Follow our news chanel

Penganiayaan anak di PNG paling tinggi di Pasifik

Anak-anak Suku Andai di Sepik Timur, PNG. - ABC News/AFP/Torsten Blackwood
Penganiayaan anak di PNG paling tinggi di Pasifik 1 i Papua
Anak-anak Suku Andai di Sepik Timur, PNG. – ABC News/AFP/Torsten Blackwood

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Port Moresby, Jubi – Papua Nugini mencatat jumlah kasus penganiayaan anak tertinggi di kawasan Pasifik dan Timor-Leste, dengan 2,8 juta anak yang diperkirakan menjadi korban kekerasan, menurut laporan Unseen dan Unsafe.

Pelaksana tugas Kepala bagian perumusan kebijakan organisasi nonpemerintah Save the Children dan penulis laporan Unseen and Unsafe, Kavitha Suthanthiraraj, mengatakan laporan itu mengungkapkan krisis perlindungan anak di Pasifik dan Timor-Leste dan dampak seumur hidup kepada anak-anak.

“Kekerasan terhadap anak-anak telah diabaikan dan jumlah pendanaan yang ada tidak memadai, begitu juga dengan upaya-upaya kebijakan untuk mengatasi epidemi ini,” katanya.

“Anak-anak yang menghadapi kekerasan dan pelecehan sering kali menderita cedera fisik berat, kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual, trauma mental, dan bahkan kematian.”

Masalah-masalah ini sekarang telah diketahui oleh pemerintah Australia, dan menjadi fokusnya dalam bekerja sama dengan pemerintah Pasifik dan memberikan dukungan serta bantuan, untuk mengakhiri kekerasan terhadap anak-anak.

Dari studi yang dilakukan oleh Save the Children, World Vision, Plan International, dan ChildFund, menemukan bahwa di PNG, lebih dari setengah kasus kekerasan seksual yang dirujuk ke klinik-klinik kesehatan di Port Moresby dan Tari adalah terhadap anak-anak. Penelitian yang sama juga menemukan bahwa 27% orang tua atau wali berkata mereka memukuli anak-anak mereka berulang kali sekeras-kerasnya. Kekerasan fisik terhadap remaja Perempuan mencapai 25-30% sementara kekerasan seksual terhadap remaja Perempuan antara 10-15%.

Loading...
;

Data baseline Save the Children dari programnya ‘Safe Communities, Safe Children’ di PNG menunjukkan bahwa, secara umum, anak laki-laki cenderung lebih mungkin menerima hukuman fisik daripada anak perempuan. Ini mungkin dikarenakan kasih anggapan masyarakat lokal bahwa anak laki-laki harus dibesarkan untuk menjadi ‘tangguh’.

Secara fisik, anak-anak juga lebih rentan terhadap cedera jangka pendek dan panjang daripada orang dewasa, karena tubuh mereka masih berkembang. Kekerasan dapat menyebabkan perkembangan otak terhambat yang lalu mempengaruhi konsentrasi, perkembangan berbahasa, serta kemampuan membaca dan menulis. (The National)


Editor: Kristianto Galuwo

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top