Peneliti: Ada indikasi ‘fly ash’ keluar cerobong, DLHP bentuk tim terpadu

Kondisi pabrik semen Maruni, Rabu (28/11/2019). Asap hitam tak lagi terlihat setelah warga mengadu tentang dugaan polusi udara. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).
Peneliti: Ada indikasi 'fly ash' keluar cerobong, DLHP bentuk tim terpadu 1 i Papua
Kondisi pabrik semen Maruni, Rabu (28/11/2019). Asap hitam tak lagi terlihat setelah warga mengadu tentang dugaan polusi udara. (Jubi/Hans Arnold Kapisa).

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Manokwari, Jubi – Pusat penelitian lingkungan hidup (Puslit LH) Universitas Papua Manokwari menanggapi fenomena asap  disertai abu hitam yang dikeluhkan warga sekitar lokasi pabrik semen Maruni.

Menurut Anton Sinery, kepala Puslit LH Unipa, asap hitam disertai partikel abu dapat diindikasikan sebagai ‘fly ash’ atau abu terbang sisa pembakaran batu bara.

“Kita hanya boleh berindikasi, tapi belum dapat kita pastikan apakah asap disertai abu hitam dimaksud ditimbulkan dari pembakaran pembangkit (boiler) pabrik semen  dengan bahan baku batu bara atau tidak,” ujarnya kepada Jubi di ruang kerjanya, Rabu (28/11/2019).

Dikatakan Sinery, seharusnya yang keluar melalui cerobong pabrik, hanya asap. Tapi kalau asap disertai abu maka ada kaitannya dengan teknis pengelolaan perangkat filter.

“Mekanisme perangkat untuk menangkap partikel halus biasanya bersifat magnetik. Jika partikel halus berupa abu turut keluar dengan asap melalui cerobong, maka ada indikasi  tidak berfungsinya alat perangkap (filtery magnet) yang digunakan untuk membatasi atau menangkap partikel abu,” ujarnya.

Hasil perangkap (partikel halus), akan ditimbun dalam periode tertentu untuk selanjutnya dikelola pihak pabrik.

Loading...
;

Diharapkan, lanjut Sinery, Dinas Lingkungan Hidup melakukan monitoring  terhadap operasional cerobong, karena batu bara biasanya digunakan untuk pembangkit boilernya sendiri,” ujarnya.

Terkait persoalan ‘fly ash’ kata Sinery,  sudah seharusnya menjadi bagian potensial dokumen  Amdal (analisis dampak lingkungan) pabrik tersebut.

“Salah satu yang harus diidentifikasi dalam Amdal tentang dampak potensial yaitu fly ash atau partikel abu hasil pembakaran batu bara sejak awal, katanya.

Semestinya, data monitoring bulanan maupun tahunan di dinas terkait, agar  bisa dilihat data terakhir.

“Tetapi kalau ada laporan semacam ini dari masyarakat, mestinya ini bersifat monitoring situasional. Jadi langsung ditindak lanjuti untuk memastikan,” ujarnya.

Diketahui,  ‘Fly ash’ atau abu terbang merupakan sisa dari hasil pembakaran batu bara pada pembangkit listrik.

Abu terbang mempunyai titik lebur sekitar 1300 derajat celcius dan mempunyai kerapatan massa, antara 2,0-2,5 g/cm kubik.

Abu terbang juga merupakan salah satu residu yang dihasilkan dalam pembakaran dan terdiri dari partikel-partikel halus.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Papua Barat, Abdularief Suaeri, mengatakan persoalan asap hitam sekitar pabrik semen sudah dilaporkan ke direktorat penegakan hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Dirjen Gakkum KLHK).

“Persoalan ini sudah sampai ke meja orang pusat. Jadi sama-sama kita akan bersikap,” katanya.

Dikatakan Abdularief, persoalan asap dan debu hitam sekitar pabrik semen merupakan laporan masyarakat yang harus segera  disikapi.

“Jadi mungkin minggu depan, tim terpadu akan turun, tim terpadu ini terdiri dari  Dirjen Gakkum KLHK Pusat, DLHP Provinsi dan Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Manokwari,” katanya.

Dia mengaku, dugaan sementara asap disertai abu hitam belum diketahui  karena harus diselidiki oleh tim terpadu yang disebutnya.

“Jadi prosesnya masih panjang, tapi karena perusahaan sudah berjalan, maka kita juga ikuti prosedur,” katanya.

Disinggung  soal dokumen amdal pabrik semen, Abdularief mengaku akan menelusuri kembali dokumen itu. Kata dia, dokumen Amdal akan jadi panduan utama sebelum tim terpadu melihat kondisi fisik di lapangan.

“Kita akan kroscek data dokumen Amdal dengan kondisi lapangan melalui pengambilan sampel air permukaan, udara dan air laut untuk dibuktikan di laboratorium barulah kita ambil tindakan selanjutnya. Sehingga dibutuhkan waktu sekitar dua sampai tiga bulan,” katanya. (*)

Editor: Edho Sinaga

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top