Follow our news chanel

Previous
Next

Pemerintah kehilangan suara mayoritas, Presiden Kiribati didesak mundur

Presiden Kiribati, Taneti Maamau. - RNZI/ Koro Vaka’uta
Pemerintah kehilangan suara mayoritas, Presiden Kiribati didesak mundur 1 i Papua
Presiden Kiribati, Taneti Maamau. – RNZI/ Koro Vaka’uta

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Tarawa, Jubi – Seorang anggota parlemen (MP) dari kubu oposisi di Kiribati mendesak presiden agar segera mundur, setelah pemerintah negara itu kehilangan mayoritas kursi parlemen untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir.

Namun Presiden Taneti Maamau, yang kini menghadapi kemungkinan adanya pemilihan baru oleh kubu oposisi yang terus menguat, mengatakan itu adalah keputusan rakyat.

Desakan ini datang setelah dua partai oposisi berhasil mengumpulkan 26 kursi di Parlemen pekan ini, meninggalkan pemerintah hanya dengan 20 kursi.

Seorang MP oposisi dengan parpol Boutokaan te Koaua, atau Partai BTK, Sir Ieremia Tabai, berkata Presiden Maamau tidak dapat menjalankan pemerintahan dengan kursi minoritas.

Maamau menegaskan bahwa rakyat Kiribati yang akan memutuskan dalam pemilihan umum tahun depan.

Blok Oposisi, termasuk sekelompok MP yang meninggalkan pemerintah dan bergabung parpol Kiribati Moa, atau Kiribati First Party, pekan lalu, telah semakin solid akibat tingginya ketidakpuasan setelah pemerintah Kiribati mengalihkan hubungan diplomatik dengan Tiongkok dari Taiwan pada September.

Loading...
;

Sidang terakhir majelis negara itu sebelum pemilu telah dimulai Senin lalu (4/11/2019), dan berakhir minggu depan.

Sementara itu, kubu oposisi Kiribati juga sedang meminta dukungan Pengadilan Tinggi agar bisa mengajukan mosi tidak percaya terhadap Presiden Maamau.

Pemimpin parpol Kiribati Moa, Banuera Berina, berkata juru bicara parlemen telah menolak upaya mereka untuk mengajukan mosi tidak percaya. Dia menambahkan bahwa keluhan yang diajukan terhadap juru bicara itu, akan didengarkan oleh Pengadilan Tinggi, Rabu ini (6/11/2019).

“Pemerintah akan berusaha sekeras mungkin untuk memastikan mereka bisa selamat dalam pertemuan terakhir, dan mereka lalu memiliki waktu tiga, empat, atau lima bulan ke depan untuk mengonsolidasikan dukungannya,” ungkap Berina.

Presiden Kiribati telah menyebut MP yang menyeberang dan bergabung partai baru itu sebagai pengkhianat. Di hadapan parlemen, ia menyayangkan para MP meninggalkan kubu pemerintah tanpa mendiskusikan keluhan mereka dengan kaukus terlebih dahulu.

Tiga belas MP telah bergabung dengan Kiribati Moa, menyebabkan pemerintahan minoritas yang sekarang hanya memiliki 20 dari 46 MP yang ada di Parlemen. (RNZI)

 

Editor : Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top