Follow our news chanel

Pembunuhan di Kampung Karida: perempuan Melanesia di tengah konflik

Perempuan mungkin harus menunda waktu meninggalkan rumah, untuk mengumpulkan barang-barang penting yang diperlukan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan tanggungan mereka. - Lowy Institute/The Interpreter/Clement Bourse/Flickr
Pembunuhan di Kampung Karida: perempuan Melanesia di tengah konflik 1 i Papua
Perempuan mungkin harus menunda waktu meninggalkan rumah, untuk mengumpulkan barang-barang penting yang diperlukan untuk memastikan keselamatan dan kesejahteraan tanggungan mereka. – Lowy Institute/The Interpreter/Clement Bourse/Flickr

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Nicole George

Ketika begitu banyak ‘pakar’ yang telah menuliskan refleksi atas aksi kekerasan minggu lalu di Provinsi Hela, Papua Nugini, masih ada, setahu saya, satu pandangan yang hanya melelahkan dan membuat marah penduduk lokal. Meskipun demikian, saya merasa terdorong untuk turut berkontribusi dalam debat tentang aksi kekerasan di Kampung Karida baru-baru ini, karena saya khawatir melihat minimnya perhatian yang diberikan untuk memahami alasan mengapa perempuan dan anak-anak menjadi korban utama dalam tragedi ini.

Oleh karena itu, saya memasuki perdebatan ini sebagai seseorang yang telah meneliti isu gender dan konflik di daerah kepulauan Pasifik selama hampir dua dekade, dan sebagai seseorang yang telah mencoba untuk menganalisis dinamika gender dari konflik dan rasa tidak aman secara umum. Saya tidak mengklaim memiliki keahlian tentang PNG, atau Hela khususnya, saya juga tidak ingin melawan penilaian orang lain. Jika saya melakukan hal itu, itu berarti saya telah melakukan penghinaan besar bagi mereka yang kehilangan nyawanya. Alih-alih, saya menuliskan beberapa analisis gender sementara, dengan harapan masukan ini dapat membantu kita pemikiran kita mengenai peristiwa-peristiwa ini.

Biarkanlah saya rangkum secara singkat apa yang telah dikatakan sejauh ini. Kita sudah sering mendengar tentang perang suku di wilayah ini dan tindakan kekerasan yang mungkin dipicu oleh, menurut beberapa pakar, sengketa kepemilikan tanah yang semakin memburuk ketika industri ekstraktif memasuki wilayah tersebut. Kita telah diinformasikan tentang seberapa langkanya polisi yang, sebagaimana ditekankan oleh Perdana Menteri James Marape setelah serangan itu, hanya berjumlah 60 petugas untuk seluruh Hela yang jumlah populasinya mencapai 400.000 orang. Kita juga telah mengetahui tentang penyelundupan senjata dan amunisi di wilayah itu dan bagaimana persoalan ini telah menyebabkan konflik di wilayah ini menjadi lebih fatal.

Mengapa perempuan dan anak-anak menjadi sasaran serangan pekan lalu tetap menjadi teka-teki yang belum terjawab oleh berbagai analisis sejauh ini? Aspek kekerasan yang terjadi telah mengejutkan banyak juru bicara lokal, yang menggambarkan penargetan perempuan secara langsung sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Serangan mematikan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Meskipun begitu, pelajaran dari konflik-konflik lainnya di Pasifik Barat juga dapat menunjukkan di mana dan bagaimana struktur sosial-ekonomi dan politik gender yang membuat perempuan dan tanggungan mereka, termasuk anak-anak, lebih rentan terhadap kekerasan ketika konflik sedang memburuk.

Loading...
;

Contohnya, saat saya meneliti dampak gender dari konflik panjang di Bougainville, konteks yang serupa mana perempuan juga sering menjadi saksi dan korban kekerasan akibat perang, telah mengajarkan kepada saya bahwa saat mereka merasa tidak aman, perempuan sering membahas tanggung jawab keluarga daripada keselamatan pribadinya. Ini berarti dalam konteks di mana risiko bahaya meningkat dengan cepat, laki-laki mungkin lebih cepat melarikan diri, seringkali dengan sigap meraih beberapa senjata untuk membela diri dan keluarga mereka. Sebaliknya, perempuan mungkin harus menunda waktu meninggalkan rumah untuk mengumpulkan barang-barang penting, ‘the pots and pans’ seperti sebutan salah satu lawan bicara saya, mereka perlu memastikan keselamatan dan kesejahteraan keluarga mereka.

Hanya setelah memegang barang-barang ini, mereka akan meninggalkan tempat tinggal mereka. Membawa lebih banyak barang, perempuan mungkin sulit melarikan diri secepat laki-laki di komunitas mereka, sehingga risiko kekerasan lebih dulu mencapai mereka.

