HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Pemuda Ekemanida dan Idakotu palang Kantor Lisdes Dogiyai, tuntut PLN realisasikan listrik

Ilustrasi - IST
Pemuda Ekemanida dan Idakotu palang Kantor Lisdes Dogiyai, tuntut PLN realisasikan listrik 1 i Papua
Ilustrasi – IST

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Moanemani, Jubi – Empat hari sudah listrik PLN di Dogiyai mati total. Sejak hari Minggu, 17 November 2019, pemuda kampung Ekemanida dan Idakotu, Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai melakukan pemalangan secara simbolis Kantor Listrik Desa (Lisdes) Dogiyai. Mesin pembangkit tenaga listrik untuk wilayah Dogiyai dimatikan.

Para pemuda kedua kampung itu – didukung masyarakat – telah habis kesabaran menanti masuknya instalasi listrik PLN ke kampung mereka. Padahal kedua kampung ini bukan kampung terpencil. Letaknya tak jauh dari Bandara dan pasar Moanemani serta jalan raya lintas Nabire-Paniai.

Pemuda Ekemanida dan Idakotu palang Kantor Lisdes Dogiyai, tuntut PLN realisasikan listrik 2 i Papua

Benyamin Tebai, pemuda setempat, mewakili Tim Peduli Pembangunan Ekemanida dan Idakotu, mengungkapkan kemarahan masyarakat atas ketidakjelasan PLN menanggapi tuntutan mereka yang sudah diajukan hampir tiga tahun lalu itu. Apalagi lokasi Kantor Lisdes dan mesin pembangkit listrik ada di wilayah mereka.

“Masalahnya setelah PLN berada di lokasi wilayah Ekemanida, sejak itu pula (listrik) Dogiyai menyala, tetapi (listrik) kami tidak menyala juga, jadi kami rasa kecewa,” ungkap Benyamin Tebai saat ditemui Jubi di Idakotu, Rabu (20/11/2019).

Menurut Tebai, sejak dua tahun lewat setelah program Indonesia dan Papua terang diterapkan, Tim Peduli sudah mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada pihak PLN agar kedua kampung ini dapat dialiri listrik.

“Sudah dua tahun masuk tiga tahun ini bulan Desember. Kami sudah sampaikan ke pihak PLN baik di sini (Dogiyai) maupun di Nabire. Termasuk ke Bupati juga. Selama 2,5 tahun ini kami tunggu-tunggu realisasi. Kami tunggu itu karena pihak PLN sudah pernah survei ke kampung-kampung ini dua kali sampai ke pelosok,” kata Tebai.

Loading...
;

Dia juga mengaku masyarakat sudah membantu mengumpulkan data pelanggan potensial di tempat itu.. “Syarat-syarat administrasi untuk laporan mereka ke pusat dan provinsi seperti jumlah KK semacam itu kami sudah bantu. Bahkan supaya mereka mempercepat, kami pernah tawarkan pelanggan juga, bahwa masyarakat dua kampung ini sudah siap beli meteran.”

Kampung Ekemanida dan Idakotu menurut Tebai sudah siap membeli meteran masing-masing 20 unit denhan harga 3,600,000 per meteran. “Sementara kita tahu mereka itu (PLN) untuk cari pelanggan saja susah. Jadi kami sudah bantu itu dengan meteran total sekitar 140 juta lebih,” ungkap Tebai.

Akhirnya, sampai bulan Agustus lalu pihak PLN tidak juga bergerak merealisasikan tuntutan masyarakat, Tim Peduli Pembangunan Ekaudide (Ekemanida dan Idakotu) kembali mengajukan surat, lalu sempat melakukan pertemuan dengan pihak PLN di Kantor Polsek Dogiyai.

“Waktu itu kebetulan pas manajer PLN Paniai, Dogiyai Deiyai, Pak Bero Prai, yang punya kewenangan ada, jadi bukan hanya petugas yang ada di sini. Kami bicara, lalu saya dan kepala kampung bersama Pak Bero ini turun ke Nabire bertemu Kepala Cabang PLN. Pada kesempatan itu kami ambil kesepakatan dan kasih peringatan kalau sampai dalam dua bulan ini pihak PLN tidak drop kabel, tiang seperti itu, maka tim peduli pembangunan dan masyarakat tanggal 17 November ini siap palang,” ujar Tebai.

Alasan pihak PLN selama ini menurut Tebai juga tidak jelas. “Wewenangnya ada di Kepala Cabang dan kepala-kepala bagian. Jadi di bawah (Nabire) itu mereka hanya bilang ‘kami ada proses’. Nah ini tidak bisa diterima juga karena mereka satu lembaga saja, kalau beberapa lembaga boleh jadi proses lama,” katanya dengan kesal.

