Follow our telegram news chanel

Previous
Next
Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Penanganan covid-19 di Papua kacau balau

Infografis perkembangan pandemi Covid-19 di Papua hingga 29 April 2020. – Satgas Covid-19 Papua
Penanganan covid-19 di Papua kacau balau 1 i Papua
Infografis perkembangan pandemi Covid-19 di Papua hingga 29 April 2020. – Satgas Covid-19 Papua

Oleh: Benny Mawel

Sejak Pemerintah Provinsi Papua mengumumkan kasus covid-19 pertama di Merauke, kita mengikuti kebijakan pemerintah daerah dan rakyat, elite politik dan lembaga pemerintah untuk mengatasinya.

Pemprov Papua mengeluarkan kebijakan untuk menutup akses penumpang ke Papua melalui darat dan laut. Elite politik hingga organisasi partai dan organisasi masyarakat melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi penyebaran virus corona.

Kebijakan dan usaha rakyat mengikutinya sangat kacau balau dan kita bisa menduga ada waktunya kita akan menghadapi lonjakan kasus, bahkan jauh dari kemampuan kita untuk mengatasinya.

Mengapa penanganan kacau balau? Apa yang salah dengan dengan kebijakan?

Saya mencatat sejumlah hal sebagai indikator, mungkin bukan kebijakan tetapi kerja sama kita yang kacau balau.

Pertama, pemerintah daerah tidak kompak menggunakan kewenangannya untuk mengeluarkan kebijakan bersama.

Loading...
;

Pemerintah provinsi tidak sejalan dengan pemerintah kabupaten/kota. Satu kabupaten dengan kabupaten lainnya tidak bekerja sama.

Ketika Pemerintah Provinsi Papua menutup penerbangan penumpang, Pemerintah Kabupaten Timika malah membuka akses pesawat penumpang.

Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Keerom menyurati TNI Angkatan Udara untuk mengangkut pegawainya yang kemudian diketahui tenaga medisnya;

Kedua, kebijakan dicampur-adukkan dengan kepentingan politik dan ekonomi lebih daripada kemanusiaan. Kemanusiaan menjadi sarana politik dan ekonomi kaum elite.

Elite memanfaatkan wabah untuk pencitraan politik dan program kerja lembaga. Mereka membawa sembako atas nama organisasi dan jabatan politik disertai dengan publikasi yang kuat di media sosial hingga pemberitaan;

Ketiga, kebijakan pemerintah daerah tidak 100 persen mendapat dukungan dari institusi lainnya. TNI/Polri, pebisnis dan rakyat Papua dari kota hingga kampung tidak mendukung pemerintah daerah.

Polres Jayawijaya memberikan bantuan kepada mantan narapidana politik, Linus Hiluka. Apakah hanya dia yang perlu bantuan?

Dua kasus pesawat TNI Angkatan Udara membawa penumpang. pesawat Hercules dua kali kedapatan membawa penumpang transit Timika, Wamena dan Jayapura. Satu Hercules membawa satu penumpang ke Merauke dan dinyatakan positif covid-19.

Pedangan tidak taat kepada kebijakan pemerintah. Lebih dari lima mobil kedapatan masuk ke Yalimo kemudian ke Wamena dan Tolikara melalui jalan darat dari Jayapura. Warga kota masih jalan-jalan dan berkumpul di tempat keramaian, tanpa jaga jarak dan menggunakan masker. Sekalipun pakai masker, tidak jaga jarak, paling dekat 1 meter;

Keempat, tidak ada kerja sama pemerintah daerah, agama dan adat. Pemerintah tidak melibatkan otoritas adat untuk melindungi masyarakat adat. Kerja sama yang ini paling penting, tetapi kita abaikan.

Dewan Adat Papua dan gereja-gereja di Papua bergerak terpisah dengan pemerintah. Masih ada gereja yang kumpul-kumpul untuk beribadah pada hari Minggu;

Kelima, tidak ada transparansi data, jejak kasus secara detail dan menyeluruh sebagai panduan perlindungan di ruang publik.

Karenanya, ruang publik di daerah hijau maupun merah sama ramainya tanpa mengikuti anjuran pihak kesehatan. Orang masih lalu-lalang tanpa alat pelindung diri, tanpa jarak dan bersentuhan badan;

Keenam, tidak ada kebijakan melakukan pemeriksaan massal kepada warga yang berisiko. Warga di wilayah-wilayah yang salah satu atau lebih warganya yang positif corona bergerak biasa.

Kita masih melihat di wilayah-wilayah itu sebagai hal yang biasa saja. Ini membuat penyebaran virus corona tidak dapat diprediksi.

Kalau situasi ini berlangsung, kita bisa membayangkan perkembangan virus ini ke depan. Kita bisa menduga bisa menghadapi tiga poin ini.

Pertama, kita menghadapi lonjakan kasus. Lonjakan kasus sudah terbukti di Timika.

Lonjakan kasus di Timika selain (akibat) kebijakan pemerintah, dari 300 orang yang menjalani rapid test, 145 dinyatakan positif. Kita tunggu hasil pemeriksaan akhir.

Itu baru Timika, bagaimana dengan Jayapura, Wamena, Nabire, Keerom?

Kedua, lonjakan kasus pasti di luar kemampuan kita untuk mengatasinya. Kalau terjadi lonjakan, yang paling pusing dan sibuk itu tenaga medis.

Mereka menangani penyebaran virus corona dengan keterbatasan sumber daya manusia dan fasilitas kesehatan diri dan pasien;

Ketiga, krisis pangan. Krisis kekurangan pasokan. Kalau terjadi lonjakan, pemerintah mau tidak mau harus melakukan lockdown kota dan wilayah.

Rakyat yang tidak disiapkan berkebun hari ini dengan bantuan makanan dari tokoh-tokoh, akan kesulitan memenuhi kebutuhan pangan.

Kita belum sampai pada lonjakan kasus, saat ini, kita sudah bagi-bagi makanan jadi hingga mentah. Besok pasokan menipis, harap kita semua gigit jari, karena presiden sudah mengumumkan bahwa pasokan sudah menipis.

Karena itu, kita mesti mencari jalan keluar berdasarkan masalah dan prediksi itu.

Pertama, perlu kerja sama. Kerja antarpemerintah, aparat keamanan, kelompok bisnis dan masyarakat. Kerja sama dilakukan untuk mengawal kebijakan dan anjuran kesehatan dengan sadar dan tahu;

Kedua, perlu keterbukaan dan kesetiaan rakyat dan elite untuk mengikuti anjuran pemerintah dan pihak kesehatan. Rakyat perlu sadar bahwa hanya rakyat sendirilah yang bisa melindungi diri dan sesamanya.

Elite perlu sadar bahwa rakyat tidak akan mati tanpa bantuan sembako. Lebih baik bantu alat kerja;

Ketiga, pemerintah tidak memanjangkan rakyat di awal kasus dengan bantuan. Pemerintah mesti mendidik rakyat untuk membangun kekuatan ekonomi sendiri. Para petani mesti dibantu memperluas area pertanian, perikanan dan peternakan.

Dengan itu, krisis atau tidak, ketahanan pangan pasti aman. Kita mampu menghadapi virus dengan kerja sama yang baik dan kesiapan pangan yang cukup. Akhirnya, kita member tahu kepada dunia bahwa kita mampu melawan virus. (*)

Penulis adalah jurnalis Jubi.co.id

Klik banner di atas untuk mengetahui isi pengumuman

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top