Follow our news chanel

Previous
Next

Pendiri National Papua Solidarity, Bernard Agapa tutup usia

Jenazah Bernard Agapa di ruang duka PGI Cikini, Jakarta. - Ist
Pendiri National Papua Solidarity, Bernard Agapa tutup usia 1 i Papua

    Jenazah Bernard Agapa disemayamkan di PGI Cikini, Jakarta. – Ist

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Bernard Paskalis Agapa, salah satu pendiri National Papua Solidarity (NAPAS) tutup usia, di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta, pada Sabtu (23/11/2019) dini hari.

Elias Petege, salah satu rekan mendiang Agapa menceritakan, pada Jumat malam (22/11/2019), sejumlah aktivis melakukan pertemuan di kantor LBH Jakarta, Jl. Pangeran Diponegoro, Menteng, Kota Jakarta Pusat, dilanjutkan makan pukul 03.00 WIB.

“Kemudian, Agapa bersama salah satu temannya pulang ke rumah. Dalam perjalanan itu dia (Agapa) mengaku sakit lambung, lalu pingsan. Teman yang bersamanya membawa ia ke Rumah Sakit St. Carolus. Setibanya di sana ia diinfus lalu diperiksa, kata pihak medis ada penyumbatan jantung. Lalu dikabarkan Agapa meninggal dunia,” ujar Petege, kepada Jubi, Sabtu (23/11/2019) melalui sambungan telepon.

Menurut Petege, mereka belum mendapat informasi resmi dari pihak RS tersebut, namun istri dari mendiang mengaku selama ini suaminya tidak pernah ada riwayat sakit lambung.

“Belum ada info dari petugas kesehatan, nanti kami infokan lagi,” katanya.

Loading...
;

Alex Agapa, salah satu saudara mendiang mengatakan, berhubung ruang jenazah di RS St. Carolus sedang direnovasi, maka mereka menyemayamkan jenazah di rumah duka di PGI Cikini.

“Nanti malam kami berangkatkan jenazah dari Jakarta menuju Nabire. Paling besok siang tiba di sana (Nabire),” kata Alex.

Bernard Paskalis Agapa adalah putra pertama dari Yustinus Agapa dan Mama Pigome, keduanya pengajar di SD YPPK Idakebo, Distrik Kamuu Utara, Kabupaten Dogiyai.

Mendiang menamatkan pendidikan SD YPPK Idakebo pada 2001, selanjutnya tamat di SMP YPPK St. Fransiskus Assis Eppouti di Moanemani pada 2004, dan masuk SMA Taruna Bakti 2004-2006, kemudian pada tahun terakhir pindah ke salah satu SMA di Jakarta dan tamat 2007.

Tahun 2008, Agapa berkuliah di Fakultas Ilmu Hukum, Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta dan tamat 2014. Ia sempat cuti selama dua tahun, karena aktif di organisasi di luar kampus.

Sejak 2009 sampai 2011, Agapa menjabat Ketua Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) Komite Kota Jakarta, dan melalui AMP ia aktif memperjuangkan hak-hak asasi rakyat Papua, serta merespons isu-isu aktual di Papua.

Pada 2013, ia bersama beberapa aktivis di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Jakarta mendirikan Nasional Papua Solidarity (NAPAS). Melalui NAPAS, ia juga ikut mengadvokasi isu-isu Papua terutama soal HAM dan pelanggaran HAM, terutama kasus pembungkaman ruang kebebasan berekspresi di Papua, kasus kematian ratusan orang di Kwor Tambrauw, mengadvokasi Tapol Papua, serta isu kekerasan terhadap perempuan Papua dan kekerasan negara di Tanah Papua.

Kemudian sejak 2014, ia bergabung dengan KontraS Jakarta dalam Komisi Pemantau yang fokus isu Tapol Papua dan HAM di Papua. Pada 2016, ia bergabung bersama Yayasan Pustaka, LSM yang fokus mengadvokasi isu-isu lingkungan, dan masyarakat adat Papua.

Elias Petege mengatakan, pada dua pekan lalu, ia bersama teman-temannya di Yayasan Pusaka mendampingi masyarakat adat Tanah Papua, terutama korban investasi sawit, lalu mendatangi beberapa lembaga negara dan kementerian.

“Di situ mereka menyampaikan aspirasi, memprotes dan juga meminta untuk meninjau kembali kebijakan pemerintah pusat yang merugikan hak-hak masyarakat adat di Boven Digoel, Merauke, Keerom, Mimika, Wondama, Tambrauw, dan Sorong Selatan,” kenang Petege. (*)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top