Palang sampai menyala

Akhirnya, sejak 17 November lalu listrik di Kabupaten Dogiyai lumpuh. Walau tak terlihat pemalangan Kantor Lisdes secara fisik, tetapi mesin pembangkit tak berjalan dan lokasi dijaga masyarakat.

“Daripada kami disuruh tunggu tidak jelas, dorang punya mesin disini menyala terus, ya kami ambil tindakan, kami palang,” tegas Benyamin Tebai yang juga alumnus Umel Mandiri Jayapura itu.

“Target kami ini kan bagaimana agar Natal 2019 masuk 2020 ini listrik di dua kampung kami ini bisa terang. Bukan hanya respons atau tiang-tiang dipasang, tapi listrik harus menyala. Karena tunda-tunda ini tidak ada alasan, kecuali tidak ada tiang atau kabel dan harus bawa dari Surabaya, itu boleh. Tapi ini barang sudah ada di kantor di bawah di Nabire. Tinggal drop kontraktor mana yang drop, tinggal itu saja,” lanjut Tebai.

Di tempat yang sama, Piet Yobee, pemuda dari Idakotu menambahkan dirinya merasa heran atas lambat dan tidak jelasnya proses di pihak PLN. Padahal kampung mereka ada di areal kota Moanemani.

“Padahal kami hidup di areal kota. Sementara kampung lain yang jauh dari kota seperti Idakebo, Ugebutu saja sudah tembus penerangan bahkan sampai Mapia dan Wiyogei mereka sudah nikmati. Kenapa kami yang dekat kota ini belum juga nikmati. Jadi timbul perasaaan seperti ada diskriminasi dari persoalan listrik ini. Mereka mendiskriminasi kami, padahal kami hidup berdekatan dengan PLN (Kantor Lisdes),” kata Piet yang juga alumni salah satu perguruan tinggi di Semarang itu.

Lokasi Kantor Lisdes berada dekat wilayah Ekemanida. Bahkan lokasi tersebut sebelumnya dimiliki oleh warga setempat. Karena itu pemuda dan masyarakat setempat tak ragu mengambil tindakan pemalangan itu.

“Kalau mereka memaksa atau pihak tertentu paksa menyalakan mesin ini, saya sebagai intelektual di sini siap tanggung jawab. Bila perlu kami akan bakar mesin. Jadi kami tidak mau proses-proses lagi, bicara-bicara lagi. Kalau terjadi masalah kami tanggung jawab nanti,” kata Benyamin Tebai.

Tebai juga mengatakan bila sampai ada masalah atau ada pihak masyarakat Ekemanida dan Idakotu jatuh korban, itu adalah korban dari pembangunan. “Jadi itu pemerintah daerah dan pihak PLN tanggung jawab,” lanjutnya.

Kepada seluruh masyarakat Dogiyai, Benyamin Tebai, mewakili Tim Peduli Pembangunan Idakotu dan Ekemanida meminta pengertian dan pemakluman.

“Penerangan ini kan salah satu kebutuhan untuk sumber daya manusia dan pembangunan, jadi ini harus dinikmati oleh semua manusia. Nah selama ini kami belum nikmati sementara masyarakat Dogiyai lainnya sudah. Jadi harap dimaklumi. Kami bukan mau buat masalah, tapi pihak PLN yang jadi masalahnya. Intinya itu Ekemanida dan Idakotu menyala, maka seluruh Dogiyai menyala,” katanya.

Piet Yobee juga meminta pemerintah daerah segera merespons tuntutan masyarakat agar rasa keadilan sedikit terpenuhi. “Belum lagi persoalan aspal jalan. Bagaimana aspal kalau penerangan saja belum masuk. Keresahan kami itu selain listrik juga jalan yang belum diaspal. Jadi harap pemerintah segera respon ini,” tegasnya.

Kampung Idakotu dan Ekemanida yang terletak di areal Kota Moanemani itu memang terasa berbeda. Rumah-rumah yang tertata baik, hanya dipisahkan kebun-kebun luas atau kali, tidak terlalu berjauhan satu sama lain, menunjukkan warga yang hidup di sana cukup banyak.

Namun selain listrik yang belum masuk, jalan aspal pun berakhir tepat di pertigaan jalan masuk menuju kedua kampung itu. Jalan lebar berbatu menyambut orang-orang yang lewat dengan berjalan kaki maupun berkendaraan.

Entah kenapa wilayah ini enggan dilewati para tukang ojek , termasuk mobil-mobil angkutan sewaan. Mungkin jalan yang buruk dan tidak adanya penerangan listrik PLN menambah segan lalu lalang orang-orang yang tak kenal wilayah ini dengan baik.

Belum ada konfirmasi lebih jauh dari pihak PLN terkait hal ini. (*)

Editor: Syam Terrajana

 

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa