Pemerintah Kota-Kabupaten Jayapura harus segera revisi tata ruang

Pemerintah Kota-Kabupaten Jayapura harus segera revisi tata ruang 1 i Papua
Perumahan di kawasan Doyo yang mulai padat – Jubi/Kristianto Galuwo

Jayapura, Jubi – Tata ruang di Jayapura dari tahun ke tahun mulai berubah. Laham kosong kini telah diisi perumahan, perkantoran, sekolah. Kendaraan bermotor yang masuk di Kota Jayapura juga mulai meningkat.

Perubahan itu tidak terlepas dari kedatangan manusia dari luar Jayapura dengan macam-macam tujuan .Kepadatan penduduk di Kota Jayapura membuat masyarakat lebih memilih untuk membangun rumah di Kabupaten Jayapura.

“ Pemerintah kota dan kabupaten Jayapura berpikir untuk merevisi tata ruang. Karena Jayapura mulai padat penduduk,” kata Dosen Geografi Uncen Yehuda Hamokwarong saat dihubungi Jubi via telepon (25/6/2019).

Menurut dia, kota baru sudah harus dipikirkan pemerintah. “Pusat perkantoran Kabupaten Jayapura dapat dipindahkan ke Distrik Ebingfauw dan Kota Jayapura dipindahkan ke Koya Koso,” jelas dia.

Menurutnya, ini untuk meminimalisir resiko yang dihadapi nantinya oleh kota dan kabupaten Jayapura. Jika ingin selamatkan Siklop, Danau Sentani serta Teluk Youtefa, maka tata ruang harus direvisi.

“ Pemerintah pikirkan kota Jayapura menjadikan pusat bisnis, sedangkan pusat pemerintahan dipindahkan,” jelas dia.

Sebab jika masih tetap dan hanya memindahkan masyarakat, maka dia khawatir, para pengembang akan memanfaatkan kawasan penyangga Siklop untuk membangun perumahan dan vila-vila mewah.

Loading...
;

Dia juga turut mempertanyakan ijin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL/ UPL) yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk membangun perumahan. Sebab jika melihat pengalaman di belakang, banyak yang terkena dampak banjir adalah orang-orang yang tinggal di bantaran sungai.

“ Jika belum ada revisi tata ruang, maka jangan heran jika kawasan yang dianggap melindungi kawasan itu akan rusak. Karena Teluk Youtefa sudah ada jembatan Merah maka beberapa tahun lagi akan ada hotel dan vila mewah, Teluk Youtefa secara tidak langsung akan hilang,” kata dia.

Sebelumnya kepala PELNI Jayapura Harianto Sembiring menambahkan, pada waktu normal, sehari tercatat ada 600 orang pengguna jasa kapal laut. Namun dalam arus mudik balik baru-baru ini, jumlahnya meningkat tajam, mencapai 3.200 orang sehari, yang menumpang dua kapal menuju Jayapura.

Jumlah ini belum termasuk orang yang masuk dari jalur udara dan darat untuk menuju Jayapura.(*)

Editor: Syam Terrajana

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top