Namun, rasa tanggung jawab keluarga ini tidak hanya dimiliki oleh perempuan. Penelitian saya tentang peran perempuan di daerah konflik juga mengajarkan kepada saya bahwa tekanan itu diperkuat oleh struktur normatif yang kuat, yang memberikan kedudukan sosial kepada perempuan ketika mereka bertindak sebagai ibu dan istri yang patuh dan tidak mementingkan diri sendiri. Perempuan yang memprioritaskan kesejahteraan mereka sendiri di atas keluarga mereka dicap sebagai perempuan yang lalai, egois, dan jahat.

Dalam sebuah komentar yang diterbitkan setelah serangan Karida, tampak jelas keterikatan perempuan-perempuan itu dengan kampung dan tempat tinggal mereka sangat kuat. Seorang juru bicara kampung, menggambarkan perempuan-perempuan yang terbunuh sebagai bagian penting dalam komunitas itu, menjelaskan bahwa perempuan-lah yang memastikan kelangsungan kehidupan di kampung itu, sementara laki-laki pergi untuk mengadu nasib. Keterikatan sosial-ekonomi dengan kampung dan tempat tinggal mereka mungkin juga berpengaruh terhadap kerentanan perempuan dan anak-anak Karida dalam peristiwa ini.

Penelitian telah menunjukkan bagaimana, dalam masyarakat Melanesia, ekspektasi atas gender cenderung membiasakan integrasi laki-laki dalam ekonomi tunai dan, dalam konteks ini, mobilitas laki-laki demi mencari pekerjaan, mungkin di perusahaan-perusahaan tambang terdekat. Tambang belum menjadi industri yang menguntungkan bagi perempuan PNG, dan mobilitas perempuan tidak sebesar laki-laki. Namun ini bukan berarti perempuan bukan pelaku ekonomi. Sebaliknya, mereka mungkin lebih bertanggung jawab atas ekonomi lokal dari berjualan hasil kebun, ternak, dan produk kerajinan tangan mereka. Tetapi ini, sekali lagi, mengurangi kecenderungan mereka untuk lari cepat-cepat ketika kekerasan mengancam. Sebaliknya, mereka cenderung memilih untuk tinggal dan melindungi sumber daya ekonomi mereka terbatas, yang umumnya terletak dekat tempat tinggal mereka.

Penting juga untuk merenungkan konsekuensi gender dari proliferasi senjata. Pengalaman saya meneliti perempuan di Bougainville dan Kepulauan Solomon telah mengajari saya, bahwa ketersediaan senjata dapat dengan mudah mengubah struktur kekuasaan yang sudah lama ada, yang sebelumnya berfungsi untuk mengurangi tindakan kekerasan secara umum, serta tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan. Adat dan struktur tradisional yang ada dapat melemah dalam keadaan ini, dan dengan adanya senjata, telah dengan mudah mengubah proses penyelesaian konflik dan sengketa adat lainnya, yang sebelumnya dipimpin oleh tetua-tetua masyarakat dan kadang-kadang perempuan. Sister Lorraine Garasu menggambarkan situasi perempuan selama era krisis di Bougainville dalam konteks ini, sebagai kehidupan di mana keselamatan perempuan terus dinegosiasikan ‘antara dua senjata’.

Akhirnya, sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memastikan mereka yang bersalah akan dihukum, serta memastikan ketertiban dipulihkan di wilayah tersebut, polisi dalam jumlah yang besar telah dikerahkan di daerah yang terkena dampak kekerasan.

Tetapi mimpi bahwa rasa tidak aman yang dialami perempuan dapat dihilangkan dengan meningkatkan kehadiran polisi di wilayah ini, mengabaikan kenyataan yang jauh lebih rumit.

Laporan-laporan tentang operasi polisi di PNG serta di daerah-daerah lain di Pasifik telah menunjukan dengan jelas, seringnya petugas kepolisian menjadi ancaman terhadap keamanan perempuan. Ketakutan perempuan akan kekerasan polisi dapat menghalangi mereka dari melihat unjuk kekuatan negara ini, sebagai sesuatu yang bisa menjamin keselamatan mereka.

Tingkat kekerasan mengerikan yang dialami di Kampung Karida mungkin belum pernah terjadi sebelumnya, tetapi kekerasan gender adalah bagian dari sejarah konflik kekerasan di Pasifik serta banyak bagian lain dunia. Tentu saja, ada faktor-faktor lokal yang menyebabkan bagaimana dan mengapa situasi di situ mencapai titik akhir yang tragis awal pekan lalu. Tetapi jika ada satu solusi yang produktif, solusi itu juga harus mengenali struktur-struktur gender yang menambah rasa tidak aman perempuan dan anak-anak dalam keadaan konflik. (The Interpreter oleh Lowy Institute)

Nicole George adalah dosen studi perdamaian dan konflik di Universitas Queensland. Sejak 2000-an ia telah melakukan penelitian di wilayah Kepulauan Pasifik dengan fokus pada politik, keamanan gender, dan transisi pasca-konflik di Fiji, Kaledonia Baru, dan Bougainville.


Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top