Follow our news chanel

Previous
Next

Pemberdayaan generasi muda Pasifik kunci untuk dorong pembangunan

Rumah-rumah panggung di Desa Motu di Port Moresby pada 2014. Banyak orang muda yang datang ke ibu kota PNG untuk mengejar mimpi mereka. - The Guardian/ Alan Porritt/AAP

| Papua No.1 News Portal | Jubi

Oleh Dickson Sorariba di Port Moresby

Jim Pia bangun pukul lima tiap pagi agar dapat naik bus pertama ke kota.

Setiap hari, lelaki berusia 20 tahun itu berdesak-desakan di atas sebuah bus dari daerah permukiman Bushwara, di pinggir Port Moresby, untuk memastikan ia bisa sampai tepat waktu dan mendapatkan tempat untuk berjualan di dalam Pasar Gordon di ibu kota, Port Moresby.

Dari pukul 8 pagi, ketika gerbang pasar buka, hingga sore hari, Pia dengan santai menjual barang dagangannya – sepatu laki-laki dan perempuan. Ini, tanpa direncanakan, telah menjadi rutinitas sehari-harinya.

“Sudah dua tahun berlalu sejak saya menyelesaikan sekolah saya dan datang ke Port Moresby untuk mengejar mimpi saya,” katanya kepada the Guardian dari kiosnya.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah atasnya, Pia melanjutkan pendidikan dengan menyelesaikan diploma dalam bidang penjualan dan pemasaran dari Kokopo Business College di Pulau New Britain di PNG. Saat ini dia sedang menabung untuk membiayai studi strata satunya. Namun Pia masih belum mendapatkan pekerjaan tetap di Port Moresby, meskipun ia telah mengirimkan banyak surat lamaran dan mengikuti puluhan wawancara kerja.

Loading...
;

Pia adalah satu di antara ribuan orang-orang muda PNG yang meninggalkan kampungnya di daerah pedesaan demi kota besar yang memikat.

Pia juga merupakan karakteristik dari demografi orang muda Pasifik, yang dikenal sebagai ‘youth bulge’, yang dapat dapat mendorong pertumbuhan dan pembangunan, atau, bak sebuah bom waktu, memicu kerusuhan sipil dan ketakstabilan, menurut sebuah laporan baru dari Lowy Institute.

Kepulauan Pasifik adalah salah satu daerah termuda di dunia – separuh dari populasi kawasan ini berusia di bawah 23 tahun – dan kawasan ini masih akan ‘muda’ untuk beberapa dekade mendatang. Dengan laju kelahiran di beberapa negara hampir mencapai dua kali lipat angka rata-rata global, youth bulge diperkirakan tidak akan mencapai puncaknya hingga pertengahan abad ini.

Fenomena ini sangat nyata di negara-negara Melanesia di Pasifik yang padat, PNG, Kepulauan Solomon, dan Fiji, dimana sepertiga populasi berumur 14 tahun atau di bawah itu.

Jika dididik dan dipekerjakan, sekelompok orang muda yang besar ini dapat memperkuat ekonomi dan pengembangan Pasifik.

Tetapi prospeknya jika kelompok itu bertumbuh dewasa dengan latar belakang pendidikan yang buruk, keterampilan yang rendah, dan prospek kerja yang minim, ini meningkatkan risiko adanya kerusuhan sipil dan ketakstabilan sosial.

Di samping perubahan iklim, ketangguhan terhadap bencana alam, dan pemulihan dari pandemi Covid-19, demografi Pasifik merupakan salah satu tantangan terbesarnya, menurut tulisan Lowy.

“Kesejahteraan ekonomi, kesuksesan politik, dan kestabilan sosial di wilayah Kepulauan Pasifik kedepannya akan bergantung pada memanfaatkan demografis ini dan mencegah marginalisasi dan kekecewaan orang muda,” tulis Catherine Wilson, penulis laporan tersebut.

