HARI
JAM
MENIT
DETIK

MENUJU PON PAPUA 2021

Pengungsian akibat perubahan iklim di Pasifik lebih sering dibanding karena konflik

Rumah Kelepi Saukitoga berada di daerah yang rawan atas naiknya permukaan air laut. – ABC News/ Josephine Prasad

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Erin Handley

Pria asal Fiji, Kelepi Saukitoga, berencana untuk pindah rumah. Ia tidak memiliki pilihan lain – ‘Samudra Pasifik’ telah naik sampai di depan pintu rumahnya.

Rumahnya, di Desa Narikoso di Pulau Ono di Fiji, adalah tempat dimana kakek neneknya bertumbuh.

Orang-orang di desa itu telah menanam hutan bakau dan mencoba membangun tembok laut dari bebatuan, tetapi pulau itu tetap tergenang akibat naiknya permukaan air laut.

Kediaman Saukitoga berada di daerah yang sangat rawan saat naiknya permukaan air laut, dan ini berbahaya bagi anak-anaknya, katanya kepada ABC, suara jeritan cucu-cucunya yang sedang bermain bisa terdengar di latar belakang.

“Ini membuat saya sedih, tapi tidak ada pilihan lain selain pindah,” katanya. “Kami harus pindah karena kami tidak hanya menjaga diri kami sendiri, tetapi kami peduli dengan anak-anak saya dan generasi masa depan.”

Loading...
;

Dua puluh juta orang mengungsi setiap tahun

Saukitoga adalah satu dari 20 juta orang yang mengungsi di dalam negeri setiap tahunnya karena perubahan iklim, menurut sebuah laporan Oxfam yang baru.

Saat ini, orang-orang tiga kali lebih mungkin untuk terpaksa pindah dari rumah mereka karena bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim daripada oleh konflik, menurut analisis badan amal itu, yang menemukan bahwa setiap dua detik seseorang harus mengungsi di dalam negeri akibat perubahan iklim.

Laporan berjudul Forced from Home – analisis Oxfam atas data dari pusat pemantauan pengungsian dalam negeri, Internal Displacement Monitoring Centre data – dirilis saat KTT perubahan iklim PBB, COP25, dimulai di Spanyol pada Senin lalu (2/12/2019).

Delapan puluh persen dari mereka yang harus mengungsi akibat perubahan iklim tinggal di Asia, dan kawasan Pasifik secara khusus berisiko tinggi, menurut laporan itu.

Baca juga  PM Tonga siapkan kandidat pengganti

“Negara-negara dan komunitas-komunitas termiskin di dunia, yang memiliki sedikit tanggung jawab dalam menghasilkan polusi karbon global, yang menghadapi risiko tertinggi pindah paksa akibat perubahan iklim,” kata laporan Oxfam.

Dikatakan cuaca ekstrem adalah faktor tunggal terbesar pengungsian dalam negeri di seluruh dunia, tetapi jumlah pengungsi dari konflik juga meningkat, dan disimpulkan ada “semakin banyak bukti bahwa krisis iklim semakin memperburuk ketakstabilan yang sudah terjadi di banyak wilayah … dan meningkatkan risiko munculnya konflik di masa depan”.

Di Tuvalu, sejumlah siklon tropis telah memaksa 4,5% dari populasinya untuk mengungsi, sementara di Fiji, pada 2016 Siklon Winston mempengaruhi 350.000 orang secara langsung, menghancurkan 24.000 rumah, pendanaan untuk penanggulangan bencana itu mencakup seperlima dari PDB-nya.

Sejak itu Fiji telah mengajukan UU Perubahan Iklim yang ambisius, dan telah mengalokasikan lebih dari 80 komunitas untuk pindah.

Desa Vunidogoloa, yang sekarang akan ditinggalkan oleh penduduknya, adalah salah satu contoh, menurut laporan Oxfam, karena “bahkan pemindahan yang direncanakan dengan hati-hati ke daerah yang tidak jauh dari tanah leluhurnya untuk sebuah komunitas kecil, dapat menciptakan tantangan yang cukup besar”.

Di tengah naiknya permukaan air laut, Kiribati juga membeli sepetak tanah di Fiji untuk memastikan keamanan pangan negara itu.

Pengurangan emisi gas rumah kaca yang mendesak diperlukan

“Oxfam mendesak agar ada upaya pengurangan emisi gas rumah kaca yang lebih mendesak dan ambisius untuk meminimalkan dampak krisis iklim,” kata kelompok nirlaba itu dalam rekomendasinya menjelang COP25.

Kantor Menteri Lingkungan Hidup Australia, Sussan Ley, berkata mengurangi emisi adalah masalah bagi Menteri Energi Angus Taylor.

“Australia telah mengambil tindakan untuk mengurangi emisi global dan Climate Solutions Package kami menetapkan sampai ton terakhir, bagaimana kami akan memenuhi target 2030 kami,” kata Taylor dalam sebuah pernyataan kepada ABC.

Baca juga  Produksi kopra Kepulauan Marshall melonjak

Kembalinya Australia ke negara-negara tetangganya di Pasifik, setelah bertahun-tahun melalaikan kawasan ini, dapat terancam rusak oleh penolakan pemerintahnya untuk mengakui ancaman utama di kawasan ini: perubahan iklim.

Dia mengatakan data baru yang dirilis pekan lalu menunjukkan emisi karbon Australia sekarang lebih rendah daripada ketika kubu koalisi mengambil alih pemerintah pada tahun 2013. Data terbaru itu menunjukkan hasil emisi terendah pada 2016.

“Pasifik adalah rumah bagi Australia dan kami juga berbagi tanggung jawab dan tantangan dengan kawasan ini – terutama dalam mengatasi dampak perubahan iklim,” katanya.

“Pemerintah mengakui tantangan utama yang disebabkan oleh perubahan iklim terhadap Pasifik, dan memberikan bantuan yang signifikan untuk membantu membangun ketahanan iklim dan bencana alam di kawasan ini.”

Australia telah dituduh menghambat upaya negara-negara kepulauan kecil yang ingin mendapatkan persetujuan seluruh Pasifik, saat mengeluarkan deklarasi mereka untuk mendesak upaya yang lebih kuat terhadap perubahan iklim di Forum Kepulauan Pasifik (PIF) tahun ini.

Topik naiknya permukaan air laut juga ditegaskan dalam program TV Q&A malam pekan lalu di Fiji, dimana mantan Perdana Menteri Tuvalu, Enele Sopoaga, berkata dia ‘terkejut’ oleh Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, yang katanya ‘mengungkapkan pandangannya yang menyangkal sepenuhnya fakta bahwa perubahan iklim sudah terjadi di Pasifik’.

Seorang juru bicara Morrison telah membantah klaim tersebut. Morrison telah menjabarkan bagaimana bantuan sebesar $ 500 juta akan dialihkan dari program bantuan yang sudah ada, untuk membantu membangun ketahanan Pasifik terhadap perubahan iklim dan bencana alam. (ABC News)

 

Editor: Kristianto Galuwo

Berita dari Pasifik

Loading...
;

Sign up for our Newsletter

Dapatkan update berita terbaru dari Tabloid Jubi.

Trending today

Foto

Terkini

Rekomendasi

Follow Us

Instagram (jubicoid)

Scroll to Top

Pace Mace, tinggal di rumah saja.
#jubi #stayathome #sajagako #kojagasa