HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pemerintah Samoa didesak pulangkan delapan warganya ke Nadi

Delapan warga negara Samoa ditolak masuk Bandara Internasional Faleolo dan diterbangkan kembali ke Fiji. – Samoa Observer/ Misiona Simo

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Pada Minggu malam di awal pekan lalu, delapan warga Samoa ditolak masuk negaranya sendiri di Bandara Internasional Faleolo dan diterbangkan kembali ke Fiji.

Delapan orang Samoa – termasuk lima pasien yang baru kembali dari India untuk menerima perawatan kesehatan di rumah sakit dan tiga perawat mereka – adalah warga negara Samoa yang sah, dan ‘deportasi’ mereka menandai pertama kalinya hal ini terjadi dalam sejarah Samoa.

Suatu liputan tentang kejadian itu diterbitkan dalam koran Samoa Observer edisi Selasa, 11 Februari, 2020. Kelompok itu ditolak karena mereka transit melalui Singapura, yang baru-baru ini ditambahkan oleh Pemerintah Samoa ke daftar negara-negara dengan ‘risiko tinggi’ akibat virus corona.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan (MOH), Leausa Dr. Take Naseri, menerangkan mungkin para penumpang itu tidak memahami bahwa Pemerintah Samoa telah mengklasifikasikan Singapura sebagai salah satu negara ‘risiko tinggi’.

Di bawah peraturan terbaru, orang-orang Samoa dan non-Samoa, semua akan ditolak di perbatasan masuk Samoa, tanpa masa karantina selama dua minggu di negara lain dan sertifikat kesehatan.

Daftar itu terakhir direvisi Jumat malam sebelumnya, pada saat penerbangan mereka mungkin sudah lepas landas, tutur Leausa.

Loading...
;

Jepang, Singapura, dan Thailand adalah negara tambahan terbaru dalam daftar hitam Samoa, dimana jika ada pengunjung yang tiba di Samoa dari negara-negara itu mereka akan langsung ditolak, tanpa karantina 14 hari di negara dimana tidak dilaporkan virus corona, sebelum sampai di Samoa.

Larangan yang ketat diberlakukan oleh Pemerintah Samoa sebagai bagian dari tanggapannya terhadap ancaman kesehatan, yang dibawa oleh virus corona (COVID-2019) ini bisa dipahami.

Tetapi keputusan untuk melarang orang-orang Samoa yang pulang untuk kembali ke rumah mereka, biarpun pemerintah sudah menyatakan bulan lalu bahwa Rumah Sakit Distrik Faleolo adalah lokasi karantina untuk kasus-kasus COVID-2019 yang masih dicurigai, menunjuk pada kurangnya perencanaan dan pertimbangan yang matang dari pihak berwenang.

Padahal, dua perwira AL Samoa dikarantina di Rumah Sakit Distrik Faleolo pada akhir Januari, setelah mereka tiba dari Tiongkok. Mereka tidak dimasukkan kembali ke atas pesawat dan dikirim ke Nadi, Fiji, yang merupakan pelabuhan udara terakhir mereka sebelum sampai di Faleolo. Enam warga negara Tiongkok yang sampai dengan pesawat sama dengan dua anggota AL Samoa, dideportasi kembali ke Fiji.

Tetapi apa yang membuat kasus kedua anggota AL Samoa berbeda dari delapan penumpang Samoa, yang juga merupakan warga negara, tetapi malah dikembalikan ke atas pesawat untuk diterbangkan ke Fiji? Seluruh dunia tahu bahwa pusat virus corona ada di Wuhan, Tiongkok, dan ada juga beberapa kasus yang dikonfirmasikan di Singapura.

Keputusan pihak berwenang pada Minggu malam untuk menolak delapan orang Samoa dan mengirim mereka kembali ke Fiji itu mengherankan, serta menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah yang berdaulat kepada warga negaranya sendiri.

Dengan naiknya angka kematian akibat virus corona melewati 1.000 jiwa dan infeksi melambung menjadi lebih dari 40.000 kasus secara global, pemerintah-pemerintah di seluruh dunia telah memperketat peraturan di pelabuhan masuk mereka.

Pemerintah-pemerintah dalam dua minggu terakhir telah mengatur penyewaan pesawat terbang untuk mulai mengevakuasi warganya dari Wuhan dan Tiongkok. Sejumlah warga Samoa, terutama pelajar, juga menjadi bagian dari upaya evakuasi yang didanai oleh pemerintah Selandia Baru dan sekarang sedang dikarantina di luar Auckland.

Dan di masa-masa krisis ini, tidak satu pun dari pemerintah-pemerintah ini yang memalingkan warganya di pelabuhan masuk, dan mengirim mereka ke negara tetangga untuk menjadi tanggung jawab negara tetangganya.

Sayangnya, Pemerintah Samoa telah melakukan hal itu, dan melepaskan tanggung jawab atas kesejahteraan warga negaranya kepada sahabat dan tetangga kita di Fiji.

Surat kabar setempat di Suva, Fiji Sun menerbitkan editorial baru-baru ini yang mengecam keputusan Pemerintah Samoa, ketika Samoa mengirimkan delapan warganya kembali ke Nadi pada Minggu malam, karena kekhawatiran akan virus corona.

“Tindakan itu berarti mereka telah melepaskan tanggung jawabnya dan memindahkan tugasnya ke Pemerintah Fiji untuk memeriksa warga negaranya,” kata editorial surat kabar itu. “Ini tidak bisa diterima dan sama dengan pelalaian tugas oleh sebuah negara berdaulat. Mengapa (Samoa) tidak bisa mendirikan fasilitas karantina sendiri untuk memeriksa apakah warganya dan orang lain terkena virus corona?”

Surat kabar itu ada benarnya tentang kewajiban pemerintah kita untuk mengambil tanggung jawab menjaga kesejahteraan rakyatnya. Mereka adalah bagian dari keluarga kita.

Dan sementara kita tahu bahwa pemerintah telah mengeluarkan pernyataan yang menegaskan, bahwa pemerintah membiayai semua pengeluaran medis delapan warganya selama mereka dikarantina di Nadi, hal ini lalu menimbulkan pertanyaan apakah ini adalah pengeluaran yang tidak diperlukan dan harus dibayar oleh pembayar pajak.

Ketakkonsistenan dalam kebijakan Pemerintah, yang sebelumnya sudah menetapkan Rumah Sakit Distrik Faleolo sebagai tempat karantina untuk semua dugaan kasus virus corona, juga terbengkalai akibat keputusan untuk ‘mendeportasi’ warga negaranya sendiri.

Mari kita lakukan hal yang logis dan membawa pulang delapan orang Samoa ke Nadi, untuk menjalani karantina di Rumah Sakit Distrik Faleolo. Mereka adalah warga negara Samoa dan memiliki hak yang sama seperti orang lainnya. (Samoa Observer)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top