembelajaran melalui sistem daring barangkali bukan menjadi masalah bagi siswa-siswi dari kalangan keluarga mampu.

Namun sebaliknya bagi mereka yang berasal dari keluarga tidak mampu hal tersebut menjadi masalah yang serius. Padahal terhadap mereka pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Vide Pasal 11 ayat (1) UU aquo.

Oleh karenanya sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus merespon situasi ini dengan tepat. Mengingat setiap sekolah memiliki standar capaian ketuntasan dari tiap materi pembelajaran.

Berkaitan dengan hal tersebut maka diharapkan dinas terkait dan sekolah perlu membuat kebijakan guna mengakomodir kendala yang dihadapi para peserta didik. Misalnya tiap guru kelas atau mapel menyiapkan tugas dan materi pembelajaran yang berupa print out untuk diberikan bagi peserta didik yang tidak dapat melakukan proses KBM secara daring.

Hal ini dilakukan dengan membuat jadwal yang sistematis, terstruktur dan simple guna memudahkan orang tua dalam mengontrol belajar anak di rumah selama masa pandemi virus corona (Covid-19) ini. (*)

Penulis adalah alumnus Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih Papua dan Magister Hukum Litigasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top