“Jumlah populasi orang muda yang tinggi dapat mendorong perkembangan sosial dan manusia, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi, jika sistem pendidikan bisa menanggapi permintaan akan edukasi, dan jika tenaga, keterampilan, dan potensi kepemimpinan mereka digunakan. Di sisi lain, jika orang-orang muda mendominasi angka pengangguran dan lalu diabaikan, peluang untuk naiknya laju kemiskinan, kekecewaan, ketakstabilan sosial, dan konflik, cukup tinggi.”

Populasi dari 22 negara berdaulat dan wilayah di Pasifik diprediksikan akan meningkat, dari 11,9 juta saat ini menjadi 19,7 juta pada tahun 2050, menambah beban bagi sektor kesehatan, pendidikan, dan perumahan, serta berpeluang menyebabkan jutaan orang mengalami rawan pangan, tanpa tanah untuk digarap atau pekerjaan.

Laju kelahiran sangat tinggi di seluruh wilayah Pasifik, didorong oleh tradisi dan budaya yang mendorong keluarga besar, agama, penggunaan kontrasepsi yang minim, dan kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan reproduksi. Di PNG, tingkat kelahiran adalah 4,4 bayi per perempuan, dan 65 kelahiran per 1.000 anak perempuan atau perempuan berusia 15-19 tahun, jauh di atas rata-rata global yaitu 2,4 dan 44.

Wilson berkata kepada the Guardian bahwa urbanisasi orang muda, di mana kaum muda pindah ke kota besar untuk mencari pekerjaan, terlalu sering berubah menjadi mimpi yang mengecewakan.

“Banyak anak-anak muda datang ke kota karena mereka melihat kota ini akan memberikan mereka kesejahteraan, mereka akan punya uang, pekerjaan, gaya hidup yang lebih menarik dan modern, dan hiburan. Bagi sebagian, mimpi itu menjadi kenyataan, tetapi bagi banyak orang yang pergi ke Port Moresby atau Honiara, jika mereka tidak memiliki pendidikan atau keterampilan untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan, mereka terperangkap dalam siklus kemiskinan urban.”

Bank Pembangunan Asia (ADB) berpandangan bahwa hal tersebut mendorong “urbanisasi dari kemiskinan”, dimana daerah permukiman liar dipenuhi dengan ketimpangan pendapatan, kepadatan penduduk, kualitas perumahan yang dibawah standar, pengecualian sosial, dan angka pengangguran yang tinggi. Pemerintah negara sudah bersusah payah dalam menyediakan bahkan layanan yang paling mendasar – seperti air bersih – ke daerah-daerah pemukiman informal.

“Faktor-faktor ini dapat menjadi katalis untuk kejahatan, kekerasan, dan rasa ketakamanan pribadi di daerah urban, semua faktor ini telah terjadi dalam berbagai tingkat di Port Moresby, Port Vila, dan Honiara,” menurut laporan Lowy.

Menurut Wilson, banyak negara Kepulauan Pasifik yang telah berupaya keras untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) mereka dalam meningkatkan kehadiran orang muda di sekolah. Namun kualitas pendidikan di banyak negara Pasifik masih tertinggal, sehingga tingkat literasi tetap rendah, terutama di daerah pedesaan atau di pulau-pulau terluar.

“Kualitas pendidikan, khususnya di daerah pedesaan, masih menjadi masalah yang genting. Dan itu disebabkan oleh pelatihan guru, sumber daya dalam belajar-mengajar, atau infrastruktur fisik. Pelajar mengikuti pembelajaran di sekolah, tetapi lulus dengan tingkat literasi yang rendah. Dan tanpa keterampilan, mereka kembali ke ekonomi informal.”

Di Pasar Gordon, Pia berkata, menurutnya lembaga-lembaga pendidikan menghasilkan lulusan dalam jumlah besar, tetapi tidak dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh industri.

Ia mencoba untuk tetap optimis. “Kadang-kadang saya tidak mendapatkan pembeli sama sekali karena banyak pedagang lainnya yang menjual barang serupa. Mereka sama seperti saya.“ (The Guardian)

Dickson Sorariba adalah wartawan lepas yang tinggal di Port Moresby.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top