Follow our news chanel

Halaman Kerjasama
Kampanye 3M
(Memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan)

Jubi Papua

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Author :

papua
Lapak-lapak pedagang di bekas terminal PTC Entrop, Distrik Jayapura Selatan, Kota Jayapura, Papua, - Jubi/Ramah

Pemerintah diminta perhatikan nasib pedagang di bekas terminal PTC Entrop Jayapura

Papua No.1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Semenjak Terminal PTC Entrop, Kota Jayapura, Provinsi Papua sudah tidak difungsikan lagi pada 9 November lalu, penghasilan pedagang baik kios, warung makan, dan pedagang asongan hingga penjual buah sirih pinang semakin tak menentu.

Bila dalam hari bisa mengantongi antara Rp 500 ribu hingga Rp 3 juta, rata-rata pedagang hanya menghasilan di bawah Rp 500 ribu, bahkan ada yang memilih tutup atau tidak berjualan.

Pantauan Jubi, Rabu (11/11/2020) lapak-lapak pedagang yang biasanya dipenuhi pembeli baik penumpang dan sopir angkutan umum, kini tampak sepi. Trayek angkot yang dulunya padat mengantri, juga terlihat sepi.

“Saya memilih tetap berjualan karena belum jelas, apakah kami punya tempat (lapak) di terminal baru (Terminal tipe A Entrop) atau tidak,” ujar Asmawati, seorang pedagang di bekas terminal PTC Entrop Jayapura.

Dikatakan Asmawati, penghasilannya menurun drastis semenjak terminal pindah di samping SPBU Entrop. Dalam sehari ia hanya bisa berpenghasilan di bawah Rp 300 ribu, sementara penghasilan normalnya antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta.

“Sekarang sepi pembeli karena penumpang dan sopir taksi sudah di terminal baru. Saya jualan mulai 1988 tapi pindah-pindah tempat. Baru jualan di terminal ini sekitar 2002. Uang sewa setiap bulan mulai Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta tergantung dari jenis usahanya,” ujar Asmawati.

Menurut Asmawati, dengan dipindahkannya terminal bukan menambah kesejahteraan masyarakat, namun malah menyengsarakan karena kehilangan pekerjaan.

Loading...
;

“Sejak terminal dipindahkan, pemerintah tidak pernah mau datang melihat kami untuk menanyakan keberadaan kami, walaupun sekadar datang menanyakan penghasilan kami,” ujar Asmawati.

“Kami berharap ada perhatian dari Pemerintah Kota Jayapura untuk nasib kami ke depan karena pekerjaan saya sehari-hari hanya pedagang di terminal ini,” ujar Asmawati menambahkan.

Penanggungjawab keamanan pedagang, Bani Tabuni, mengatakan tidak pas memindahkan sopir angkot di Terminal Tipe A Entrop Jayapura.

“Kalau untuk penumpang jarak jauh boleh sangat cocok, tapi kalau untuk taksi dalam kota untuk jarak dekat, tidak pas karena akan menimbulkan kemacetan di depan jalan terminal baru,” ujar Tabuni.

Tabuni berharap, Pemerintah Kota Jayapura memperhatikan nasib pedagang karena agar tidak kehilangan pekerjaan, apalagi dalam situasi pandemi Covid-19, yang semuanya serba susah.

“Akhirnya, pedagang yang banyak ini mau ditaruh di mana. Kalau bisa harus disiapkan juga tempat berjualan untuk pedagang,” ujar Tabuni.

Salah satu warga, Ambari, mengatakan pedagang di bekas Terminal PTC Entrop Jayapura, jangan saling melempar kesalahan karena ada Pemerintah Daerah yang mengatur warganya.

“Jadi, kita harus mengikuti aturan pemerintah dulu. Sampai di mana pemerintah punya aturan itu, baru kita bisa buat tanggapan. Kalau mau langsung main dobrak-dobrak begitu, itu sama saja sudah tidak melalui prosedur, dan itu merupakan hal yang tidak bagus,” ujar Ambari.

Meski demikian, Ambari mengingat Pemerintah Kota Jayapura agar tidak tinggal diam dengan nasib pedagang kecil karena menunjang aktivitas terutama tersedianya kebutuhan makanan dan minuman.

“Kalau pedagang dibiarkan seperti ini (tidak diperhatikan), sama saja pemerintah membuat pedagang menderita,” ujar Ambari. (*)

Editor: Kristianto Galuwo

Scroll to Top