Follow our news chanel

Previous
Next

Peneliti sebut intoleransi masih menjadi ancaman Indonesia di tengah pandemi

papua, intoleransi, LIPI
ilustrasi intoleransi. Pixabay.com

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jakarta, Jubi – Intoleransi masih menjadi ancaman saat bangsa menghadapi pandemi Covid-19. Hal itu dibuktikan dengan sejumlah kekerasan dan perilaku menyakiti kelompok minoritas di sejumlah daerah.

“Sejak Maret 2020 di tengah corona ada sebagian bangsa terjangkiti virus lain, virus intoleransi,” kata peneliti bidang agama dan tradisi, Doktor Ahmad Najib Burhani MA, dalam orasi ilmiah Pengukuhan Profesor Riset di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan, Kamis, (27/8/2020).

Najib mencatat diskriminasi dan intoleransi tak berhenti di beberapa tempat. Tercatat pertengahan Maret 2020, massa yang menamakan diri Aliansi Benteng Aqidah menekan bupati Bogor agar melarang Ahmadiyah, sedangkan 6 April 2020 Pemkab Tasikmalaya lewat Bakorpakem berupaya menyegel masjid Al Aqsa milik Ahmadiyah di Singaparna.

“Tak hanya itu pada 20 Juli 2020 penyegelan Pasarean atau pemakaman Sunda Wiwitan di Kuningan oleh Satpol PP. Sedangkan 8 Agustus sekelompok laskar membubarkan doa di Solo karena terkait tradisi Syiah,” kata Najib menambahkan .

Ironisnya, kata Najib, pandemi Covid-19 digunakan sebagai alasan semakin membenci dan melakukan stigma buruk terhadap etnis Tionghoa, ada juga selebaran yang menyebut Syiah lebih berbahaya dari Covid-19.

“Itu bukti di antara kita masih tak suka mereka yang berbeda. Ada perbedaan dan kebhinekaan sebagai ancaman,” kata Najib menjelaskan.

Hal itu dinilai ironis saat persoalan diskriminasi menjadi penyakit di Indonesia dan dunia semakin tak berjarak dan demokrasi semakin membaik. Dalam penelitian “Agama Kultur intoleransi dan dilema minoritas di indonesia” Najib menyebut dilema hubungan kelompok mayoritas dan minortas yang identik dengan rasis dan sektarian eklusif fantasi di sebagian masyarakat.

Loading...
;

Secara umum minoritas menempati posisi tak menguntungkan di masyarakat dalam menghadapi persoalan sosial dan kebangsaan, perlindungan hukum dan stigma sosial.

“Nasib minoritas seperti simalaka, apa pun pilihanya acapkali dipandang salah,” kata Najib menjelaskan.

Ia menyebutkan minoritas Tionghoa di Indonesia saat mengalami dilema dalam pandangan politik. Saat mereka bergabung oposisi dianggap subversif, jika mendukung penguasa dicap oportunis, jika menjauhi politik mereka dianggap cari untung sendiri tak mau berkorban untuk bangsa.

“Repotnya untuk komunitas minoritas kini muncul sebutan aliran sesat, aliran sempalan kini dipanggil kelompok bermasalah, mereka didata dikaji dibina dan muncul istilah dibawa ke jalan yang benar,” katanya.(*)

Editor: Syam Terrajana

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top