Follow our news chanel

Previous
Next

Pengrajin noken butuh tempat layak untuk berjualan jelang PON XX

Noken Anggrek Papua
Foto ilustrasi, Sellina Takimai memperlihatkan noken berbahan serat anggrek. - Jubi/Ramah 
Pengrajin noken butuh tempat layak untuk berjualan jelang PON XX 1 i Papua
Sellina Takimai memperlihatkan noken berbahan serat anggrek – Jubi/Ramah

Selama ini para pengrajin dan penjual noken banyak berjualan di pinggir jalan dengan kendala hujan, apalagi memasuki Desember sering kali hujan turun.

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Jayapura, Jubi – Pengrajin noken atau tas khas rajutan di Kota Jayapura, membutuhkan tempat yang layak untuk berjualan saat perhelatan PON XX pada 2020.  Selama ini para pengrajin dan penjual noken banyak berjualan di pinggir jalan dengan kendala hujan, apalagi memasuki Desember sering kali hujan turun.

“Saya biasa jualan noken di depan Saga Abepura. Membuat noken merupakan kegiatan saya setiap hari. Saya sudah mulai membuat noken bermacam-macam corak untuk dijual sebagai suvenir PON 2020,” kata Hilaria Adii, seoarang pengrajin dan penjual noken di Jalan Protokol Abepura, Kelurahan Kota Baru, Distrik Abepura.

Baca juga :   Kalungkan Noken dalam menghadapi segala perkara di tanah Papua

Berharap noken bisa menggantikan kantong plastik

Mahasiswa di Kota Jayapura diimbau gunakan noken ke kampus

Loading...
;

Adii mmengaku saat hujan deras, tidak bisa jualan. “Jadi untuk PON 2020 saya dan mama-mama perajin noken membutuhkan tempat yang nyaman dan aman dari hujan dan bebas dari kena asap sepeda motor untuk berjualan selama kegiatan nasional itu berlangsung,” kata Adii menambahkan.

Ia mengaku noken yang mempunyai harga jual tinggi adalah noken yang terbuat dari kulit kayu dan kulit anggrek. Sedangkan yang paling murah yang terbuat dari benang nilon.

Tingginya harga itu, selain bahan baku juga memerlukan waktu pembuatan, hal itu dicontohkan dengan satu noken kulit kayu dibutuhkan waktu satu minggu untuk proses merajut.

“Biasanya kalau ada yang pesan, saya langsung membuatnya,” kata Adii menjelaskan.

Maria Mote, pengrajin dan penjual noken ditempat yang sama juga berharap pemerintah melalui dinas terkait memberikan perhatian kepada mereka.

“Dengan menyediakan tempat khusus berjualan noken, supaya kami yang berjualan noken dapat tertata,” kata Mote.

Ia berharap penempatan penjual noken lebih rapi, termasuk harga noken dapat diatur baik. “Tamu-tamu PON yang datang pasti senang dan bisa memberi kesan yang baik pada para tamu,” kata Mote berharap.

Peneliti senior dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengungkapkan bahwa tiap 4 Desember diperingati sebagai hari noken sebagai warisan Dunia UNESCO.

“Hari noken menjadi momen yang baik untuk mengingatkan kita semua, untuk selalu bersama-sama melestarikan noken, yaitu dengan mengenakan noken setiap hari. Noken merupakan solusi masalah di Papua,” kata Suroto.

Menurut dia, noken mampu mengurangi penggunaan kantung plastik. Apalagi dengan membeli noken, kesejahteraan para pengrajin noken akan semakin meningkat.

“Termasuk dengan menanam pohon yang kulit kayunya dijadikan bahan noken, seperti pohon genemo atau melinjo, lingkungan jadi hijau dan bebas dari bencana alam. Yang lebih penting adalah noken itu identitas budaya Papua,” katanya.

Suroto berharap museum noken di Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, dapat difungsikan sebagai destinasi wisata bagi para peserta PON. Caranya tak hanya memaerkan, namun melibatkan Mama-mama pengrajin noken juga dapat merajut di halaman museum sekalian menjual produk karyanya. “Jadi setelah melihat-lihat koleksi museum, para pengunjung bisa melihat langsung mama-mama merajut noken,” katanya. (*)

Editor : Edi Faisol

Baca Juga

Berita dari Pasifik

Instagram (jubicoid)

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Klik baner di atas untuk membaca pengumuman

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Scroll to Top