Pengawasan hutan taman nasional ini jajaki pengunaan kecerdasan buatan

Ilustrasi hutan - Jubi/IST

Papua No.1 News Portal

Singaraja, Jubi – Taman Nasional Bali Barat (TNBB) di Provinsi Bali sedang penjajakan proyek percontohan dalam program “Smart Forest Guardian” atau pengawasan hutan melalui teknologi kecerdasan buatan (AI). Program kerja sama antara perusahaan Huawei dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) itu bagian dari melek tekhnologi sektor lingkungan.

“Objek pertama yang dijajaki adalah TNBB. Dalam rangka kerja sama itulah TNBB dijajaki untuk mengetahui lokasi dan kondisi di TNBB,” kata Kepala TNBB, Agus Ngurah Kresna Kepakisan, Minggu, (25/10/2020).

Baca juga : Fasilitas PON Papua menghantam hutan lindung Teluk Youtefa

UU Omnibus Law hapus kewajiban 30 persen kawasan hutan

Ini denda bagi penebang pohon hutan adat tanpa izin

Ia mengatakan TNBB sudah dikunjungi oleh tim lintas kementerian yang terdiri atas perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Badan Syber dan Sandi Negara (BSSN), Badan Intelijen Negara (BIN), KLHK bersama tim teknis Huawei.

Loading...
;

“Setelah penjajakan lokasi, nanti pihak Huawei secara resmi menyusun kerja sama kepada Menteri KLHK, dan keputusan berada di tangan menteri,” kata Agus menambahkan.

Ia menjelaskan penjajakan tim lintas kementerian ke TNBB ini merupakan tidak lanjut rapat koordinasi yang dilakukan oleh Kemenko Marves bersama dengan Kemenkominfo, KLHK, BPPT, BIN, BSSN, serta Huawei pada Rapat Koordinasi Peningkatan Pengawasan Kawasan Hutan secara virtual pada 6 Oktober lalu.

TNBB menyambut baik kehadiran teknologi kecerdasan buatan yang akan dikembangkan bersama Huawei itu karena akan membantu dalam pengawasan hutan di kawasan TNBB.

“Apalagi TNBB memiliki dengan satwa endemik jalak Bali yang juga merupakan satwa dilindungi karena tergolong langka,” katanya.

Teknologi pengawasan dengan kecerdasan buatan itu, kata dia, adalah alat untuk mendeteksi suara di kawasan hutan. Teknologi itu mampu membedakan suara satwa, burung, dan satwa lainnya, termasuk juga mampu mendeteksi suara gergaji, suara senso, atau suara-suara lain yang mencurigakan.

“Jadi, selain untuk mengawasi hutan dari tindak kriminal ‘illegal logging’ juga sekaligus sebagai alat untuk memonitor keberadaan satwa di kawasan hutan,” kata Agus menjelaskan.

Dalam Rapat Koordinasi Peningkatan Pengawasan Kawasan Hutan secara virtual itu, Menko Marves Luhut B. Pandjaitan yang memimpin rakor mengatakan peningkatan kawasan hutan menjadi hal yang utama.

Pemanfaatan teknologi dapat langsung memantau perekaman data secara gambar maupun suara, untuk dapat membuat data yang lengkap mengenai aktivitas hutan kita di Indonesia. Termasuk pantauan aktivitas ilegal yang terjadi di hutan.

CEO Huawei Indonesia, Jacky Chen, mengatakan sebagai penyedia teknologi informasi dan komunikasi (TIK) lembaganya berkomitmen terus mendukung Indonesia dalam mengantisipasi tantangan dan peluang melalui pemanfaatan teknologi.

“Selama masa pandemi, kami juga telah mengontribusikan teknologi kecerdasan buatan dan ‘cloud’ bagi dunia kesehatan dan pendidikan,” kata Jacky. (*)

Editor : Edi Faisol

 

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top