Penambangan bawah laut di PNG: ancaman bagi ekosistem laut dan budaya (Bagian 2)

Amos Lavaka meniup cangkang keong memanggil ikan hiu sebagai bagian dari ‘Shark calling’. - The Guardian/ Kalolaine Fainu

Papua No.1 News Portal | Jubi

Selain itu, Nautilus juga bersikeras dalam pandangannya bahwa “salah satu dari banyak keuntungan penambangan bawah laut adalah tidak ada pemilik tanah atau masyarakat lokal yang tinggal di lokasi itu.” Pihak itu juga menegaskan bahwa nilai-nilai sosial, budaya dan ekonomi dari lautan di PNG telah dipertimbangkan saat proyek itu dimulai, tetapi itu dianggap akan mengalami dampak yang sangat kecil atau tidak ada sama sekali di lokasi yang diusulkan, Solwara 1.

“Tidak ada orang-orang yang perlu dipindahkan,” kata mereka dalam sebuah pernyataan pada tahun 2016, “tidak ada dislokasi sosial sama sekali, dan tidak ada dampak sosial.”

Godfrey Jordan Abage, seorang aktivis dari Desa Kono di pantai barat Provinsi New Ireland, yang telah terlibat dalam peningkatan kesadaran publik dan kampanye menentang proyek Solwara 1, tidak setuju dengan pernyataan tadi.

“Secara spiritual, kita memiliki hubungan yang khusus ini,” ungkapnya. “Kami bangun di tepi pantai, kami mendengarkan suara ombak, kami bisa merasakan ombak itu, kami bisa merasakan kedamaian ketika kami sedang berada di bawah tekanan, kami duduk di bawah pohon, dan kami merasakan desiran angin sepoi-sepoi dan melihat lautan – itu adalah sesuatu yang benar-benar menghubungkan kami dengan spiritual kami.

“Kalian dapat mengamati secara langsung dari orang-orang muda yang diinisiasi untuk mengikuti tradisi ‘Shark calling’ ini berbeda dari yang lain, karena mereka paham akan nilai-nilai dari kearifan ‘Shark calling’ itu; mereka tidak boleh minum minuman alkohol, mengencani perempuan, kalian tidak boleh mencuri dari kebun orang di hutan-hutan, atau mencuri sesuatu yang dimiliki orang lain,” jekas Abage.

“Ikan hiu dapat merasakan kalian dan memahami kalian yang memanggilnya, jadi komunikasi antara kalian dan hiu itu sebenarnya adalah tentang bagaimana kalian menjalani kehidupan kalian.”

Masyarakat di Desa Kono telah menangkap hiu menggunakan tradisi mereka selama ribuan tahun lamanya, dan, menurut Abage, hal itu menciptakan sebauh ikatan yang spesial dalam budaya mereka, yang menyatukan masyarakat dengan laut.

Loading...
;

“Tetapi karena apa yang terjadi di sini sekarang – baik itu disebabkan oleh kebisingan di dalam laut atau suara sonar – itu dapat mengacaukan komunikasi dari makhluk hidup di bawah laut… sehingga membingungkan ikan, hiu, paus yang hidup di dalam laut, dan itu adalah rumah mereka, lingkungan mereka. Dengan adanya robot dan mesin di bawah laut, itu akan mengganggu dan mengacaukan komunikasi antar hewan laut.“Jika tradisi ‘Shark calling’ itu punah,” tambahnya, “kami mungkin hanya akan punya foto-foto sebagai sisa kenangan dan anak-anak kami di masa depan akan bertanya-tanya: apakah benar kami biasa menangkap hiu seperti ini? Apakah kakek-kakek kami bisa melakukan hal itu?”

Pada 2011, pemerintah PNG telah menginvestasikan sekitar 375 Kuta Kina (£ 80 Juta atau AU $150 Juta) untuk mendukung proyek itu, jumlah dana yang sangat besar untuk sebuah negara di mana pendapatan tahunan rata-ratanya adalah AS$2.386. Setelah Nautilus mengalami likuidasi, negara itu tinggal dengan utang yang diperkirakan, pada saat itu, setara dengan sepertiga dari anggaran kesehatan tahunan negara itu.

Meskipun Nautilus bangkrut sebelum perusahaan itu mulai melakukan ekstraksi mineral di permukaan laut, izin usaha tambang untuk proyek Solwara 1 belum dicabut hingga saat ini dan izin eksplorasinya – yang dapat diperbarui setiap dua tahun – masih juga dipegang oleh Nautilus Minerals Niugini, anak perusahaan Deep Sea Mining Finance (DSMF), sebuah kelompok usaha dengan kantor pusat di Isle of Man.

Ketika diminta memberikan komentar, seorang perwakilan dari DSMF mengatakan bahwa “Kontribusi dan manfaat sosial yang sangat signifikan, baik masa lalu dan masa depan proyek ini, semuanya sudah ada dalam domain publik dan kami mendorong tim kalian untuk mempelajari dokumen-dokumen ini agar bisa mendapatkan gambaran yang penuh tentang proyek tersebut.”

Mereka menambahkan bahwa: “Restrukturisasi kepemilikan Nautilus dan proyek Solwara 1 yang adil dan sesuai dengan peraturan juga dilakukan sesuai dengan prosedur operasional standar yang ditetapkan oleh hukum Companies’ Creditors Arrangement Act (CCAA), yang dapat diakses oleh publik oleh publik dan transparan di Kanada, dengan panduan dari PricewaterhouseCoopers (PWC).”

Banyak orang di PNG yang takut karena proyek tersebut masih dapat diperpanjang. DSMF menggambarkan proyek Solwara 1 di situs webnya sebagai “deposit bawah laut pertama dan satu-satunya di dunia dengan izin pertambangan dan lingkungan yang sepenuhnya disetujui”.

Pada Juli 2020, Alliance of Solwara Warriors – sebuah koalisi beranggotakan komunitas-komunitas di sekitar Laut Bismarck dan Solomon, mendesak agar penambangan bawah laut segera dilarang. Aliansi itu mengumpulkan ribuan keluhan dan penolakan dari masyarakat lokal, sekolah-sekolah, dan gereja-gereja setelah izin Solwara 1 diperbarui, tetapi Menteri Pertambangan PNG telah menekankan bahwa pemerintah tidak akan mencabut izin pertambangan Nautilus karena perusahaan itu tidak melanggar ketentuannya. (The Guardian)

Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari dua bagian.

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending

Terkini

JUBI TV

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top