Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Pemda di Wilayah Adat Meepago diminta dorong budidaya anggrek bahan noken

Noken Anggrek Papua
Foto ilustrasi, Sellina Takimai memperlihatkan noken berbahan serat anggrek. - Jubi/Ramah 

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Wilayah Adat Meepago yang meliputi Kabupaten Paniai, Deiyai, Dogiyai, Intan Jaya memiliki potensi eknomi kreatif yang melimpah, termasuk kerajinan tradisional noken atas tas anyaman berbahan kulit atau serat anggrek. Pemerintah daerah setempat diminta mendorong budidaya anggrek, demi kelestarian anggrek maupun tradisi membuat noken berbahan anggrek.

Salah satu tokoh intelektual Meepago, Andy Gobay menyatakan pemerintah daerah harus mendorong budidaya anggrek hitam manis dan anggrek kuning yang menjadi bahan baku noken anggrek. “Noken anggrek yang berbahan kulit kayu anggrek berwarna kuning dan hitam manis, dililit [dan dianyam] menjadi sebuah noken yang cantik. Bahan baku itu langka, antara lain berasal dari Distrik Mapia Barat dan Distrik Piyaiye, Dogiyai,” katan Gobay saat dihubungi Jubi melalui panggilan telepon pada Jumat (31/7/2020).

Gobay menyebut noken berbahan anggrek dapat menghidupkan perekonomian warga Distrik Mapia Barat dan Piyaiye, karena barang kerajinan itu diminati pasar. “Untuk mengantisipasi kelangkaan anggrek sebagai bahan baku noken anggrek, para pengrajin dan petani anggrek membudidayakan lahan anggrek yang luas di Mapia Barat dan Piyaiye,” Gobay.

Pemda di Wilayah Adat Meepago diminta dorong budidaya anggrek bahan noken 1 i Papua

Baca juga: Ini saran para pengrajin agar noken tetap bertahan

Menurut Gobay, saat ini ada perajin noken anggrek yang telah menggunakan kulit anggrek hasil budidaya di halaman gereja atau pekarangan rumah. Akan tetapi, banyak pula perajin noken anggrek yang menggunakan kulit anggrek yang tumbuh alami di hutan.

“Kami berharap  kepada pemerintah daerah di Wilayah Adat Meepago  agar melakukan pemberdayaan [masyarakat untuk bisa] membudidayakan tanaman anggrek hitam manis dan anggrek kuning. [Pemerintah daerah bisa] membekali [perajin noken anggrek] tata cara [membudidayakan] anggrek sejak dini,” kata Gobay.

Gobay mengatakan, semestinya pemerintah daerah di Meepago pun ikut berkontribusi dalam pengembangan lahan anggrek di wilayahnya. “[Jika itu dilakukan], kita bisa jadikan noken anggrek sebagai ikon Wilayah Adat Meepago. Para petani anggrek bahkan bisa berkompetisi dalam pameran anggrek tingkat lokal, nasional, dan internasional,” kata Gobay.

Loading...
;

Baca juga: Noken anggrek seharga sepeda motor

Direktur Ecology Papua Institute (EPI), Titus Chiristoforus Pekey mengatakan, Tanah Papua sangat berpotensi, karena kaya sumber daya alam maupun kearifan lokal. Beragam tradisi mengasah kreatifitas dan imajinasi masyarakat adat Papua untuk mengolah berbagai hasil alam menjadi berbagai jenis kerajinan tangan, termasuk noken.

“Kita semua perlu menjaga, merawat, dan melindungi hutan yang menjadi basis ekologi orang Papua. Bahan baku noken juga ada di hutan, sehingga perlindungan hutan menjadi penting,” kata Pekey.

Pekey menyatakan noken telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kelestarian tradisi orang Papua menganyam noken sangat bergantung kepada kelestarian berbagai tumbuhan hutan yang menjadi bahan baku membuat noken. Oleh karena itu, Pekey meminta pemerintah daerah di Papua memproteksi hutan di Papua. “Kita harus kembali mendalami ilmu noken itu. Sebab noken mengajarkan kita tentang berbagi, demokrasi, kebenaran, dan keadilan yang terkadung,” kata Pekey yang juga penulis buku ‘Manusia Mee di Papua’ dan buku ‘Cermen Noken Papua’ itu.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top