HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Pemerintah daerah dinilai abaikan nasib pengungsi Nduga

Seorang ibu di lokasi pengungsian masyarakat Nduga sedang memberikan susu kepada anaknya - Jubi/Albertus Vembri
Seorang ibu di lokasi pengungsian masyarakat Nduga sedang memberikan susu kepada anaknya pada April 2019 lalu. – Jubi/Albertus Vembri

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Koordinator Relawan Pengungsi Nduga di Jayapura, Esther Haluk mengatakan pemeritah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota di Papua dan Papua Barat mengabaikan nasib para pengungsi dari Kabupaten Nduga, Papua. Para pengungsi yang menghindari konflik bersenjata di Nduga itu telah sembilan mengungsi ke hutan dan kabupaten tetangganya.

Hal itu disampaikan Esther Haluk saat dihubungi melalui sambungan telepon pada Kamis (3/10/2019). Haluk menyatakan selama sembilan bulan para pengungsi bertahan hidup di hutan, hidup dengan berbagai keterbatasan.

“Para pengungsi bertahan hidup sendiri dengan swadaya di dalam hutan. Sebagian lainnya menumpang di rumah keluarga mereka, hingga dalam satu rumah mencapai jumlah 20 dan 30 orang. Mereka kekurangan makanan. Mereka yang sakit juga takut untuk berobat,” kata Haluk.

Ia menyayangkan sikap apatis para kepala daerah dan para pejabat di Papua, yang dinilai Haluk telah membiarkan saudaranya, para pengungsi Nduga, menderita tanpa perhatian.

Haluk membandingkan pengabaian nasib pengungsi Nduga dengan kepedulian berbagai pemerintah daerah dari berbagai wilayah di Indonesia yang berupaya membantu para pengungsi di Wamena. “Kakak senior, para pemimpin, dan kepala daerah di wilayah pegunungan tengah Papua diam [dan] melipat tangan [atas nasib,” ujar Haluk.

Ester mengatakan rasa kemanusiaan tidak boleh dibiaskan oleh diskriminasi, dan menyeru agar pemerintah daerah di Tanah Papua memberikan perhatian kepada nasib para pengungsi Nduga. “Masalah Nduga hari ini, jika kita mau melihatnya,  siapapun pasti bisa terpanggil untuk membantu,” katanya.

Loading...
;

Ester berharap para pejabat dan pemerintah daerah di Tanah Papua tidak terjebak dalam cara pandang bahwa masalah pengungsi Nduga adalah masalah politik. Ia menegaskan, apapun penyebab warga Nduga mengungsi, masalah pengungsi Nduga adalah masalah kemanusiaan. “Masalah kemanusiaan tidak boleh dicampur aduk dengan masalah lain. Orang susah, orang mau mati, harus kita bantu,” tegasnya.

Sejak 2 Desember 2018, ribuan warga sipil di Kabupaten Nduga mengungsi demi menghindari konflik bersenjata aparat keamanan yang sedang mengejar kelompok bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat yang dipimpin Egianus Kogoya. Para warga sipil itu antara lain mengungsi ke Kabupaten Lanny Jaya, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Jayawijaya, dan Kabupaten Mimika. Sebagian lainnya memilih mengungsi ke hutan, agar tidak menjadi korban salah sasaran.

Ketua Ketua Pemuda Baptis di Tanah Papua, Sepi Angginak Wanimbo mengatakan pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Papua harus netral dan jujur menangani keberadaan para pengungsi dari Kabupaten Nduga. Wanimbo mengingatkan, setiap manusia sederajat dan sama berharganya di mata Tuhan.

“Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, pemerintah pusat maupun pemerintah daerah cepat menangani dan membantu pengungsi banjir bandang Sentani atau korban konflik di Wamena. Pengungsi masyarakat Nduga sudah terbengkalai, hidupnya tidak nyaman dan membutuhkan pertolongan dari pemerintah,” katanya.

Wanimbo berharap pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Provinsi Papua juga akan tergerak untuk membantu para pengungsi Nduga.

“Pemerintah pusat dan pemerintah harus membantu pengungsi dengan adil, netral, jujur dan merata. Ini juga sesuai dengan prinsip negara Indonesia yang mengaku akan mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,”  katanya.(*)

Editor: Aryo Wisanggeni G

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa