HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2020

Pemprov Papua perlu batasi penduduk dari luar

Sekretaris Suku Besar Yerisiam Gua, Robertino Hanebora – Jubi/Titus Ruban.

 

Nabire, Jubi – Diperkirakan, pasca lebaran dan hari raya lainnya, penduduk pendatang (non OAP) dari luar Papua bisa mencapai angka ribuan.

Kedatangan mereka, dinilai tak terkontrol oleh pemerintah di tiap willayah di tanah Papua.

“Ini berakibat pada penambahan jumlah orang yang membludak di tanah Papua. Tidak dapat dipungkiri kedatangan mereka oleh saudara-saudari mereka yang sudah lebih dulu dan lama di Papua, dengan dalih kemanusian untuk membantu mereka dalam pemenuhan kebutuhan,” ujar Sekretaris Suku Besar Yerisiam Gua, Robertino Hanebora di Nabire, Jumat (14/06/2019).

memang menurutnya, di Papua sudah lama berhubungan dengan saudara-saudari yang berasal dari non Papua. Bahkan, banyak di antara mereka yang lahir dan dibesarkan di Papua. Juga terjadi kawin silang.

Mereka sudah menganggap Papua adalah bagian yang tak terpisahkan dari mereka. Dan, ada sebagian yang beranggapan bahwa Papua adalah tanah tumpah darah mereka.

“Kita tak mempersoalkan hal ini, ” katanya.

Loading...
;

Namun menurutnya, jika penduduk yang berasal dari luar Papua ini terus menerus membanjiri tanah Papua, maka dikhawatirkan banyak masalah yang akan terjadi. Sebagian dari masalah-masalah itu sudah dan sedang dialami Orang Asli Papua (OAP).

Misalnya kata dia, persaingan dalam mencari pekerjaan, persaingan dalam berusaha, perbedaan yang tajam antara yang kaya (umumnya pendatang) dan yang miskin (umumnya orang asli Papua), konflik sosial antara pendatang dan OAP, penguasaan tanah-tanah adat tapi juga lain sebagainya.

“Karena itu perlu pembatasan penduduk dari luar Papua,” katanya.

Pada masa Orde Baru, katanya, kedatangan penduduk dari luar Papua, diakibatkan oleh program transmigrasi oleh negara. Sekarang penduduk luar Papua, dengan bebas masuk dengan skala besar ke Papua, dan hal ini menurutnya sangat miris.

Sehingga, sebagai OAP sekaligus pimpinan Adat di Suku Besar Yerisiam Gua Nabire (Sekertarisa), meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Majelis Rakyat Papua, Gubernur Provinsi Papua, akademisi, dan berbagai pihak untuk segera mengambil sikap dengan membuat Perda terkait pembatasan penduduk dari luar Papua.

Tentu kata dia, Perda in iperlu mengedepankan asas kemanusiaan dan menjunjung tinggi HAM. Dalam waktu yang tidak begitu lama. Orang Papua hari ini mengalami kondisi yang tidak stabil dalam berbagai kesenjangan atas kebijakan-kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat Papua.

“Otsus menjadi malapetaka bagi OAP, yakni cita-cita luhurnya tidak mengakomodir kepentingan OAP. Sehingga kedatangan penduduk luar Papua, akan membuat posisi orang Papua semakin termarjinalkan, ” tuturnya.

Terpisah, Sekretaris Suku Wate Kampung Oyehe, Kurios B Duwiri menambahkan, tradisi mudik sangat berdampak karena akan muncul orang-orang baru dan bertambahnya penduduk di Tanah Papua.

Bahkan kata Duwiri, tidak menutup kemungkinan anak muncul orang – orang garis keras seperti organisasi yang identik dengan teroris, seperti kejadian di Keerom beberapa waktu lalu.

Selain itu menurut Duwiri, non OAP yang datang hanya untuk mencari kerja, sementara di Papua masih banyak tamatan sekolah dari Papua itu sendiri yang menganggur.

“Bahkan pemerintah sepertinya jarang memakai mereka yang tamatan sekolah di Papua. Baik itu OAP peranakan dan OAP asli dan non Papua yang sudah lama bermukim di sini. Mereka tersingkirkan dari lapangan pekerjaan, baik swasta maupun pemerintahan,” terangnya.(*)

Editor: Syam Terrajana

 

Baca juga artikel lainnya dari

Loading...
;

Berita terkait

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Ads

Terkini

Foto

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top